Atur Uang Ala Freelancer

Seperti melihat kebun tetangga, begitulah sebagian orang menilai gaya hidup freelancer (pekerja lepas). Kelihatannya memang enak ya, numpang kerja dari kafe ke kafe, ga perlu bangun pagi setiap hari, ga perlu kena macet, bisa bekerja sesuka hati, juga terhindar dari politik kantor.

Numpang kerja di working space gratisan

Ya, sebagian besar “kelihatannya” di atas itu memang nyata adanya. Yang paling membahagiakan buat saya adalah ga perlu menerjang macet setiap hari. Ada kalanya saya memang harus berangkat pagi-pagi mengikuti jam kantor, ikut tenggelam dalam ratusan macam jenis parfum di gerbong KRL. Untungnya yang begitu terjadinya tak sering-sering.

Saya kurang begitu suka dandan juga,Β  bukan ga suka sama sekali ya. Saya mau dandan, tapi ga banyak-banyak. Bedak, lipstik, dan sesekali blush on sudah cukup. Kalau nongkrong di kafe atau coworking space saya paling-paling pakai bedak tipis supaya ga kelihatan terlalu butek dan berminyak. Sisanya ya polos saja.

Sekarang menuju bagian yang saya kurang suka: penghasilan! Kerjaan pertama saya di tahun 2006 itu kantoran, penghasilannya memang ga banyak, cuma Rp1.500K saja, tapi cukup banget buat bayar kontrakan, makan, karokean, jajan, dan sedikit nabung. Jago banget saya ngatur duit, ya. *tepuk bangga dada sendiri*

Makin ke sini penghasilan memang naik, tapi inflasi dan kebutuhan lain-lain juga naik. Bisa dibilang hidup berjalan cukup stabil. Lalu, pada 2011, saya terpaksa berhenti kerja. Iya, saya freelancer karena keadaan. Ga tega ninggalin bayi di rumah, lalu memutuskan untuk cari pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa perlu ke kantor setiap hari.

Numpang kerja di coworking space berbayar. Sesekali kerja di luar rumah supaya tetap fresh dan waras.

Agak-agak minder sih, hehehe, di saat freelancer yang lain berhenti kerja karena: tidak cocok kerja kantoran, ingin mengembangkan diri, perjalanan menemukan jati diri, sebagai wujud eksistensi sebagai manusia, dll. Saya jadi freelancer karena beranak. Okesip!

Jadi freelancer adalah keputusan yang tidak saya sesali sama sekali, bahkan hingga saat ini, tujuh tahun kemudian. Awal-awal memang agak gelagapan mengatur alur uang masuk dan ke luar. Tapi, seiring berjalannya waktu, tambah teman, semakin banyak pengalaman, dan kerja keras sampai kram, semua mulai baik-baik saja. Semoga seterusnya begitu. Aminn..

Pernah punya uang cukup banyak, sering pas-pasan, tapi belum pernah sampai kekurangan sampai ga bisa makan dan bayar uang sekolah anak, begini tips saya mengatur uang sejak jadi freelancer:

Catat Pengeluaran

Saya tidak mencatat sampai dengan satuan terkecil, tapi lebih ke pengeluaran harian. Misal untuk kebutuhan rumah saya menghabiskan Rp100.000/hari, maka saya akan menghitung Rp3.000.000 untuk pengeluaran rumah bulanan, ditambah dengan pengeluaran rutin lain seperti cicilan rumah, uang sekolah anak, gaji asisten rumah tangga, biaya listrik, tagihan hiburan (TV berlangganan, internet), biaya transportasi bulanan, dan pulsa.

Catat penghasilan

Penghasilan bulanan saya tidak tentu. Kadang menutup biaya bulanan rumah, kadang tidak. Berapapun penghasilannya, semua akan saya pos ke dalam satu rekening. Rekening itu sekaligus menjadi tempat saya mencatat alur uang.

Kalau penghasilan bulan ini melebihi kebutuhan bulanan, sisanya akan segera saya simpan buat menutup kebutuhan bulan depan. Tak ada yang menjamin saya punya pendapatan bulan depan toh, jadi penghasilannya harus diatur benar-benar supaya cukup.

Tetapkan prioritas

Kalau ditanya mau apa, ya rasanya saya mau semuanya. Haha, tapi tidak bisa begitu, jadi saya menetapkan prioritas belanja. Kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak jadi prioritas utama. Kalau ada uang, kebutuhan utama harus dibayar segera, kebutuhan lainnya bisa dilist sesuai dengan kepentingannya. Sekarang liburan pribadi juga masuk ke dalam prioritas, saya menyisihkan uang untuk menginap semalam/dua malam tiap bulan buat me time.

