Apakah Ada Kesempatan?

Jika ada pertanyaan pada kolom isian ujian negara tentang tempat terfavorit di dunia, aku akan mengisikannya dengan kamu. Namamu.
Kamu, tempat favoritku.

Membayangkanmu saja, tubuh mengembang maksimal. Siap meledak. Hancur. Tiap kepingan tubuh yang bercerai kemudian meneriakkan kalimat yang sama. “Aku menginginkanmu!”

Tuan, kasihanilah. Katakan, dengan cara bagaimana aku punya kesempatan untuk menghamba. Rasa ini sudah membuat gila. Raga luluh lantak, tulang tak mau tegak.

Jika rasa tidak nyata, harusnya dia pergi bertahun lalu. Tapi rasa tak mau hilang. Ia berkumpul, semakin tebal. Pada saat tertentu bahkan membuat napas tersengal.

Dengan ini kuumumkan, merindumu adalah pekerjaan utama untukku. Kugambar wajahmu dalam benak. Kubayangkan senyummu. Kureka ulang suaramu.

Setelah lelah berkubang rindu sepanjang hari. Malam waktunya aku digaji. Bayarannya adalah memilikimu. Tanpa interupsi. Dalam mimpi.

 

/ode rindu nomor 215

 

 

4 thoughts on “Apakah Ada Kesempatan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *