Category Archives: Cerita

aksara mencari cinta

mencari cinta

Aksara berarak, berjalan pelan, membuka buku, mencari petunjuk.lantas lihat kiri, lihat kanan, diam-diam membentuk kata,

Tapi bentukan tak selesai sepenuhnya, ada yang kurang, terasa timpang.

Aksara kembali berjalan lagi, kali ini ada yang membisiki, katanya kali ini harus lebih cepat, aksara nunut, tak peduli meski langkahnya menyakiti.

Toh, aksara merasa belum mampu membentuk kata, “sedikit lagi” katanya, meminta pengertian pada semua.

Kali lain, ada yang menyikut. Bilang kalau aksara harus ngebut. Serupa motor, aksara pasang gigi empat. Dia berharap bisa jalan lebih cepat.

Tapi perjalanan malah tersendat, karena aksara banyak nabrak. Aksara mesti banyak berhenti untuk minta maaf pada orang-orang yang mengumpat.

Aksara bingung, terduduk sendirian, meratap. Dia telah mencoba banyak jalan, semestinya salah satu diantaranya berhasil bukan?

Belakangan, setelah diam sejenak, aksara menyadari.  Jalan pelan, bergegas, hingga menjatuhkan orang tak akan ada guna.

Karena, tak ada rumus sempurna, untuk membentuk kata cinta.

/re

Bom Bunuh Diri

Ada istri, yang suaminya pergi.
Dia pikir, suaminya bekerja merangkai melati untuk dia dan si buah hati.

Ada dua putra dan putri, yang ayahnya pamit kemarin pagi.
Mereka pikir, ayahnya akan kembali, seperti hari-hari yang sudah mereka lewati.

Tak pernah mereka bermimpi, suami dan ayah tercinta sibuk mempersiapkan bom bunuh diri.
Ayah mereka yakin, bom sama dengan jihad di jalan Ilahi.

Kemudian, kotak segiempat di rumah mereka tak henti bernyanyi. Katanya ada bom yang meledak di dua tempat penginapan bergengsi.

Sembilan Mati.
Ayah mereka dicari.

Istri dan rombongan dengan senyum peri itu terus menanti, tak percaya akan kata yang membuat sakit hati.
Mereka, menutup telinga kanan dan kiri.

Selarik doa dipanjatkan saban hari. Memohon Ilahi menjaga lelaki yang dikasihi.

Tapi, jantung serasa berhenti.
Saat tahu,
ayah mereka,
ditembaki polisi, dan
Tak akan pernah kembali.

/untuk Ibrohim dan keyakinannya.

Ketinggalan

Malam mulai menghitam. Jemarinya melingkari pinggang, kumisnya menggesek punggung, matanya memandang jalang.

Kaki perlahan melayang, selendang mengikat dua badan. Serupa lembu melenguh kenikmatan.

Perlahan dibawanya menjejak daratan, mata terbuka, seperti baru datang dari negeri khayalan, pincang.

Ada yang tertinggal di negeri impian, entah apa.

/kuningan

Penjaga Uang

boxSekali satu bulan jadi penjaga uang, tugasnya membayar semua hutang, membiayai semua pengeluaran dan berusaha menambah tabungan.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, hati senang bukan kepalang, hati bimbang bukan kepalang, lantas jadi risau bukan kepalang.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, mata membesar, tangan dan kaki membesar, terakhir kepala yang membesar. Pusing!

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, ingin menyenangkan kanan, ingin menyenangkan kiri, ingin menyenangkan depan, juga ingin menyenangkan belakang.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang, menurutkan semua kemauan, memilih-milih kemauan, membentak kemauan.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang. Angguk-angguk, angguk-geleng, geleng-geleng.

Sekali satu bulan jadi penjaga uang.
Riang,
diam,
sinting!

Dua Jantan di Pagi Hari

Menengok jantan-jantan di kereta api super cepat tadi pagi.
Berbaju rapi, sepatu cling hingga bisa dibuat mematut pipi, tas tenteng hitam, coklat, biru, dan tentu saja wangi

Disampingku ada dua jantan lagi, tampan.. ahh rezeki..

Tapi, di dadanya kulihat ada jemari mengelilingi.
Kutelusuri sambil sembunyi, rupanya itu milik si jantan tampan yang satu lagi.

Mereka, berpeluk di pagi hari.  Aku iri.mereka

Pamit

62

Tiba-tiba proses klik kanan-klik kiri pada portal intranet kantor-yang biasanya menyebalkan karena masalah koneksi lelet- jadi mengharukan.

Tiba-tiba proses menghabiskan nasi kotak, ransum terakhir-yang biasanya dicaci karena pemilihan menunya yang gak nyambung dan membosankan-jadi sama mengharukannya.

Tiba-tiba, pelukan.

Kawan, aku pamit..

/setelah persis 3 tahun 1 bulan di “rumah” itu

Puisi Perpisahan

Sahabat, waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman
bahwa di dunia ini tak ada yg abadi

Kini saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang telah tergariskan
Dalam ruang dan waktu yang berbeda
Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga

Sahabat, semoga waktu tak membuat kita lupa
Bahwa kita pernah ada
Pernah punya cerita
Sahabat, abadilah tercipta lebih dari cinta

/puisi perpisahan dari Danni, pustakawan Tempo yang baik hati..