Jangan konsumtif

Untuk tips yang ini, saya sebenarnya juga belum jago-jago amat. Masih suka belanja barang karena “lucu” dan “ahh nanti juga kepake”. Padahal ya barangnya ga fungsional dan setelah sampai rumah saya ternyata ga butuh, kebanyakan jadi sampah. Tapi lumayanlah, kalau dipersentasikan, saya 70% cukup aman dari perilaku konsumtif.

Menabung dan investasi

Ini penting banget, lho! Saya menyiapkan dana darurat sebanyak 6 kali pengeluaran bulanan. Dana ini saya biarkan tersimpan, tak boleh tersentuh sampai benar-benar dibutuhkan. Dana ini juga yang jadi penyelamat waktu masa-masa sepi kerjaan. Omong-omong, dana darurat buat keluarga dengan satu anak itu sebenarnya 9 kali pengeluaran bulanan. πŸ˜€

Untuk investasi saya pilih reksadana.Β Sebenarnya saya cukup tertarik dengan investasi saham dan sudah pernah belajar beberapa kali. Tapi saya masih agak ragu dan takut berspekulasi. Jadi investasinya saat ini masih reksadana saja. Oh iya, saya dulu sempat investasi di logam mulia juga. Tapi lalu karena beberapa hal, logamnya saya jual. πŸ™‚

Soal reksadana, sementara ini saya plot di salah satu bank swasta, investasinya model autodebet. Saya tertarik untuk menambah unit reksadana dan sudah mendaftar Reksa Dana Online.Β  Pendaftarannya sudah selesai, mudah banget. Sekarang tinggal menunggu aplikasinya diproses. Nanti kalau sudah disetujui saya mau coba investasi di situ, mau liat perkembangan modalnya akan seperti apa. πŸ™‚

Mendaftar asuransi

Sewaktu masih jadi pekerja kantoran, asuransi ini ga masalah. Semua sudah beres diurus kantor. Pas lepas dari kantor, baru deh kerasa keteteran. Biaya ke dokter itu bukan main, ya. Ke dokter spesialis aja, untuk per kunjungan biayanya + obat sudah sekitar Rp500.000. Mahal. Iya, kesehatan memang mahal.

Karena ketiadaan fasilitas asuransi itu, saya sekarang sering banget berdoa semoga diberi kesehatan, supaya ga perlu ke rumah sakit, supaya ga perlu sedih liat tagihan RS. Untuk jaga-jaga, sekarang saya pakai BPJS. Lumayan banget sih, kartunya sudah terpakai beberapa kali untuk cabut gigi susu anak yang goyang, dan buat tambal gigi saya yang bolong. Semoga ga perlu dipake buat yang lain-lain. Aminn..

BPJS memang membantu, tapi saya belakangan sering dengar cerita soal sulitnya cari ruang perawatan di rumah sakit kalau pakai kartu BPJS, dan sempat berpikir apa perlu tambah asuransi lain untuk rawat inap. Sempat cari-cari apa ya asuransi terbaik di IndonesiaΒ yang cocok buat saya. Maunya jangan mahal-mahal preminya, supaya ga keteteran bayarnya. Sekarang saya masih buka-buka portofolio asuransinya untuk mencocokkan kebutuhan dan kemampuan.

Kerja keras dan kerja cerdas

Tips terakhir dan yang paling penting, kerja keras dan kerja cerdas. Kadang ya rezekinya harus dengan kerja keras, begadang bermalam-malam, ya sudah dijalani saja dengan senang hati. Kalau kebetulan dapatnya kerja cerdas, kerja tak banyak tapi dapatnya banyak, boleh dirayakan dalam hati. Buat saya levelnya sama, hanya soal kebetulan yang mana yang mengetuk rumah hari itu.

Jadi, freelancer itu enak atau nggak? Selayaknya profesi lainnya, ada enak dan ada ga enaknya. Tinggal kitanya aja jalaninnya gimana. Kalau benar-benar ditekuni, coba atur penghasilan dan pengeluaran, plus jalaninnya senang, harusnya sih baik-baik saja.

Buat saya, terpenting adalah bersyukur dan jangan lupa merayakan hidup dengan apa yang dimiliki.

/salam freelance!

 

12 thoughts on “Atur Uang Ala Freelancer”

  1. Haha iya yang penting bersyukur. Dimana saja rasanya rumput tetangga nampaknya lebih hijau, tapi ketika disyukuri semuanya nampak indah dan sesuai dengan kebutuhan kiga.

  2. Hehee samaa kak Rere, tahun 2006 penghasilanku juga segitu 1,5 juta. Tapi entah kenapa ya cukup2 aja gitu sebulan. Dulu juga waktu belum nikah πŸ™‚
    Kalo sekarang gak cukup! karena godaan sosmed dan lifetylenya ini tinggi banget πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *