All posts by rere

Penipuan Kartu Diskon dari VISA/MASTERCARD

Siang ini saya ditelepon seorang Bapak dengan menggunakan nomor telkomsel, si Bapak menyebutkan nama saya dengan fasih. Saya jawab, Benar. Si bapak lantas mengonfirmasi apakah benar saya telah menerima kartu kredit dari CIMB Niaga. Saya jawab kembali dengan, Benar. Si bapak menanyakan apakah yang saya terima adalah kartu visa/mastercard, saya jawab Visa. “Oh, jadi kartu mastercard-nya belum datang ya, Bu?”

Si Bapak lantas bertanya limit kartu kredit yang saya terima, menanyakan apakah kartu sudah diaktifkan atau belum, dan kemudian berbicara panjaaang sekali tentang penawaran kartu tambahan dari VISA/Master Card.

Si Bapak kemudian bercerita, kartu itu diberikan hanya kepada nasabah terpilih saja, dari 1000 nama nasabah yang masuk hari ini, ada 100 nama yang ditelepon dan ditawarkan.

Penggunaan kartu ini, kata dia melanjutkan, sangat mudah. Saat berbelanja, berikan kedua kartu kepada kasir, kartu kredit dan kartu diskon, maka pemilik kartu akan langsung mendapatkan diskon bervariasi mulai dari 30-50 persen.  Jika telah menerima kartu, saya diminta membaca buku panduan yang tertera dan jika masih kurang jelas saya bisa menghubungi nomor telepon yang tertera di belakang kartu.

Kartu yang dikirimkan akan disisipi 2 lembar voucher menginap pada hotel di seluruh Indonesia, pemegang voucher tinggal menelepon hotel untuk memesan kamar dua hari sebelumnya. Jika ingin menambah jumlah hari di hotel, tinggal menggesek kartu kredit dan kartu diskon agar mendapatkan potongan biaya menginap.

Penjelasan si Bapak sangat panjang dan lebar, kemudian dia berujar, pemilik kartu akan dikenakan biaya Rp 2.350ribu untuk seumur hidup. Biaya tersebut tidak berupa cash/tunai, tetapi dibayarkan langsung oleh visa/master card dari potongan tiap pembelanjaan.

Ia mengilustrasikan begini : Kalau menggunakan kartu kredit, saya akan dikenai biaya PPN 10 persen dari total belanja. Misalnya saya belanja Rp 500ribu, total yang harus saya bayarkan adalah Rp 550ribu. Jika menggunakan kartu diskon secara bersamaan, saya tinggal membayar Rp 250ribu saja + PPN 50ribu, jadi total Rp 300ribu. Penjelasan ini diulang-ulang terus, sepertinya ingin memengaruhi psikologis ibu-ibu yang doyan diskonan.

Karena berurusan dengan uang, kuping saya langsung tegak. Saya tidak rela membayar, apalagi jutaan rupiah. Saya meminta si bapak menyebutkan web untuk mempelajari lebih dulu tentang kartu diskon tersebut, jawabannya : Semua tercetak dengan jelas (termasuk alamat web) pada buku panduan, jika ibu tidak berkenan kartu bisa dikembalikan ke alamat kami.

Saya berkali menolak dikirimkan, tetapi si bapak ngotot kalau kartu sudah dikirim per Senin kemarin, dan karena bentuknya adalah fasilitas, kartu tidak bisa ditolak. Tetapi kartu bisa dikembalikan, mmm makin banyak yang aneh, ya.

Segera setelah telepon ditutup, saya mencari informasi terkait kartu diskon itu. Jaman sekarang kan jaman internet ya..

Beginilah penampakan halaman pertama google dengan keyword : kartu diskon visa mastercard

Astaghfirullah, hampir saja.

Saya menelepon kembali nomor tersebut, tidak diangkat. Tak berapa lama, saya yang ditelepon kembali. Saya tegaskan. “Pak, tidak usah kirim kartunya ke rumah saya ya, saya tahu ini penipuan.” | “Ibu tahu dari mana ini penipuan, bla bla bla.” Kemudian saya tegaskan sambil menjerit, karena si bapak tidak berhenti bicara “Saya tidak mau kartunya dikirim ke rumah saya, terimakasih”.

Lalu telepon saya tutup.

Belakangan saya mengirimkan sms untuk menegaskan maksud saya,

 

Aduh, saya mau dituntut katanya. :p *masih mikir, kok customer service/call centre bisa balas sms sambil mengancam.

Teman semua, waspadalah. Penipuan bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Jangan sampai lengah.

Untuk diperhatikan :

1. Penelepon mengetahui nama lengkap, alamat lengkap, nomor handphone.
2. Penelepon mengetahui anda baru saja menerima kartu kredit. (Ini mereka dapat informasinya darimana, ya?)
3. Background-nya berisik
4. Cara bicaranya ceplas ceplos, tertawa terbahak, sok akrab

/salam waspada

Sanggul Jilbab Masuk Neraka

Teman saya baru saja mengirimkan tulisan ini pada saya, diambil dari Hadist Rasulullah SAW dan Hadist Riwayat Ahmad.

“Akan muncul dalam kalangan umatku di akhir zaman, kaum lelaki yang menunggang sambil duduk di atas pelana, lalu mereka turun di depan pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka (isteri mereka atau anak perempuan), berpakaian tetapi seperti bertelanjang (nipis dan ketat). Di atas kepala mereka pula (wanita) terdapat bonggolan (sanggul atau tocang) seperti bonggol unta yang lemah gemalai. Oleh itu laknatlah mereka semua. Sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita yang terlaknat ” – Hadis riwayat Ahmad, jil.2, ms. 223.

Rasulullah s.a.w bersabda:
“Dua golongan penghuni neraka yang mana aku sendiri belum pernah melihat keadaan mereka di dunia: golongan yang membawa cemeti seperti seekor lembu lalu menggunakannya untuk memukul manusia dan juga kaum wanita yang berpakaian seperti bertelanjang, menggoyangkan badan dan berlenggang-lenggok, kepala mereka ada suatu seperti bonggol di kepala unta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak akan memasuki syurga atau mencium baunya sedangkan bau syurga itu dapat dihidu dari jarak perjalanan begitu dan begini ” – Hadis riwayat Muslim.

Saya, entah kurang mengerti, entah tidak mau mengerti, jadinya tidak paham dengan dua hadist di atas. Sanggul pada jilbab, aka ciput tinggi, yang hanya serupa bongkahan kain itu, masa iya menghalangi seseorang masuk ke surga.
Tapi, untuk membantah dua hadist di atas, saya semestinya belajar banyak tentang Quran Hadist sih ya.

Ada yang pernah bilang, jangan mendebat apa yang dikatakan Al-Quran dan hadist sampai kamu bisa membuktikan sebaliknya. Caranya? Ya mengaji ke guru agama. Tentu saja hal yang satu itu, sampai sekarang belum saya lakukan, ada saja alasan saya, yang waktulah, yang belum bertemu guru yang tepatlah, yang bingung harus memulai dari manalah.

Saya, berpikir, Allah cinta keindahan. Sanggul jilbab (ciput tinggi) semacam gambar di atas akan kelihatan cantik apabila dipadankan dengan selendang yang sesuai. Wajah yang tadinya bulat akan terlihat lonjong. Pemakai ciput(selendang) akan lebih percaya diri.
Tidak semua orang cocok menggunakan ciput tinggi semacam itu (termasuk saya), tetapi bagi mereka yang cocok dan senang menggunakannya, saya rasa tidak adil surga dijauhkan dari mereka.

Sampai saat ini saya masih menganggap, baik tidaknya seseorang baiknya dinilai dari bagaimana ia memperlakukan sesama, berbicara tanpa menyakiti, bertindak melewati hak, bagaimana memperlakukan keluarga, bagaimana memperlakukan makhluk tuhan lainnya, dan bagaimana interaksinya dengan Tuhan. Iya, Tuhan yang memiliki berbagai nama itu.

/salam selendang

*gambar dikirim teman saya, entah dia ambil dari mana.

Lagu Bunuh Diri

Lagu bunuh diri sementinya dihentikan peredarannya. Si pembuat lagu tidak pernah memikirkan efek jangka panjangnya pada pendengar.
Diputar berulang, makin ingin bunuh diri, loncat ke sungai kemudian romantisku.

Tak tahu dia, mati ya mati saja. Mati demi cinta, sudah haknya romeo dan juliet. Jika mampu membuat kisah lebih tragis dari mereka, maka bolehlah namanya masuk sejarah.
Jika tidak, maka siap-siap, sudah mati masih dibodoh-bodohi.

Masih ingin bunuh diri? Coba mengaca sebentar, tanyakan pada diri, jujur.
Apa iya, kalau mati, dia yang terus dirundungi itu akan bersedih?
Haha, jangan harap.

Mereka yang sudah kawin, anak selusin, ditinggal mati, besoknya saja bisa kawin lagi
Lalu kamu, berharap si dia akan mengingatmu selamanya, menyesal telah menyakiti hati.
Gelap! Gelap!

Terlalu panjang harapmu kawan, sekali lagi berkacalah.
Tarik nafas, terima nasibmu.

Masih ingin bunuh diri?
Sudahlah, jangan menyusahkan orang.

/lagupatahhati

Derai Agustus

Derai agustus, sepi tanpa putus.
Dimana kamu Johanus, padamu kutitipkan sebagian nafasku.

Kecup basah, dekapan erat, bisikan lembut di telinga.
Aku mencintaimu, sungguh.

Lalat pun berdekapan, Johanus. Maka sudah sewajarnyalah kita bersama.
Tak lain tak bukan, selalu demikian, berpanjangan.

Gelap di luaran, Johanus. Pada saat demikian, betapa perlindunganmu kuharap.
Peluk ketat, ciuman hangat. Air mataku membasahi ubin, sudah.

Hujan turun satu-satu, gelisah terasa, berapa kali aku harus memanggilmu,
Hadirlah, Johanus. Hadir disini.
Ceritakan padaku, tentang segala yang membuatmu tertawa di luar sana.

Gelakmu indah, Johanus. Ingin aku menyumpal mulutmu lekas dengan bibirku.
Kutelan gelakmu, dan kuperdengarkan saat rindu mulai menguap lewat kepalaku.

Duhai Johanus, jika kelak kita berjumpa, ingatkan aku untuk mengambil sebagian nafas yang kutitipkan, dulu.
Sesak aku, tanpamu.

/untukmu johanus, derai agustus berlagu

Apa Jadinya Aku, Tanpa Kamu

Tak perlu berpikir, mari kita jalani, sampai nanti
Kelak, jika terlalu dipikir, kenyataan senyata-nyatanya belalang berwarna hijau akan menyeruak.
Perlukah adanya kita, jika sendiri pun dunia akan berjalan wajar saja.

Sekuat batu sungai, sehitam batu sungai, seramai ilalang, demikian duniaku.
Lalu, perlukah adanya kita?

Pikiran muncul hilang timbul, sesaat kuat sesaat selemah lidi sebatang.
Adanya kita apakah membuat pelangi tambah cantik gemerlapan.
Jutaan manusia bercinta, apa guna?

Sebentar kuat, sebentar lemah
Memandangi foto di tangan, air mata semerta merebak, jatuh lancar.

Gelisah, seiring lagu rindu menyeruak.
Apa jadinya aku, tanpa kamu?

Sekian tahun bergandeng bersamamu, kawan.
Apa jadinya aku, tanpa kamu?

Terima aku selamanya, kawan
Apa jadinya aku, tanpa kamu?

/

5 Tempat Menyenangkan di Ciputat dan Sekitarnya

Posting ini dibuat untuk ngerame-in #seminggusatu. Apa itu seminggu satu, bisa dibaca di sini ya 😀

Minggu ini, topik seminggu satunya adalah, tempat menyenangkan di kota anda. Kedengarannya gampang kan? Tapi, udah sejam lebih tulisannya gak rampung-rampung nih. Tetiba bingung gitu aja. hihi.

Padahal, sebagai penghuni tetap kampung Ciputat per 1 Januari 2009, saya harusnya sudah tidak perlu mikir lagi kalau hanya sekedar menulis tentang tempat, bukan?

Oke, jadi setelah mikir panjang, lebar, kali tinggi, berikut ini lima tempat yang saya anggap paling menyenangkan di kampung saya tercinta, Ciputat dan sekitarnya. Ihiyy..

1. Teras Kota

Teras kota adalah mal kecil yang berlokasi di Bumi Serpong Damai (BSD). Teras Kota ini terdiri dari 4 lantai, kebanyakan tenantnya adalah restoran. Apa sih yang saya suka dari teras kota? Teras kota itu lengkap, ada bioskop (blitz), toko buku (gramedia), warung makan, live entertainment, dan sering bikin bazaar diskonan di lantai dasarnya. Ada juga pusat kebugaran loh (sayangnya saya gak punya budget untuk ikut-ikutan ng-gaya di gym).. hihi.

Oh iya, ada juga playground buat anak-anak. Meski lokasinya di BSD, tiket playgroundnya masih terbeli lah buat saya yang warga ciputat.

2. Taman Kota BSD

BSD punya dua taman kota. Taman Kota 1, dan Taman Kota 2. Taman Kota 1 posisinya ada di pinggir jalan yang lumayan ramai, jadi kalau niat selingkuh disana, hati-hati, mungkin saja pasangan anda kebetulan lewat. Kalau Taman Kota 2, posisinya agak minggir sedikit. Jalanan menuju ke lokasi relatif sepi, plus banyak spot buat mojok berdua. Mau piknik seperti saya juga boleh.

Taman Kota 2, BSD

3. Pasar Ciputat

Pasar Ciputat ini biang macet! Pedagang, pembeli, angkot, bus kota, tumpah jadi satu. Macet kok menyenangkan, Re? hehe..

Jadi, buat ibu rumah tangga seperti saya, pasar ciputat itu udah kayak departemen store yang bukan main luasnya. Mau beli apa aja ada, semacam one stop shopping :D. Bumbu masak dasar sampai bumbu masak spesial, kaos dalam sampai abaya, setrikaan sampai AC, handphone, makanan, springbed, dll. Intinya sih, jangan lupa bawa dompet.

Sebenarnya, kondisi pasar ciputat dulu jauh lebih mengenaskan. Kalau hujan pasti banjir, macetnya sulit terurai. Sekarang sih, sudah dibangun flyover yang cukup panjang. Sayangnya, masih banyak warga pengguna pasar dan jalan yang abai aturan, macetnya jadi tak habis-habis.

foto dari http://poskota.co.id/

4. Pusat Jajanan di depan perumahan Gria Jakarta, Pamulang.

Entah kapan mulanya, jalan masuk perumahan Gria Jakarta Pamulang kalau malam berubah jadi pusat jajan yang super ramai. Jajanan favorit saya disana adalah martabak! Pedagang yang mangkal terbagi dua jenis, pedagang tenda dan pedagang gerobak. Jenis makanannya lengkap. Sate, Bakso, Bakmi, Dimsum, Siomay, Otak-Otak, Gorengan, Unggas-Unggasan, Makanan ala Jepang, Pizza, dll. Kalau sekeluarga punya selera makan yang beda-beda, bolehlah datang kemari. Harga makanannya sangat bersahabat.

5. RS Eka Hospital

Yang paling saya senangi dari RS ini adalah fasilitas UGD-nya. Saya pikir, gerak cepat perawat dan dokter saat menyambut pasien UGD itu hanya di film saja. hehe. Begitu turun dari kendaraan, satpam UGD lekas menyambut dan bertanya, “perlu bed atau kursi roda”. Sekian detik kemudian mas-mas perawat lekas membantu bapak satpam memapah/menggendong pasien menuju bed/kursi. Lalu dokter lantang bersuara “yang sakit lekas masukkan ke bed nomor sekian”.

Dokter datang, memeriksa, memberi pengurang rasa sakit (bila perlu), menghubungi dokter spesialis (bila perlu), melakukan rontgen (bila perlu), dll. Semuanya dilakukan tanpa menyinggung biaya lebih dulu. Segera setelah kondisi pasien stabil, pengantarnya baru diminta mengurus administrasi di ruang berbeda.

———

Apa yang menyenangkan buat saya, belum tentu menyenangkan buat anda. Jadi, daripada misuh-misuh tidak sepakat, boleh loh anda ikutan posting tempat favorit. Yuk.. yuk…

/salam senang selalu

Tulisan dari teman-teman blogger lainnya: Mas Zam, Mas Pitra, Mas Suprie, Mas Alya, dan Mas Karmin,

Guru Jaman Sekarang, Senjatanya Kasih Sayang

Guru – jika ingin disegani, dihormati, dan didengarkan perkataannya – menurut saya tidak perlu galak. Ada banyak cara lainnya, semisal: pintar, mau mendengarkan murid, atau pandai menjaga bicara. Guru yang pintar memaki atau memukul, sudah tidak jamannya lagi. Sudah lewat masanya penggaris jadi senjata untuk memukul, dan kapur tulis dilempar jauh sampai mengenai murid. Hukuman tidak membuat jera, tapi membawa luka.

Ada yang pernah punya pengalaman dipukul guru?

Saya pernah. Walaupun hanya di tangan dan tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi pengalaman tersebut membekas selamanya, di hati saya.  Memori yang jelek, ya.

Beda dengan guru jaman sekarang, berlomba mengukir prestasi. Bisa lewat event olimpiade, kontes seni daerah, ataupun olahraga.

Kali ini saya ingin cerita tentang adik saya, yang seorang guru pendidikan jasmani di SMU 6 Bandar Lampung. Sejak kecil adik saya ini, namanya Maya Octa Sari, memang punya bakat adu jotos. Laki-laki atau perempuan, jangan berani menganggu, siap saja ditunggu si adik pulang sekolah. Panggilan untuk orangtua dari sekolah datang bukan sekali atau dua kali, tetapi si adik selalu mampu berkelit. Perkelahian, kata dia, terjadi bukan karena dia yang memulai. Dia hanya berusaha membela diri, demikian si adik berargumen.

Titik balik kehidupan si adik bermula saat dia mengenal ekstrakurikuler taekwondo. Energi berlebih yang dia punya akhirnya bisa tersalurkan dengan kegiatan yang baik. Prestasi demi prestasi dia torehkan,  bahkan beberapa kali mewakili daerah Lampung untuk event olahraga nasional. Belakangan si adik mulai menekuni Olahraga Gulat. Olahraga ini pula yang membawanya menjadi utusan Lampung pada Pekan Olahraga Nasional di Kalimantan Timur,  2008 lalu. Saat masuk universitas, bakat dan prestasi si adik terbukti menyelamatkan. Dia diterima masuk kuliah jurusan ilmu pendidikan lewat program Penelusuran Minat Dan Bakat (PMDK).

Perjalanan panjang dilalui si adik sampai akhirnya dia diterima menjadi guru pegawai negeri sipil. Si adik lekas saja melihat potensi luar biasa di sekolah tempat dia mengajar, hanya saja potensi itu belum dikembangkan. Rasa gemas melingkupi batinnya. “Saya harus bisa bisa membuat perubahan,” begitu tekadnya.

Sebagai seorang guru muda, yang penuh bakat dan prestasi, wajar saja si adik begitu bersemangat. Menyimak ke belakang, dia adalah siswa yang aktif mengembangkan minat dan bakat, maka hal serupa tentu saja dia inginkan terjadi pada siswa yang ia ajar.

Si adik hampir selalu menggunakan lapangan saat jam mengajarnya dimulai. Berada di luar ruangan setelah seharian belajar di ruangan-dengan bangku tersusun rapi memanjang ke belakang-tentu saja membuat siswa kembali segar dan bersemangat kembali.

Perlahan tapi pasti, siswa yang menjadi tanggung jawabnya mulai menunjukkan prestasi. Piala dari olahraga futsal dan sepakbola sukses dibawa pulang dari beberapa kompetisi tingkat daerah. Bukan hanya disayang sekolah, dia juga disayang siswanya.

Bahkan, begitu disayangnya dia, siswa berani “melampaui” ruang mengajar. Tidak lagi hanya di sekolah, dia dikejar hingga ke rumah. Siswa jatuh sayang, mudah diajar, prestasi diraih. Kurang apa senangnya dia.

Pendidikan yang membebaskan dianut si adik. Siswa dibagi berdasarkan minatnya.  Tidak harus setiap siswa menyukai olahraga renang, dan tidak harus pula setiap siswa gemar permainan bola basket.

Pendidikan yang membahagiakan seperti itu, patutnya bisa berkembang. Guru yang mengajar dengan hati, akan mudah dikenali siswanya. Bahkan pelajaran eksakta pun, harusnya bisa dibungkus menarik, tidak menegangkan.

Siswa yang bahagia akan membawa pengalamannya itu sampai kapanpun. Jika kelak ia memutuskan menjadi pendidik, cara mendidik menyenangkan itulah yang akan dipraktekkannya.  Hal itu terbukti pada adik saya, bukan? Jika kelak dia pindah tugas/mengajar di sekolah lain, kenangan baik akan selalu hadir mengikuti namanya. J

Menurut saya, pendidikan harusnya membahagiakan, bukannya membawa trauma.

/salam untuk pendidik Indonesia

Pendidikan, Dalam Ingatan Saya

Cerita tentang pendidikan, tak akan ada habisnya. Setiap orang punya argumentasi masing-masing. Bisa berbeda, atau sangat berbeda.  Bisa mirip, ataupun serupa.

Keluarga suami saya, misalnya, menganggap pendidikan berbasis pesantren adalah pendidikan yang paling baik. Si murid ditempa sejak pagi hingga pagi lagi, berbulan, lalu bertahun lamanya. Bukan cuma pelajaran dasar yang nantinya akan dijadikan bahan ujian, tetapi juga pendidikan akhlak, pendidikan agama. Lulusan pesantren, diharapkan bukan hanya pintar tetapi juga baik perangai dan tingkah lakunya.

Lain lagi dengan keluarga saya, kami menganggap pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan si muridnya mendapatkan pekerjaan, selekas mungkin. Kalau bisa, hari ini diwisuda, besoknya sudah masuk kerja. Pendidikan yang jadi pilihan adalah pendidikan kejuruan. “Percuma sekolah tinggi kalau otaknya tidak mampu, lebih baik masuk sekolah kejuruan, bisa langsung cari kerja,” demikian ibu saya bertutur.

Kehendak ibu saya, kebetulan tidak berlaku mutlak untuk saya. Saya, pada saat itu dianggap rajin belajar dan diramalkan memiliki masa depan cerah. Masa depan cerah dalam pikiran ibu saya adalah “karyawan bank atau pegawai negeri sipil”. Karena dirasa pintar, saya dibebaskan memilih sekolah, jurusan, dan kampus untuk kuliah.

Pendidikan yang selama ini saya kenal adalah pendidikannya sekolah negeri. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, dan Universitas saya habiskan di lembaga bersubsidi. Biaya pendidikan yang murah menjadi pertimbangan orangtua saya saat memilih sekolah untuk anaknya.

Apa yang saya ingat dari sekolah? Hampir tidak ada, kecuali ejekan serupa bullying dan pukulan maut penggarisnya papan tulis saat SD, coret-coretan cinta monyet saat SMP, dan belajar mati-matian supaya bisa masuk universitas negeri saat SMU.

Kenangan manis mungkin pernah mampir dalam hidup saya. Sayangnya kenangan tersebut tidak tinggal lama, dan terlupa sama sekali. Sekolah sama sekali tidak menyenangkan. Isi sekolah kebanyakan adalah hapalan, PR, hukuman, upacara, dan bersih-bersih kelas. Sekolah sama sekali, tidak menyenangkan. Pendidikan dalam ingatan saya adalah tekanan, hukuman, dan cara mudah untuk keluar dari rumah (tanpa terlihat nakal).

Pendidikan dalam ingatan saya adalah, duduk manis, diam rapi, tanpa suara, mendengarkan guru berbicara sekian menit, lalu mengeluarkan buku latihan. Mengerjakan tugas latihan sekian menit, lalu membawa pulang pekerjaan rumah sekian halaman. Ekspresi tidaklah haram, tetapi tidak berekspresi akan lebih baik.

Pintar atau tidaknya murid, akan dinilai dari daftar hadir, tata krama saat di sekolah, nilai latihan soal, nilai ulangan harian, dan nilai ulangan umum. Jadikan satu, jika sempurna, maka akan jadi murid idola. Semakin murid tidak menyusahkan, akan semakin baik nilainya di mata guru.

Sekolah memang menyediakan sarana menghabiskan energi muda lewat ekstrakurikuler. Tetapi apalah artinya pandai main basket/juara cheerleaders kalau nilai sekolahnya lima? 😀

To Be, or Not To Be, pilihan yang harus diambil pelajar manapun. Dedikasikan waktu untuk belajar sepenuh hatimu, usah hiraukan gejolak masa muda dan ribuan pertanyaan yang datang. Cukup ambil buku pelajaran dan hapalkan, atau latihan mengerjakan soal sebanyak mungkin. Saat masuk ujian universitas, kamu tidak akan ditanya “Apa cita-citamu,” tetapi “Kerjakan soal No 1-40, waktu 90 menit”.

Entah memang hanya di sekolah saya, atau se-Indonesia, saya kurang tau juga.

Jadi, pendidikan seperti apa sih yang saya harapkan? Pendidikan yang membebaskan, memberi keleluasaan bagi muridnya untuk memilih, jalan mana yang akan dia tapaki nanti. Entah itu jalan menari, jalan melukis, jalan laboratorium, jalan pidato, ataupun jalan lainnya. Saya pikir, sudah selesai masanya semua murid harus serupa pintar semua mata pelajaran.

Sekolah dan orangtua harusnya bisa menjadi fasilitator, berikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang, menemukan minat sejak dini, supaya ketika nanti kembangnya mekar, si murid tidak lagi bertanya, “mau jadi apa saya ini.”

Apakah, saya muluk-muluk?

Ketika Rasa Aman, Dongeng Belaka

Berita seliwar-seliwer di twitter, ada berita baik, ada pula berita buruk. Entah kenapa yang nyantol kuat di otak saya adalah berita buruk. Salah satunya adalah penodongan di Jalan Sudirman. Dua-Tiga tahun lalu, saya pernah kecopetan. di kopaja 502 dari arah tanah abang.

Sama sekali tak terlintas di pikiran, kalau saya menjadi incaran pencopet. Saat itu saya duduk di bangku panjang, paling belakang. Lalu dua lelaki naik dari sekitaran Tugu Tani, tak lama kemudian. Saya sesekali mengambil handphone untuk membalas sms yang masuk. Setelahnya handphone saya masukkan kembali ke tas.

Tujuan saya sudah dekat, saya pun berdiri, mendekat ke pintu. Dua lelaki yang naik belakangan ikut berdiri di belakang saya. Lalu, persis saat turun, saat saya memindahkan tangan dari tas dan berpegangan ke pintu kopaja, saat itu pula si copet beraksi.

Dua kaki saya jejakkan ke trotoar, dan perasaan saya tidak enak. Mata tetiba melirik ke tas, dan owalaaa, sudah terbuka dia, saudara-saudara. Kopaja masih jalan pelan usai saya turun, saya berteriak meminta kopaja berhenti. Sekejap berhenti, si kopaja meraung, kabur secepatnya.

Bajaj yang lewat saya teriaki, saya menumpang bajaj, mengejar kopaja, dan sudah pasti, tentu saja bajajnya kalah. 🙁

Paska pencopetan, sampai berbulan kemudian, saya tidak berani menggunakan kopaja lagi. Terpaksa menambah anggaran transportasi untuk ojek.

Pencopetan itu meninggalkan bekas yang cukup dalam di hati dan pikiran saya. Bukan masalah handphone yang hilang, tapi rasa aman yang menguap bersama si handphone itu. Saya yang biasanya berani menyapa teman seperjalanan-sebangku di angkutan, kini duduk diam, memandang curiga pada setiap orang.

Pegangan pada tas makin saya kuatkan, saya sanggup menahan kantuk, menjaga mata nyalang selama perjalanan. Jika tidak benar-benar diperlukan, handphone, dompet dan barang berharga lainnya tidak saya keluarkan. Siapkan uang sekedarnya untuk ongkos.

Lelah, dua kali lelah. Lelah menghabiskan waktu di perjalanan, dan lelah pula mencurigai setiap orang di sekitaran.

Berita penodongan itu menguak kembali rasa takut saya. Dalam seminggu ini, tiga hari saya keluar rumah, dan tiga hari pula saya gemetar, ketakutan. Saya kebingungan, harus memilih angkot yang sepi, atau angkot yang ramai. Saya memandangi tangan-tangan di metromini, saya lelah.

Rasa aman, cuma dongeng, buat saya.

/salam

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (kecil)

Kecelakaan bisa terjadi dimana dan kapan saja. Tidak bisa diramalkan datangnya, tetapi kadang bisa “dirasakan” baunya.  Misalnya begini, saat mengupas bawang di dapur, sempat terlintas pikiran, “aduh pisaunya harus segera dicuci nih”. Namun, saya terlupa, dan tak lama kemudian tangan tersayat pisau yang tergeletak sembarangan di bak cuci.

Contoh lainnya : Saat sedang bermain bersana anak di kasur, lompat sana lompat sini. Lalu terpikir, “ini kok lompatnya makin lama makin ke pinggir, bahaya nih”. Belum sempat memindahkan badan ke tengah kasur, si bayi sudah keburu jatuh kepentok lantai. Tinggal saya, terduduk menyesal.

Kejadian paling anyar, baru saja terjadi Senin kemarin. Kakak ipar harus tugas ke luar kota, dan saya diminta tolong mengasuh anak-anaknya. Tidak cuma mengasuh, saya berinisiatif membereskan sebagian barang yang berserakan di meja dan tempat tidur. Melipat sebagian kain, dan memasukkannya ke lemari.

Pintu lemari sebelah kanan saya buka, kurang puas, lalu saya membuka lagi pintu sebelahnya. “Brak” Pintu lemari dari jati yang bukan main beratnya itu, jatuh ke lantai. Lah ternyata pintu itu memang sudah lepas dari engsel, dan si kakak lupa memberitahu saya.

Tak tahan melihat pintu terduduk di lantai, saya angkat kembali dan saya tempelkan ke lemari. Tidak nempel engsel tak apa-apa, asal tidak terlihat “lepas”. Percobaan pertama, percobaan kedua, percobaan ketiga, dan gagal. Si Pintu tak mau nempel lemari, malah ngglosor ke lantai. Percobaan keempat, dan aaaakkkkkkk, si pintu sukses menumbuk jempol kaki saya. Dan, berdarah saudara-saudara! Sakitnya ampun, saya sempat pitam (pandangan menghitam, mengabur, menghilang), lemas, pucat, dan berkeringat dingin.

Antara sadar dan tidak, saya browsing “pertolongan pertama pada kecelakaan”, sayangnya entah karena saya masih pusing atau query-nya kurang pas, saya tidak menemukan apa yang saya cari. Beberapa teman menyarankan mengompres jempol dengan air es, untuk menyamankan sakit.

Tentu saja saya lakukan. Apapun saya lakukan agar nyut-nyut jempol ini berhenti. Demikian.

luka tepat di batas atas kuku

Karena saya memang pada dasarnya penakut (beberapa orang akan menyebutnya lebay/berlebihan), saya ke dokter umum. Saya kuatir kukunya infeksi/harus dicabut/ada gangguan lain (iya, saya memang suka mikir “macem-macem”).

Dokternya memberitahu saya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyamankan luka tertimpa pada hari pertama. Alasannya, tidak terlihat perubahan apapun pada kaki. Pengobatan hanya dilakukan jika terbukti terjadi infeksi, ciri-cirinya lebam melebar. Saya hanya diminta mengompres kaki dengan es (lagi-lagi kompres, kan?) agar sakitnya berkurang.

JADI INGA-INGA : KALAU TERTIMPA BARANG, SEGERA KOMPRES DENGAN ES. 

Dokter mengingatkan, kemungkinan kuku yang tumbuh akan bergelombang (acakadut) karena posisi tertimpanya persis di ujung kuku (tempat tumbuhnya kuku). Observasi harus terus dilakukan, terutama jika sakitnya menghebat dan mengganggu aktivitas.

Bagusnya adalah, kaki saya sudah jauh berkurang sakitnya, 🙂

tidak bagusnya adalah, jari manis tangan kiri saya nampaknya keseleo 🙁

/salam (sakit) tak abis-abis.