Berobat Dengan Kartu Sakti

Kartu Sakti

Lagi pingin cerita soal pengalaman urus ayah dan mamak yang berbarengan lagi sakit sekarang. Mamak, yang udah hampir dua puluh tahun positif Diabetes Melitus (DM), minggu lalu ambruk (lagi), Mamak cukup sering diopname, kalau yang lalu kami berobat dengan biaya pribadi, kali ini kami coba pakai kartu sakti, kartu keanggotaan BPJS.

Minggu lalu mamak sudah sakit tiga hari di rumah sebelum benar-benar lemas dan akhirnya diangkut ke rumah sakit. Sesuai prosedur, adik dan kakak mengantar mamak ke puskesmas rujukan. Puskesmas rujukan ini tertera di kartu BPJS-nya. Jadi, ga mungkin tertukar. 🙂

Sampai di puskesmas, mamak tidak diperiksa maupun diberi rujukan, tetapi langsung diarahkan masuk lewat Unit Gawat Darurat rumah sakit terdekat.

Sampai di UGD RS Urip Sumoharjo, Lampung, dan mendaftarkan kartu, mamak langsung diperiksa,  dan diminta untuk rawat inap sesuai kelas yang diambil saat mendaftar BPJS.

Pindah Kelas Rawat Inap

Kelas yang kami daftarkan untuk mamak dan ayah adalah kelas 1, tetapi atas pertimbangan tertentu, diantaranya jumlah penunggu pasien yang terbatas, kami memutuskan mamak dirawat di kelas VIP.

BPJS boleh naik kelas?
Boleh, kok.. Tetapi, ada beberapa hal yang harus jadi pertimbangan sebelum memutuskan naik kelas. Pasien yang seharusnya bisa gratis jika dirawat sesuai kelasnya, terpaksa harus membayar selisih biaya kamar, selisih biaya kontrol dokter, dan biaya lainnya yang ditentukan rumah sakit.

Seperti asuransi lainnya, BPJS juga punya aturan yang mesti diikuti, aturan itu antara lain:

  1. BPJS hanya menanggung biaya sesuai kelasnya saja
  2. BPJS BISA Menanggung kenaikan kelas Maksimal hanya 3 hari, lebih dari itu pasien akan dikenakan tarif sesuai dengan tarif yang berlaku di rumah sakit tersebut.

Untuk poin nomor 2 itu gampangnya bisa dijelaskan begini. Pasien yang naik kelas, boleh bayar selisih biaya kamar dan perawatan selama tiga hari aja. Lewat tiga hari, pasien diperlakukan seperti pasien umum biasa dan dikenakan biaya penuh. BPJS-nya berhenti cover biaya.

Pasien bisa terus menggunakan kartu BPJSnya lagi kalau setelah dirawat 3 hari dengan kenaikan kelas, pasien turun lagi ke kelas yang sesuai dengan premi BPJS-nya.

Rawat Jalan

Keluar dari rumah sakit, mamak bawa oleh-oleh obat segepok dan surat kontrol. Obat-obatan ini semuanya gratis. Duh, bersyukur kemarin sempat daftarin mamak ikutan BPJS jadinya. 😀

Lalu, setelah keluar rumah sakit dengan biaya yang sangat enteng karena sebagian besar biaya ditanggung BPJS, berikutnya apa?

Berikutnya tentu saja rawat jalan, kak… Hebatnya BPJS, ga seperti asuransi swasta yang hanya cover biaya rawat inap saja, BPJS ini dengan baik hati menutup biaya rawat jalan. Berguna banget buat mamak yang pengobatan sakitnya akan terus berlangsung seumur hidup.

Ribet?
Memang urusannya jadi lebih panjang. Sampai di rumah sakit untuk kontrol dokter seminggu kemudian, kami diarahkan ke kantor BPJS lebih dulu. Jadi, pendaftarannya dibedakan.

Ke loket BPJS, kasi surat kontrol, dapat cap sakti, lalu ke loket kembali dan dapat nomor antrian dokter. Oh iya, karena kami datangnya ga pake telepon dulu, kami ga bisa bertemu dokter yang merawat mamak waktu sakit, jadwalnya tidak sesuai. RS Urip Sumoharjo sudah punya jadwal khusus untuk pasien BPJS.

Soal jadwal ini mungkin bisa berbeda di tiap rumah sakit, ada baiknya telepon dulu jika ingin bertemu dengan dokter tertentu. RS Urip menjadwalkan kontrol dengan dokter penyakit dalam hanya bisa dilakukan oleh satu dokter setiap harinya. Jam-nya pun dibatasi. Ada baiknya datang pagi-pagi sekali. 🙂

Ketemu Dokter

Mamak kontrol ke dokter yang berbeda, untungnya dokternya baik sekali, mau menerangkan pelan-pelan soal penyakit mamak dan komplikasi yang bisa terjadi kalau gula darahnya dibiarkan tidak terkontrol. Mamak dijadwalkan bertemu ahli gizi untuk mengatur diet, dan tentu saja dapat resep obat-obatan.

Dua jam kemudian, kontrol dokter, konsultasi ahli gizi, obat-obatan, semua sudah di tangan. Biaya yang dihabiskan : NOL.

Oh iya, untuk Diabetes Melitus, ternyata BPJS punya aturan tidak bisa cover semua biaya obatnya. Jadi, sebagian resep cair jadi obat, lalu kami diberi salinan resep untuk ditebus di apotik manapun dengan biaya pribadi. Menurut petugas BPJS yang saya temui, DM tidak termasuk ke dalam 10 penyakit kritis yang obatnya ditanggung.

Saya sih merasa terbantu sekali dengan BPJS ini. Memang prosesnya lebih panjang karena harus minta surat rujukan dari puskesmas lebih dulu, tetapi manfaat yang  kami dapatkan jauh lebih besar,

Untuk pasien yang sudah payah atau tua dan tidak terbiasa wara-wiri sendirian, dianjurkan sekali untuk ditemani, karena harus mondar-mandir urus suratnya. Kalau ada yang kurang jelas, bisa tanya juga ke loket BPJS, berdasarkan pengalaman, kalau kita tanya baik-baik, mereka mau bantu jelasin. 🙂

Pendaftaran BPJS

Dulu saya mendaftarkan mamak dan ayah ke kantor BPJS dengan bawa fotokopi KTP, fotokopi KK, dan foto masing-masing ukuran 3×4 satu lembar saja.

Pendaftarannya gratis. Awal masuk diberi formulir dan nomor antrian. Isi formulir, tunggu nomornya dipanggil, dan diproses. Tidak sampai 10 menit prosesnya. Setelah diberi resi, lakukan pembayaran pertama di kasir bank yang diinginkan.

Di kantor BPJS Bandar Lampung ada loket Bank Mandiri, tetapi antriannya luar biasa. Untuk yang punya kartu debit Mandiri, petugas menyarankan pakai mesin EDC yang sudah tersedia di sana. Ada juga mesin EDC bank lainnya yang ikut bekerjasama.

Sekitar satu jam prosesnya. Gampang. Ga ribet.
Saya ga punya hal yang harus dikomplain ke BPJS. Intinya sih kalau mau pakai layanan BPJS, harus sabar-sabar. Ikuti prosedur yang berlaku, jangan lupa telepon rumah sakitnya jika ada yang ingin ditanyakan (misalnya soal jadwal), dan siapkan pasiennya (karena waktu tunggu/urus dokumennya bisa lebih panjang).

Oh iya, buat yang rumahnya jauh dari kantor BPJS, bisa juga mendaftar online lewat website BPJS atau ke klinik terdekat yang bekerjasama.

Terimakasih, BPJS. 😀

Sehat terus ya, Mak!
Sehat terus ya, Mak!

/Salam senang.

18 thoughts on “Berobat Dengan Kartu Sakti”

  1. Great story! Turut berbahagia membacanya 🙂

    Btw saya kemarin mendaftar BPJS online untuk diri sendiri. Setelah mengisi data, saya mendapatkan tautan berisi formulir daftar isian peserta dan 3 nomor virtual account (BNI, BRI, Mandiri). Kemudian saya bayar via internet banking ke salah satu virtual account saya, lalu di tautan tsb muncul e-ID BPJS yang bisa diunduh dan dicetak. Saya cetak pagi ini, dan kata salah satu teman e-ID ini sama fungsinya seperti kartu BPJS jadi saya nggak perlu menukarkan e-ID dengan kartu lagi ke kantor BPJS.

    Pertanyaan saya, formulir daftar isian peserta itu buat apa dong? Kan saya udah mengisi online. Di bagian bawah formulir tsb terdapat slot untuk foto diri, pasangan, dan 3 orang anak. Atau formulir ini untuk mereka yang sudah berkeluarga? Saya nggak perlu ngisi lagi dan bawa ke kantor BPJS, kan?

    Maaf banyak nanya. Baru kali ini saya ngurus BPJS. Terima kasih dan salam kenal 🙂

    1. Hi, salam kenal juga.
      Formulir isian peserta itu kan udah ada datanya, ya.

      Si mas bisa bawa formulirnya, tempelin foto, lalu antar ke kantor BPJS terdekat untuk ditukar dengan ID yang bentuknya kartu (kalo kepingin aja).
      Kartu bentuk kartu kan enak dimasukin ke dompet soalnya yah. ^^
      Ga dituker pun gapapa. ID bentuk kertas tetap berlaku.
      Saya sampai sekarang ID-nya masih kertas selembar itu, belum sempat ke kantor BPJS. 😀

  2. Alhamdulillah… semoga gula darah mamak bisa kembali normal dan bisa sehat terus. Coba tanya Depe deh, kemarin gula darahnya tinggi, terus ganti nasi pake kentang, ganti roti yang mengandung gandum dan makan oatmeal, gula darahnya bisa turun.

  3. saya mau nanya nih.
    di BPJS saya daftarin ibu di kelas 2..
    ini masih di opname di RS karena badannya tiap kena angin dikit langsung demam/menggigil..
    beliau juga ada DM..
    Nah waktu semingguan lalu, pas baru dibawa ke RS. kamar kls 2 nya lagi full.. jadi dimasukin di kamar kelas 1..
    memang benar.. dikasih tau bayar selisih..
    mungkin ada sekitaran 3-4 hari (lupa) di kamar kelas 1.. sisanya sekarang ada di kelas 2 sampe hari ini masih di opname..

    pertanyaannya, mbak ini BPJSnya dibayar tiap bulan?
    kalau misal ternyata kita ndak sempat bayar BPJS beberapa bulan terus masuk RS gmn?
    apakah kita harus lunasin tunggakan BPJS baru bisa dihitung gratis oleh RS ?
    terima kasih.

    1. Hai, BPJS dibayar tiap bulan. Kemaren sempet telepon katanya kartunya masih berlaku sampai masa tunggakan 6 bulan, jadi bisa langsung ke RS kalo emergency, bayarnya setelah masuk RS aja.

      Semoga ibunya lekas sembuh ya

      1. Haii .. saya saat ini sedang proses operasi pengangkatan miom,lg berbaring niih nunggu nanti jam 4 sore operasi.terimakasih telah membantu menerangkan secara rinci ttg bpjs.kalau mau upgread kelas nanya2 detailnya ke bagian apa ya? Terimakasih.

        1. Hai, bisa langsung ke administrasi rumah sakit/ adm BPJS yang ada di masing-masing rumah sakit, Sekar.
          Semoga operasinya lancar, ya. Senang bisa membantu.

  4. Dear Mbak Rere..

    Kami cukup senang dengan artikel yang mbak rere buat, itu membuktikan bahwa kartu BPJS tidak senegatif yang di pikirkan oleh orang banyak..

    Kami dari salah satu klinik di bandar lampung berharap kedepannya, BPJS bisa di manfaatkan secara maksimal..

    Dengan adanya info ini Kami Merasa Yakin dengan Kartu BPJS..
    Jika di ijinkan, saya hendak sharing pengalaman Mbak rere ke dalam situs kami, agar nantinya banyak orang yang akan semakin terbuka dengan BPJS.

  5. Solusi nya donk…bapak masuk advent ..pakai bpjs naik vip..setelah cek di anjurkan cuci darah..setelah 3 hari kondisi pasien membaik..dan kelg pun meminta pulang dan rawt jalan…tapi suster bilang bpjs nya gak berlaku karna melakukan penolakan cuci darah…08117229009

  6. mbk, berikan tips dong gimana caranya supaya pasien bpjs dpt segera ditangani. Hari senin esok rencananya saya akan bawa bpk saya ke RSUD Pringsewu karna di diagnosa olh dokter desa saya menderita pembesaran prostat dan harus ada tindakan medis berupa operasi. gimana ya supaya bpk saya lekas mendapatkan hari untuk tindakan operasi tentunya mendapatkan kamar inap sesegera mungkin sekalipun keadaaan ayah saya tdk tergolong terlalu darurat. tp melihatnya cukup kasihan karna harus pakai selang bantu untuk buang air kecil. terimakasih

    1. Hai, untuk BPJS kalo dari aku cuma, ikuti stepnya mas. Soalnya aku ga punya tips buat potong jalur. Kalau udah gawat, bisa masuk UGD, dari UGD tinggal masuk ruang rawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *