All posts by rere

Wisata Sejarah di Puri Klungkung, Bali

Kerajaan Klungkung Bali berhasil mencapai puncak kejayaan dalam bidang pemerintahan, adat dan seni budaya pada abad ke 14– 17 di bawah kekuasaan Dalem Waturenggong. Namun, pada 1908 kerajaan ini akhirnya menyerah pada intervensi Belanda.  Di pertempuran akhir, Raja Klungkung terbunuh. Pengikut dan istri-istri raja kemudian mengakhiri perang dengan cara puputan (perang hingga titik darah penghabisan).

Continue reading Wisata Sejarah di Puri Klungkung, Bali

Garuda Wisnu Kencana, Paket Lengkap Taman Budaya

Akhir pekan kemarin adalah pertama kalinya saya berkunjung ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Sudah beberapa kali ke Bali, kunjungan ke tempat ini selalu saya lewatkan. Alasannya karena toh patung Garuda Wisnu Kencana-nya belum selesai. Jadi, sebaiknya kunjungan ditunda menunggu patung setinggi 121 meter ini berdiri tegak.

Taman Lotus Garuda Wisnu Kencana

Continue reading Garuda Wisnu Kencana, Paket Lengkap Taman Budaya

Gaya Hidup Sedentari dan Risiko yang Membayangi

Pernah dengar soal gaya hidup sedentari?
Namanya cakep ya. Saya kira dulu tuh sedentari itu gaya hidupnya anak-anak yang sekolahnya di bidang seni tari. Sedentari, seni tari, sendratari. Mirip-mirip, kan? Tapi ternyata saya salah. Gaya hidup sedentari yang belum gitu umum kita dengar itu, ternyata udah bertahun-tahun kita jalani. Sadar atau ga sadar, kita pelakunya!

makan di depan laptop

Continue reading Gaya Hidup Sedentari dan Risiko yang Membayangi

Jakarta dan Hunian Idaman

Waktu akan menulis ini, saya membawa benak mundur 11 tahun ke belakang. Pertama kali menjejak Jakarta modal satu ransel isi baju dan ijazah, berbekal surat panggilan tes kerja. Mungkin kalau waktu itu saya sudah sadar selfie, saya jadi punya kenang-kenangan satu fase hidup. Perempuan, 22 tahun, baru lulus kuliah, menanggung tas di punggung, kucel, layu, kelelahan, tapi sinar matanya penuh harapan.

Jakarta!

ilustrasi foto. #red

Continue reading Jakarta dan Hunian Idaman

Mati Berulang Kali

Selamat pagi lelaki kesayangan yang jauh dari jangkauan.
Apa kabarmu hari ini?
Aku memikirkanmu nyaris bersamaan dengan terbukanya mata
Saat pagi tiba dan raga tak lagi butuh jeda.
Sebenarnya tak persis seperti itu
Karena di alam mimpi, apapun, dan bagaimanapun
Kau tetap ada, bersembunyi rapi, lalu sesekali muncul untuk mengganggu.
Bukan, bukan aku tak suka diganggu
Hanya saja berikan aku waktu, karena perih kemarin belum lagi pulih
Tangis kemarin belum lagi tunai. Continue reading Mati Berulang Kali