Category Archives: Parenting

Saya Lop Yu

Jutaan orang punya bayi, maka bayi mustinya bukan lagi hal aneh, harusnya punya bayi biasa saja, seperti layaknya orang yang punya bayi. Hanya punya, membesarkan, melihatnya pergi, dan kemudian kita mati (ini dalam pikiran saya, tapi maut siapa pula yang tahu).

Punya bayi bukan hal biasa buat saya. Sejak dulu saya tidak terpikir untuk menikah, lalu ternyata saya menikah cukup muda, 24 tahun. Sejak dulu saya tidak terpikir punya anak, lalu saya punya anak saat 27 tahun. Dalamnya laut bisa diukur, isi otak tak ada yang tahu.

Maka disinilah saya, menimang bayi. Baiknya saya jelaskan kepada Anda, menimang bayi dalam otak saya semacam masuk jaman purbakala. Sudah bukan jamannya. Teknologi sudah memungkinkan pindah ke planet lain, dan saya malah menyusui. Mustinya, proses reproduksi sudah bisa dilakukan mesin. Pancarkan sinar X, Y, Z, tambahkan energi, lahirlah bayi yang kemudian dibesarkan dalam tabung hingga dewasa. (Pikiran macam apa pula ini).

Saya, bahkan tidak menyangka, mampu mengulangi satu kata, puluhan ratusan kali sehari, sambil menunjuki benda-benda di sekeliling. “Nenen… ne nen, ne nen, ne nen,” kata saya sambil menyodorkan payudara. Lalu “Buma.. bu ma.. bu ma…,” menunjuk diri saya, terus berkali-kali, mulai bangun hingga tidur malam, diulang lagi, terus.

Dan saya tidak lelah mengulang kata, meski akhirnya si bayi lebih memilih berujar “nggakkk… dan mbakk” sebagai kata pertamanya. Saya tidak menyerah.

Aktivitas macam apa ini?
Saya tidak tahu persis.
Oh iya, kamu, saya lop yu.

/berharap suatu saat nanti kita bisa berbicara layaknya teman.

Susu oh… Susu

Tidak ada yang tahu kapan penyakit akan menghampiri Anda. Tiba-tiba dia datang, dan dhuarr, kita baru sadar kalau tidak punya persiapan apapun. Pertengahan bulan lalu, saya terpaksa dirawat inap di rumah sakit, bukan sehari, atau dua, tapi sepuluh hari.

Bagi ibu menyusui seperti saya, yang paling saya butuhkan adalah stok asi perah dan pengasuh yang rela menjaga bayi 24 jam. Stok asi perah di rumah, selalu saya siapkan cukup untuk 3 hari, stok ini terus saya kejar selama seminggu pertama di RS, sebelum tindakan pembedahan dilakukan. Produksi ASI saya cukup baik selama di RS, sehari saya bisa mengumpulkan hingga 1liter ASI perah untuk si bayi yang hampir berumur empat bulan.

Minggu sore, beberapa tetangga yang menjenguk membawa serta bayi saya ke RS, duh… seminggu tidak menyusui langsung, rasanya rindu berat. Sudah terbayang decapan mulut si bayi. Saat si bayi sudah di dekapan saya, segera saya menyodorkan sebelah payudara. Dan, dia menolak. Saya masih berprasangka baik, mungkin posisinya tidak nyaman. Saya coba posisi menyusui tidur, duduk, dan sambil berdiri, lalu si bayi mengamuk.

Dia haus, tapi tidak mau menyusu langsung. Duh Gusti, rasanya hancur hati saya. Susah payah saya menahan air mata di depan ibu-ibu komplek.  Si bayi sudah “lupa” payudara ibunya.

Lalu, hari pembedahan pun tiba.

Saya tersadar pukul 2 siang, dan hal yang pertama kali saya pikirkan adalah, saya belum memerah. Saat itu badan saya penuh selang, dari hidung, mulut, dan kemaluan. Nyeri bukan main + ngantuk pengaruh bius yang belum sepenuhnya hilang. Jam 6 sore saya paksakan memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri untuk memerah, hasilnya mengecewakan. Gabungan nyeri, kuatir asi tidak cukup dan bayangan si bayi bingung puting membuat produksi asi menurun.

Saya panik.

dan ASI semakin lambat keluarnya.

Meminta donor ASI adalah hal terakhir yang saya pikirkan, bukan karena saya tak percaya pada si pendonor, tapi saya percaya asi yang saya perah langsung bukan cuma berisi makanan, tapi juga cinta, kasih sayang, dan rasa aman.

Berbekal dua post di twitter, saya berdoa. Twit itu ternyata di RT dan direply banyak orang, beberapa bahkan mengontak langsung saya lewat pesan singkat. Terimakasih saya haturkan pada teman (yang bahkan belum pernah bertemu) untuk bantuannya. Satu liter asi perah beku malam itu berpindah ke kulkas saya. 😀

Sampai di rumah, saya memutuskan membuang asi yang saya perah usai pembedahan. Asi perah itu, tidak terjamin keamanannya untuk si bayi. Memang, saya sudah meminta dokter memberikan obat yang aman untuk menyusui, tapi melihat banyak sekali cairan yang diinjeksikan ke dalam infus pasca operasi, saya tidak yakin.

Rasanya membuang asi seember itu seperti….. entahlah. Saya matikan perasaan saya, saya tutup mata saya.

Oh iya, bukan saya yang membuang asinya ke saluran air, tapi ibu saya. *Kalau saya yang membuang, bisa-bisa asinya balik saya simpan lagi di kulkas. :p

Ah kawan, terimakasih untuk dukungan dan doanya.. Sekarang saya sedang belajar menyusui lagi, si bayi sedang belajar menyedot puting lagi, semoga saja akhirnya si bayi sadar puting saya lebih nikmat daripada dot plastik ituh.

/salam susu

Asi Perah dan Apel Merah

Saya bersyukur untuk nikmat yang Tuhan berikan, sampai hari ini, makanan Embun cukuplah adanya. Saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan tambahan, cukup air susu emaknya saja.

Kadangkala, makanan Embun cukup melimpah. Saya sampai menyimpan sebagian di freezer. Lemari pendingin satu pintu membatasi saya menyimpan asi perah dalam jumlah banyak. Selain ukuran freezer yang kecil, suhu yang berubah setiap kulkas dibuka, membuat asi perah tak awet lama.

Lalu, dikemanakan Re? Sampai saat ini, sudah empat kali asi perah beku saya donorkan. Empat kali untuk 3 bayi. “Semoga bermanfaat ya adek-adek bayi, nanti kalo udah pada gede, kopdar sama Embun ya…”

Dua kali saya mendonorkan asi untuk bayi laki-laki seorang bapak. Bayi si bapak lahir prematur, hingga lewat satu bulan, beratnya dua kilo saja. Seorang dokter menyarankan si bapak mengganti asupan susu formula si bayi menjadi air susu ibu, untuk sementara, hingga berat badan si bayi mencapai ukuran aman. Dokternya membantu si bapak untuk mencari asi donor sementara.

Satu sore, si bapak datang dengan tas, 10 botol kosong pengganti,  dan es batu. Tiba-tiba kantong plastik merah yang cukup berat disodorkan pada saya. Duhh, saya lupa bilang pada si bapak untuk tidak membawa apapun untuk saya selain botol kosong pengganti. Saya jadi tidak enak.

Sembari membereskan asi perah beku, si bapak berujar. “Yang dikasi banyak, ya banyak, yang dikasi dikit, ya dikit.” Duh Gusti, hancur hati saya, rasanya sedih mendengar seorang berkata begitu. Sedikit rasa bersalah menelusup ke batin saya.

Lalu si bapak, berhati-hati mengikatkan kotak berisi asi perah beku itu di motornya. “Semoga bermanfaat ya Pak.”

Sepulangnya si bapak, saya membuka bungkusan plastik yang diberikannya kepada saya tadi. Air mata tiba-tiba meluncur bebas di pipi saya. Tidak jelas kenapa saya menangis, tapi air mata tidak bisa berhenti. Kenapa sih si bapak musti bawa-bawa, saya benar-benar tidak enak jadinya. Makin merasa bersalah.

Omong-omong, pada kesempatan kedua, si bapak bikin saya nangis lagi, dia bawa roti. hiks. Semoga si dedek lekas ndut ya Pak, semoga bermanfaat.

Omong-omong, apelnya manis, dan rotinya lembut sekali.

/salam perah.