Delapan Malam di Bhumi

Bhumi adalah titik pertama liburan saya. Bhumi jadi pilihan karena review baik dari teman-teman yang sudah mencoba menginap di sana lebih dulu. Review dari pengunjung di situs hostelworld, booking, dan tripadvisor juga oke. Jadi, ya, dengan senang hati saya melangkahkan kaki masuk ke Bhumi di pertengahan Februari kemarin.

Papan tulis di pintu masuk Bhumi

Oh iya, lokasinya Bhumi Hostel ini ada di Kotagede. Menurut teman-teman yang orang Jogja, lokasinya cukup jauh untuk dijangkau. Tapi, karena ga punya rencana sering-sering ke luar hostel buat main ke lokasi-lokasi wisata, saya tetep klik “book” di webnya http://www.bhumihostel.com.

Selama menginap di Bhumi, banyak hal-hal menyenangkan yang saya rasakan. Ini pertama kalinya saya tidur di hostel, biasanya kalau liburan selalu pilih hotel atas nama keamanan dan kenyamanan. Tapi, karena ini liburan sendirian, dan sepertinya asyik juga tidur bareng orang-orang yang ga saya kenal sebelumnya, kenapa nggak. 🙂

Kamar untuk 6 orang dengan tempat tidur tingkat

Jadi, saya pesan kamar model dormitory di Bhumi, selain model dorm Bhumi punya kamar private untuk dua orang. Harganya tentu saja jauh lebih murah yang versi dorm yaaa. Untuk dorm ratenya Rp 75rb-125rb, kalau private room ratenya Rp 230rb-260rb, variasi harga tergantung season.

Setiap tamu di Bhumi punya hak dapat tempat tidur sesuai pesanan, selimut, handuk, dan seprei bersih. Kalau menginap lama, boleh minta seprainya diganti tiap 3 atau 4 hari sekali. Model kamar mandinya di luar, kloset sama shower dibedain. Untuk showernya ada yang air dingin sama air hangat. Ada juga sabun mandi di tiap kamar mandi.

Bhumi punya halaman depan yang luas. Ada beberapa bangku dan meja buat duduk-duduk santai, ada kursi malas, ada Scottie, Janne, Sugih, dan Cleo (empat nama belakangan ini adalah anjing dan kucing peliharaannya Bhumi).

Kalau baru masuk ke Bhumi, pasti dapet gonggongan dari anjing-anjingnya, tapi gapapa, mereka ga galak sama sekali. Masuk aja ke terasnya, nanti ketemu lobby ala-ala di ruang depan. Ada meja besar dan bel buat manggil (kalau kebetulan mejanya kosong).

Kalau udah selesai urusan daftar-daftaran, nanti akan diajak muter-muter hostel dan dikasitau fasilitas yang mereka siapin ada apa aja. Hostel ini punya lemari buku yang nyediain buku-buku peninggalan tamu dari berbagai negara, boleh tukeran buku juga kalau suka.

Lalu ada free flow coffee & tea, tentu saja semua harus bikin sendiri, ya. Ada dapur bersama yang bisa dipakai, jangan lupa setelah masak bersih-bersih alat masaknya juga. Ada meja panjang di area dapur yang biasanya dipakai untuk kumpul-kumpul waktu sarapan dan buat main seru-seruan kalau malam.

Soal sarapan, tadinya ekspektasi saya sangat rendah, yang kepikir di otak ahhh palingan nanti cuma dapat roti sepotong sama teh. Eh, ternyata nggak lho! Sarapannya lumayan enak dan bikin kenyang.

Saya paling suka pas dapat jatah sarapan kue jajanan pasar. Sayangnya model sarapan di Bhumi ini ga berulang, tiap hari ada menu baru, jadi cuma sekali aja ngerasain nyemil kue jajan pasarnya.

Buat makan malam atau makan siang, ga usah khawatir, banyak tempat jajan enak di sekitaran Bhumi. Yang paling saya rekomendasikan adalah Bakmie Jawa, cuma beberapa langkah dari pagar Bhumi, persis di pinggir Lapangan Karang. Harga bakmienya murah, porsinya besar, dan rasanya enak!

Nah, buat cemilan bisa pilih macem-macem juga. Kemarin saya beli batagor yang seporsi lima ribuan rupiah trus jajan es doger yang harganya tiga ribuan. Sempet juga jalan kaki ke Superindo buat beli edamame, plus pesen mie ayam Tumini yang katanya terkenal itu via gofood.

Tapi selain fasilitasnya yang oke punya dengan harga terjangkau, yang saya syukuri dari keputusan menginap di Bhumi adalah kesempatan untuk mengenal orang-orang baru dari belahan dunia berbeda.

Entah karena suasana Bhumi yang mendukung, entah mas menejer Bhumi yang pinter bikin akrab suasana, atau entah karena kebetulan orang-orang yang lucu dan mudah berteman bertemu di satu waktu, delapan hari di Bhumi seluruhnya adalah pengalaman manis.

Ga cuma main kartu dan ngobrol-ngobrol di hostel, tamu Bhumi sampai sewa motor rame-rame untuk main ke Kalibiru, Air Terjun Sri Gethuk, Borobudur, Prambanan, dan Gereja Ayam. Beberapa berpisah untuk melanjutkan perjalanan, termasuk saya, sisanya berkumpul lagi untuk main ke Bromo, Ijen, dan Bali. 😀

Terima kasih untuk memori membahagiakan, Bhumi. Semoga satu saat nanti punya kesempatan untuk mampir lagi! ^^

BHUMI Hostel 
Alamat: Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172, Indonesia
Telepon: +62 274 2841017
Provinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta

10 thoughts on “Delapan Malam di Bhumi”

    1. Eh, Sri Gethuk yaaa…
      Terlalu semangat ngetiknya, tak edit dulu.

      Ooww, wahhh, seleramu? Sayang amat ga mampir sini kemaren kann!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *