Jembatan Ampera Hilang!

Kereta Api Rajabasa yang saya tumpangi sudah mendekat ke Palembang. Perlahan saya tempelkan wajah ke jendela. Di luar mulai gelap, senja sudah hampir tenggelam, tapi warna jingga-merah yang biasa saya lihat saat senja datang tak kelihatan. Hanya ada pekat. Asap.

FOTO: @OMNDUUT, 23 OKTOBER 2019

Palembang cukup sering saya lewati tapi tidak pernah saya singgahi dengan niat khusus seperti kali ini, untuk berjumpa teman-teman dan sedikit wisata ala turis. Melihat asap tebal begitu, terlintas di pikiran saya kalau rencana kedua rentan gagal. Duh.

Ternyata suara kecil itu terbukti. Boro-boro wisata, untuk pindah dari satu lokasi ke tempat lain saja rasanya sudah tak enak. Napas berat, udara bau sangit, dan mata jadi perih. Bayangkan jika ada orang di sekitarmu yang sedang membakar sampah dan angin meniupkan asapnya ke arahmu. Kurang lebih begitu rasanya. Bedanya kalau ada yang bakar sampah kan kita tinggal menghindar, nah ini tidak bisa karena satu kota kebagian getahnya.

Udara yang tak enak begini bikin saya jadi malas ke mana-mana. Teman, yang saya tumpangi rumahnya sepanjang di Palembang juga melarang saya ke luar rumah banyak-banyak. Mungkin dia sayang dan takut saya jadi sakit. Mungkin.

Hari ini, saya mengecek kualitas udara di Palembang lewat website BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Di sana terpampang nyata informasi: UDARA KABUR. 🙁

Pada 23 Oktober 2019 lalu, indeks standar pencemar udara (ISPU) di Palembang menunjukkan data BERBAHAYA! Indeks ini memiliki beberapa tingkatan. Dikatakan baik jika ada di angka 0-50, sedang di angka 51-100, dikatakan tidak sehat jika menginjak angka 101-199, lalu kemudian mendapat predikat sangat tidak sehat saat menyentuh angka 200-299. Indeks BERBAHAYA adalah nilai paling ujung, paling parah dari semuanya. Udara dikatakan berbahaya jika indeksnya di atas 300!

Udara begini, kata teman-teman, sudah berlangsung lebih satu bulan. Sekolah beberapa kali diliburkan karena kondisi yang terlalu parah. Tapi, mau sembunyi di manapun, tetap saja warga akan terpapar asap kan?

Dari berita di kumparan ini, saya dapat informasi kalau karhutla (kebakaran hutan dan lahan) masih terus terjadi di beberapa wilayah, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Kondisi angin yang mengarah ke Palembang membuat kabut asap kini kembali menyelimuti daerah kota.

Totalnya hingga kini ada 172 titik api yang terpantau di Sumsel, 97 titik di antaranya ada di wilayah OKI. Sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut dengan tingkat kedalaman hingga 7 meter. Jadi solusinya apa? Katanya sih sudah ada upaya pemadaman api lewat darat dan udara. Semoga upayanya berhasil mengurangi titik api dan daerah yang terdampak bisa kembali menatap langit yang ‘katanya sih’ warnanya biru. 😀

Berikut ini beberapa foto yang saya ambil saat berkeliaran di wilayah Palembang.

FOTO: KOMPASIANA – ARAKOO
TAMPAK ASAP DARI DALAM RUANGAN

Sore kemarin, ditemani Ara, saya berkunjung ke Benteng Kuto Besak. Benteng ini jadi salah satu tempat wajib kunjung di Palembang. Dari Benteng kita bisa melihat pemandangan Sungai Musi, Jembatan Ampera, dan tulisan PALEMBANG yang dipasang besar-besar di pinggir sungai. Pemandangan di sini, menurut Ara, harusnya spektakuler. Sayangnya asap menutupi semuanya. 🙁

Saya cuma sebentar saja di sana. Asap bikin mata lebih perih dari biasanya, jadi tidak betah ada di luar ruangan. Sungguh baru beberapa hari di sini, tapi sakitnya ampun-ampunan. Bagaimana pula rasanya jadi penduduk setempat yang mau tidak mau harus menantang asap tiap kali beraktivitas ya?

Duh saya beneran sedih. Semoga lekas pulih Palembang. Nanti, jika diberi umur, saya mau mampir lagi waktu kotanya sudah kembali terang. 🙂

/salam jalan-jalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *