Cinta Menguar dari Banjar

Pernah dengar istilah banjar? Bukan, ini bukan cerita soal Kota Banjar yang ada di Jawa Barat, tapi ini cerita soal banjar yang ada di Bali.

Banjar merupakan pembagian wilayah administratif di Provinsi Bali, berada di bawah Kelurahan atau Desa, dan setingkat dengan Rukun Warga. Di Bali, Banjar menjadi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah.

pendeta dan banjar
pendeta dan acara adat di pura

Banjar punya wewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Tidak begitu dikenal memang, tapi fungsi banjar luar biasa besar. Banjar punya peran dalam kehidupan sehari-hari, hingga kejadian penting dalam hidup anggotanya. 🙂

Dulu, banjar mengatur sistem subak. Dalam subak diatur masalah pengairan juga masalah lain yang berkaitan dengan pertanian seperti misalnya penanggulangan hama, pengadaan upacara di pura subak, membantu anggota yang akan memanen sawah dan sebagainya. Makin ke sini, fungsi banjar mengalami perubahan sesuai kebutuhan, saat ini banjar cukup banyak berperan untuk upacara.

Teman saya yang asli Bali, bilang, upacara apapun baik kelahiran, tumbuh besar, pernikahan, juga kematian dari satu keluarga akan diurusi oleh banjar. Istilahnya sih jadi kerjaan satu banjar. Meski secara admistratif banjar hanya setingkat RW, tapi secara moral dan budaya, banjar jauh lebih mengikat karena berhubungan juga secara emosional dengan anggotanya.

metetulungan
metetulungan, gotong-royong banjar menyambut upacara

Saat upacara penting akan berlangsung, semua yang tergabung dalam banjar akan ikut metetulungan/mebanjaran untuk membantu persiapan. Bantuan yang diberikan beragam, sebagian besar dalam bentuk tenaga, sebagian lagi membantu dalam bentuk barang seperti beras atau telur untuk banten (sesaji).

banten
banten

Upacaranya kan banyak, pengeluaran banjar tentu saja ikut banyak kan, ya? Nah, kelancaran pendanaan untuk banjar ini ternyata ditanggung  bersama juga. Iya, bener banget, gak cukup bertanggung jawab untuk keuangan banjar, warga se-banjar masih ikut bantu-bantu saat kegiatan dilakukan.

Luar biasa, ya. 🙂

pengantin bali dalam acara di banjar adat
Pengantin bali dalam acara di pura. Upacara ini dibantu warga banjar

 

Kalau diingat-ingat, keterikatan masyarakat dalam satu banjar ini ada mirip-miripnya dengan STM alias Serikat Tolong Menolong. Bedanya, serikat yang belakangan saya sebut ini peran sertanya terbatas untuk membantu keluarga yang berduka saat ada kemalangan.

Model pembiayaan STM juga sedikit mirip dengan banjar. STM biasanya menetapkan iuran bulanan, iuran ini digunakan untuk membeli kain kafan, menyewa tenda, dan keperluan penguburan lainnya.

Kembali soal banjar. Agar pengelolaan banjar berjalan baik, masyarakat dalam satu banjar memilih kelian banjar  (pemimpinnya) sendiri bersadarkan kesepakatan bersama. Kelian banjar dipilih dalam periode tertentu (tidak sama antara satu banjar dengan lainnya). Saat pemilihan, calon kelian banjar tidak harus tetua, tapi bisa juga yang muda. Cukup demokratis.

Ketertarikan saya pada sistem banjar membawa pencarian pada makalah yang dibuat Mayda Yanti untuk mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam makalahnya, Mayda menggolongkan banjar dalam dua jenis, yaitu banjar adat dan banjar dinas. Selain nama, tugas dan fungsi banjar juga berbeda.

Banjar Adat ini sifatnya wajib ada untuk setiap desa adat di Bali. Bahkan banjar adat jadi salah satu syarat terbentuknya desa adat. Biasanya anggota banjar adat itu sendiri merupakan warga asli.

Sifat-sifat banjar adat yaitu :

  • Keanggotaan bersifat homogen yaitu beragama sama (Hindu).
  • Kegiatan sosialnya meliputi pasuka-dukaan (suka-duka).
  • Diikat dengan awig-awig alias hukum adat yang disusun dan harus ditaati oleh krama (masyarakat)
  • Dipimpin oleh kelian adat.
  • Bersifat otonom.

pernikahan, salah satu kegiatan banjar

Banjar Dinas tidak wajib dimiliki oleh setiap desa adat. Kegiatan banjar dinas (jika ada) meliputi pengurusan KTP, domisili atau hal administratif lainnya. Anggota banjar dinas bisa jadi orang-orang yang tidak asli dari desa adat.

Sifat-sifat banjar dinas yaitu :

  • Keanggotaannya bersifat heterogen.
  • Kegiatan sosialnya tergantung dari program pemerintah.
  • Diikat oleh peraturan atau undang-undang dari pemerintah.
  • Dipimpin oleh kelian dinas.

Sejak kapan banjar ada?
Nah, untuk yang satu ini saya belum ketemu jawabannya, namun dipercaya istilah banjar telah dikenal pada jaman prasejarah bali. Beberapa website menuliskan info soal prasasti yang dibuat pada tahun 836 caka atau 914 masehi. Prasasti itu dikatakan menuliskan “……ser tunggalan banjar di indrapura.” yang artinya “….pengawasan bersama tunggalan untuk lingkungan atau kelompok di indrapura.” Sayangnya, setelah mencari kesana-kemari, sumber asli soal prasasti ini juga belum mampu saya temukan.

Apapun asalnya, bagaimanapun proses terbentuknya, masyarakat Bali patut bangga memiliki sistem banjar dalam pengaturan kegiatan adatnya. Lewat banjar, gotong-royong bukan lagi sekedar kata, tapi mahakarya Indonesia yang berbuah jadi tindakan nyata.

/salam Indonesia

9 thoughts on “Cinta Menguar dari Banjar”

  1. Aku pun baru tahu soal istilah banjar ini setelah tanya sama teman di bali. Memang pengaruh dari banjar ini luar biasa ya, bisa menggerakkan pemuda-pemuda bali untuk lebih aktif dan kreatif.

  2. Betul sekali, Rere. Banjar (adat) termasuk garda depan pemeliharaan budaya dalam keseharian. Oya, awal th 2000-an, waktu sawah-sawah Ubud rata-rata masih sepi, jam 8 malam kita bisa dengar suara gamelan yang dimainkan dari banjar yang letaknya 1km-an lebih. Oh rasanya.. Bali is the best! 🙂

  3. kemarin sempat bertanya2 tentang banjar, karena ada temen yg bilang komunitas banjar bali di Malang. apa itu belum sempat cari tahu apa itu, ternyata sistemnya seperti ini ya. menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *