Di Mana Semuanya Bermula

Hati terbuka lebar-lebar saat dia mendekat. Dia tak mengetuk, hanya mondar-mandir di depan mata. Lalu saya jadi berharap.

Menurut saya, dia sudah jatuh terpesona. Lama saya berpikir demikian. Saya duduk manis, menunggu didatangi.

Tapi dia tak mau mampir.

Saya pikir, yang begini mestinya diperjelas dari awal, supaya saya tak jadi terluka nantinya.

Satu sore, saya tanyakan langsung. Kata dia, cuma hati saya yang merasa. Dia kosong saja.

Permulaan yang pahit. Mestinya sih, kalau pahit begini, siapa-siapa yang waras sudah mundur teratur. Menghindar sebelum luka dalam tadi jadi bernanah dan bau.

Sayangnya saya bukan salah satu dari mereka yang waras itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *