BALURAN, PUKAU SABANA DI UJUNG JAWA

Sudah lama saya ingin mampir ke Taman Nasional Baluran. Sempat beberapa kali lewat saat road trip ke Bali, tapi tak pernah menyempatkan mampir. Akhir tahun kemarin, maksud hati menjenguk Baluran tercapai. Pohon kering, ranting patah, pantai berpasir, dan hujan rintik. Sudah sempurna, Baluran.

Taman Nasional Baluran – SAVANA BEKOL

Taman Nasional Baluran ada di wilayah Wongsorejo, Banyuwangi dan Banyuputih, Situbondo. Nama Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang terdekat, yaitu Gunung Baluran.

Taman hutan yang luasnya 25.000 ha ini punya beberapa jenis vegetasi, yaitu vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Vegetasinya cukup beragam, tapi yang paling terkenal tentu sabananya. Vegetasi sabana, di Taman Nasional Baluran, mendominasi, sekitar 40 persen dari total luasnya.

SAVANA BEKOL

Sejak diresmikan jadi taman nasional 6 Maret 1980 lalu, Taman Nasional Baluran menjadi tempat yang nyaman untuk tinggalnya 20an jenis mamalia dan 150an jenis burung. Kemarin waktu main ke sini, saya sempat melihat rusa, kijang, dan banyak sekali monyet! Monyet-monyetnya, terkhusus di area Pantai Bima, luar biasa pemberani. Pastikan kalau main ke sini bawa tas yang aman untuk menyimpan barang-barang kecil seperti kacamata dan topi, ya. πŸ™‚

Menuju Taman Nasional Baluran paling nyaman bawa kendaraan sendiri atau menyewa paket tour. Kemarin, untuk paket tour Ijen + Baluran untuk satu hari penuh, saya beli paket wisata senilai Rp600.000. Paketnya ini sudah bersih, dijemput, diantar, termasuk tiket masuk tempat wisata, dan dapat camilan + air minum botolan di mobil.

Saya dan teman-teman turun dari Ijen sekitar pukul 8 pagi, sampai penginapan beres-beres dulu, ganti kostum, baru dijemput kembali untuk ke Baluran. Tiba di Baluran pas tengah hari. Agak panas sih, tapi karena kami bahagia betul, panasnya ga begitu kerasa. πŸ™‚

Di pintu masuk Baluran pengunjung bisa lihat dan masuk ke Gua Jepang (GOA JEPANG). Seperti namanya, gua ini adalah peninggalan Jepang pada masa penjajahan. Luas guanya yang hanya 12 meter persegi ini dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan dan tempat penyimpanan amunisi. Pada salah satu sisi gua, ada semacam liang terbuka yang digunakan untuk mengintai musuh.

Gua ini bebas dikunjungi kapan saja. Kemarin saya coba masuk dan langsung menyesal. Perasaan saya langsung ga enak, entah karena suasananya yang gelap, udaranya yang lembab, atau hal-hal lain yang ga kelihatan.

GOA JEPANG
PINTU MASUK TAMAN NASIONAL BALURAN

Tak jauh dari pintu masuk, ada menara pandang. Kami memutuskan melewatkan kesempatan naik ke menara karena sudah tak sabar ingin jalan-jalan di hutan. πŸ™‚

Jalanannya bagus betul. Mulus. Jalanan sepanjang 15 km ini, kata guide kami, Mas Helmy @banyuwangiadventura, baru saja diperbaiki. Tadinya, menuju Pantai Bama di ujung taman nasional butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan, sekarang waktu tempuhnya tinggal 45 menit saja! Asyik yaa…

Tak jauh dari pintu masuk, kita akan ketemu dengan jalanan yang kanan kirinya dipayungi pepohonan hijau dan rimbun. Kawasan hutan ini selalu hijau sepanjang tahun. Evergreen Forest, demikian kawasan ini disebut. Hijaunya pohon yang terus-menerus di kawasan ini terjadi karena lokasinya di dekat cekungan-cekungan sumber air.

Sepanjang jalan menuju Pantai Bima, kami banyak berhenti untuk foto-foto. Tempatnya luar biasa cantik, dan saya yang selalu suka lihat pohon kering rasanya enggan cepat-cepat pergi. πŸ™‚

Tiga foto di atas ini diambil di tempat berbeda, asal berhenti di pinggir jalan. Lokasinya bukan tujuan ‘wajib kunjung’ semacam Savana Bekol, tapi beneran pinggir jalan! Jelang sore suasananya mendukung, agak-agak sendu merayu gitu deh. Sempat rintik-rintik, tapi cuma sebentar saja.

Saya kurang tau untuk orang lain, tapi di mata saya, sepanjang mata memandang, pemandangan di Baluran ini rasanya bagus melulu. Kemarin pas betul taman nasionalnya sepii, jadi saya santai aja ganti kostum dan ubet-ubet kain di pinggir jalan raya. Demi konten. Eaaaa… πŸ˜€

Sekarang informasi yang penting, soal bayar-bayaran. Tiket masuk Taman Nasional Baluran terbagi dalam beberapa kategori:

  • Turis Domestik: Rp15.000 (hari kerja), Rp17.500 (hari libur/akhir pekan)
  • Turis Mancanegara: Rp150.000 (hari kerja), Rp225.000 (hari libur/akhir pekan).
  • Pelajar: Rp8.000 (hari kerja), Rp9.500 (hari libur/akhir pekan).
  • Kendaraan Roda Dua: Rp5.000 (hari kerja), Rp7.500 (hari libur/akhir pekan).
  • Kendaraan Roda Empat: Rp10.000 (hari kerja), Rp15.000 (hari libur/akhir pekan).
  • Minibus/Truk: Rp50.000 (hari kerja), Rp75.000 (hari libur/akhir pekan).

Bayarnya di depan gerbang. Siapkan uang tunai karena di dekat taman nasional ga ada mesin ATM.

Menuju Taman Nasional Baluran cukup mudah sekarang. Ada akses langsung dengan kereta api dan pesawat. Kemarin, menuju Bandar Udara Banyuwangi, saya naik penerbangan langsung dari Jakarta. Tiket untuk satu kali kali perjalanan dengan pesawat sekitar Rp1.000.000 – Rp1.500.000. Membeli tiket pesawat jauh-jauh hari direkomendasikan agar kesempatan mendapatkan harga terbaik semakin besar.

Ini simulasi belanja tiket pesawat untuk keberangkatan Jumat dan kepulangan Minggu. Simulasi jajan tiket pesawat ini saya ambil dari aplikasi Pegipegi.

berangkat
pulang

Tampilan di atas ini masih harga normal sebelum potongan promo ya. Kalau belanja tiketnya di Pegipegi, coba sebelum beli tiket lihat-lihat dulu banner di halaman depan. Ada banyak promo yang bisa dipilih, misalnya diskon transportasi, diskon penginapan, atau diskon paketan.

Promonya ini cukup beragam, ada yang kerja sama dengan bank tertentu, ada yang umum. Kemarin saya lihat, ada diskon sampai Rp250.000 untuk beli tiket pesawat. Sebelum klik bayar jangan lupa masukin kode promo supaya dapet harga lebih murah. Lumayan banget, kan!

Untuk teman-teman yang hanya punya waktu luang di akhir pekan, saya rekomendasikan naik pesawat Jumat pagi (penerbangan pertama), dan pulang di Minggu sore.

Waktu selama 3 hari 2 malam di Banyuwangi bisa dihabiskan untuk ke Ijen, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Kawasan Hutan Jawatan Benculuk, dan Pantai Pulau Merah. Liburan bersama teman-teman direkomendasikan agar bisa berbagi biaya sewa kendaraan selama di Banyuwangi.

Kemarin, karena terbatasnya waktu, saya hanya sempat main ke dua tempat. Semoga, nanti, ada kesempatan untuk kembali lagi bertemu Banyuwangi.

/sudah rindu, Banyuwangi

33 thoughts on “BALURAN, PUKAU SABANA DI UJUNG JAWA”

  1. Totalitaaasss banget tu foto terakhir. Untung sepi ya mba. Aku paling suka liat foto-foto kamu yang begitu mba. Pake kain si unet2. Tapi hasilnya cucookkk meski ca di ubet2.

  2. Iyak, di Baluran panas dan banyak pohon kering tapi ga terpikir sampe foto seniat ini. Kece amat sik Kak! trus ganti kostumnya itu gimana? hahaha penasaran behind the scene.

    1. Ganti kostumnya di mobil, di dalem bajunya udah pake kemben sama celana pendek, jadi tinggal ubet-ubet kain aja. :))

  3. Aku pernah ke Banyuwangi, tapi ngga sempat ke Baluran, cuma ke Ijen aja. Naksir banget sama Baluran dan mulai merencanakan ke sana setelah baca postingan ini….

    Foto-fotonya keren dan matching banget sama kain-kainnya yaa…

    Keren lah…Thanks for sharing, sehat selalu yaaa Rere

  4. Serius Mba Re, tempat ini eksotik. Aku suka semha foto-foto ka Rere. Beberapa waktu lalu aku memang kepikiran mau main-main ke Banyuwangi. Ternyata memang bagus yah. Makasih informasinya ka

  5. Ya ampuuun ini fotonya keren-keren banget
    Ku suka OOTD nya deh
    Aku pernah ke Baluran, tapi gak pepotoan begini. Lihat artikel ini aku jadi pengen ngulang ke sana deh
    Tapi memang enaknya pas musim kemarau ya
    Aura Afrikanya dapat banget

  6. Tempatnya keren banget Baluran ini. Menarik untuk jadi spot foto di berbagai tempat. Pohon-pohon keringnya cakep sekali jadi latar. Ah, kapan ke Baluran?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *