Cemburuku pada Laron⁣

Pernah lihat laron yang mengepak sayap mengelilingi sumber cahaya? Mereka hendak cari pasangan kawin di sana. Pun kegiatan terbang membabi-buta itu taruhannya umur, mereka tidak mundur.⁣

Laron hanya punya waktu maksimal empat puluh menit untuk terbang. Jika dalam waktu sedemikian itu tak ada lawan jenis yang tertarik, nasibnya naas. Entah semaput karena kelelahan, dimakan semut, terinjak kucing, atau tertimpa sendal jepitmu.⁣

Ya, meskipun banyak cerita tragis dan hanya sebagian yang berakhir romantis, aku pikir nasib laron itu sungguh lebih baik daripada nasibku. Laron punya kesempatan untuk mempertaruhkan peruntungan hidupnya dalam satu waktu. Kawin, atau tamat!⁣

Aku?⁣
Setelah lebih sepuluh tahun terbang dekat, terbang jauh, mencoba menarik perhatian manusia yang menyentuh inti hati, hasilnya ya begini-begini saja.⁣

Tak hidup, tak mati.⁣

/ode rindu tak berujung nomor 891

2 thoughts on “Cemburuku pada Laron⁣”

  1. Kurasa laron juga akan berpikir kalo nasibmu lebih baik daripada mereka. Ada kesempatan kedua untuk kawin, lalu kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya. Tak mau kawin juga tak mengapa, tak mati. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *