Main ke Taman Konservasi Bunga Bangkai di Bengkulu

Setelah berhasil lihat langsung bentuknya Rafflesia, rezeki baik masih menghampiri saya dan teman-teman saat berkunjung ke Bengkulu. Di hari yang sama, kami bisa melihat, mencium, dan berfoto bersama dengan Amorphophallus Titanum, alias bunga bangkai!

Bunga bangkai ini kami temui di Taman Konservasi Puspa Langka, Lemba Peduli Puspa Langka dan Lingkungan yang ada di Desa Tebat Monok, Kepahiang, Bengkulu. Lokasi penangkaran itu berada di punggung Hutan Lindung Bukit Daun wilayah Kepahiang, tepatnya di pinggir jalan lintas menuju Kepahiang dan Curup sekitar 52 kilometer dari Kota Bengkulu.

Berbeda dengan rute jalan menuju Rafflesia Arnoldi yang cukup curam, Amorphophallus bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 100 meter di lahan yang padat. Cuaca cukup baik dan kondisi tanah di sekitar area konservasi yang kering memudahkan langkah kami menuju bunga yang tegak menjulang.

Bunga bangkai yang kami temui tak mekar sempurna lagi karena sudah memasuki hari ke-3 mekar. Kelopak hijaunya masih terbuka sedikit tetapi sudah terlihat layu.  Oh iya, warna kelopak bunga di bagian dalam dan luarnya berbeda. Jika di luar ada paduan hijau dan hijau muda, di bagian dalamnya tampak berwarna ungu – merah tua.

Kemarin saya sempat mendekatkan hidung, berusaha mencari tahu bau bangkai yang fenomenal itu. Sayangnya saya tidak mencium bau apapun, normal saja. Ternyata, bunga ini hanya menebarkan bau bangkainya di hari pertamanya mekar. Pada waktu itu, tak perlu repot mendekatkan hidung untuk mencium baunya karena wanginya yang luar biasa itu akan terbawa angin hingga radius 100 meter!

Taman Konservasi Amorphophallus ini digagas oleh Holidin dan keluarga besarnya. Sekitar tahun 1990-an, Holidin melihat banyak bunga bangkai yang tumbuh di sekitar kebun masyarakat. Waktu itu bunga bangkai belum dipedulikan, bahkan bunga bangkai yang sedang mekar sering dipotong dan dibuang oleh masyarakat karena menguarkan bau busuk.

Pada 1998, Holidin mulai menginisiasi budidaya Amorphophallus di area yang belakangan dijadikan taman konservasi. Saat itu, umbi seberat 80 kg dipindahkan oleh enam orang dari kebun di sekitar kampung ke lokasi penanaman. Umbi kemudian dipotong kecil-kecil hingga lebih dari 200 bagian. Pada tahun 2003, bunga pertama dari Amorphophallus hasil budidaya di taman konservasi muncul.

Amorphophallus merupakan salah satu kelompok tumbuhan yang termasuk ke dalam famili Araceae (talas-talasan). Kelompok ini memiliki lebih dari 170 spesies yang secara alami tersebar di wilayah tropis, mulai dari Afrika hingga Papua Nugini.

Sekitar 10 persen dari jumlah spesies tersebut dapat ditemukan tumbuh secara alami di Indonesia, dan enam di antaranya yaitu Titanum, Giggas, Payoni polius, Moleris, Variabilis, dan
Mantahed, merupakan tumbuhan asli Sumatera. Oh iya, ada yang unik dari Amorphophallus yaitu fase vegetatifnya tumbuh secara bergantian dengan fase generatif dari satu umbi yang sama.

Kelihatannya besar dan gagah, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Bunga bangkai sangat rapuh, bagian dalamnya kosong, seperti spons berongga, sangat tipis, dan mudah jatuh kalau disenggol. Penting sekali untuk berhati-hati kalau sedang berada di sekitar bunga.

Ketika akhirnya mekar, jangan bayangkan kita bisa melihatnya berlama-lama. Bunga yang berbau busuk ini hanya mengepakkan kelopak selama 8 jam saja, lalu mulai menutup kembali setelahnya. Sebentar sekali ya, macam gadis pemalu. Lalu, setelah nanti kelopak tertutup, bunga akan busuk dan jatuh di usia mekarnya yang ke-7 hari.

Setelah membusuk dan jatuh, di bagian dalamnya nanti akan muncul biji seperti gambar di atas. Biji itu dibiarkan dulu beberapa lama sampai memerah sempurna. Setelahnya baru diambil dan disemai satu-persatu hingga timbul tunas yang baru.

biji bunga bangkai

Setelah tumbuh tunas lalu bagaimana? Jangan bayangkan kalau bunga baru akan tumbuh, ya. Karena tunas itu akan lebih dulu tumbuh menjadi pohon seperti gambar di bawah ini:

pohon bunga bangkai

Pohon ini akan hidup dan mati sebanyak 4-5 kali lebih dulu. Setelah nanti umbi membesar hingga minimal 4 kg, akan tumbuh tunas kecil yang kemudian tumbuh menjadi bunga. Jika dihitung, total waktu yang dibutuhkan dari awal hingga bunga bangkai siap berbunga adalah empat tahun. Lama, yaa..

Tak ada waktu pasti untuk masa mekarnya Amorphophallus. Maka, keberuntungan benar-benar berpihak ketika bisa melihatnya langsung. Terima kasih untuk kesempatannya, Bengkulu!

/salam bunga bangkai


Perjalanan bersama blogger, fotografer, instagramer, dan youtuber ini merupakan kerjasama Dinas Pariwisata Bengkulu, Alesha Wisata Bengkulu, dan Komunitas Bengkulu Heritage. Foto-foto juga ditampilkan di twitter dan instagram dengan hashtag #FestivalBumiRafflesia2017 #FamtripBengkulu #PesonaBengkulu.

 

 

 

21 thoughts on “Main ke Taman Konservasi Bunga Bangkai di Bengkulu”

  1. 4 tahun??? lama banget supaya dia jadi besar begitu ka. Aku pikir cuma butuh setahun aja. Btw untung ada keluarga Holidin yanga menggagas konservasi ini, jadi ga punah di tebang-tebang warga ya Ka.

  2. Demi apa bisa lihat bunga bangkai secara langsung???? Aku iri padamuuuuuu! #lebay Aku aja yang jurusan Biologi belum kesampean. Luar biasa ya Indonesia itu benar-benar kaya raya. Kita patut bangga jadi orang Indonesia yang punya begitu banyak keragaman hayati. Love Indonesia full deh!

  3. Dari kecil pengen banget liat bunga bangkai langsunh tapi apa daya belom kesampean. Dirimu beruntung bangett bisa liat sedeket itu 😍, etapi bau nya nggak nusuk idung ya ka?

  4. 4 tahun baru bisa melihat bunga bangkai mekar.. itupun nggak bisa dipastikan waktunya ya ckckckckc… luar biasa ini bunga… eeehhhh duu waktu aku SD sering ketuker antara bunga bangkai dan bunga raflesia hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *