#DiBalikSecangkirKopi – Mamak dan Kopi

Saya selalu mengandalkan kopi pada masa-masa genting kehidupan.

Mamak menyeduhkan saya kopi sewaktu bermalam-malam begadang menuju ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saya belajar bukan main tekunnya karena semata-mata tidak ada pilihan lain selain lulus.  Mamak bilang tak ada dana untuk menguliahkan saya di kampus swasta.  Dulu, uang kuliah di kampus negeri memang jauh lebih murah, saya hanya membayar 300-an ribu rupiah per semester. 

Saat berbulan begadang menyelesaikan skripsi, saya kehilangan kopi seduhan mamak. Saya menyiapkan air panas di dalam termos, kopi sachet di dalam lemari dan menyeduhnya berkali-kali dalam satu malam. Berharap rasa kopi yang saya minum sama dengan rasa kopi seduhan mamak. 🙂

Mamak tak pandai berkiriman pesan singkat alias sms. Kalau rindu sudah pekat, saya turun empat lantai-menyeberang ke warung telepon (wartel) dan menyapanya sekejap. Tak mampu lama-lama, tagihan telepon bertambah dengan cepat, macam kilat. Saya menyesap ruh-nya dalam tiap kalimat yang kami perbincangkan. Saya yakin setiap kata yang mamak ucapkan adalah doa.

IMG_20141127_091507

Lepas masa kuliah, saya kembali menggantungkan mata, pikiran, dan konsentrasi saya pada segelas kopi saat berhari begadang latihan mengerjakan soal psikotes untuk ujian masuk kerja di Koran Tempo. Doa mamak lumayan lancar terdengar kali ini karena adik di rumah sudah punya telepon genggam! 😀

Kopi kembali menorehkan jasanya saat saya dan pacar memutuskan menikah dan orangtua mewajibkan kami mengikuti acara perkawinan adat ala Batak yang sepertinya tak habis-habis. TERBERKATILAH PETANI KOPI!!

gambar pinjam dari sini
gambar pinjam dari sini

Tak seperti mamak, saya tak pintar menyeduh kopi. Untuk sehari-hari saya memilih minum kopi instan. Rasanya tak masalah, kopi + gula, atau kopi + gula + susu, atau malah kopi + gula + cream, Bebas saja.

Saya menikmati segala jenis kopi tapi saat ini belum berminat untuk roasting kopi sendiri. Menakar, menggiling, lalu menyeduh kopi sebelum bisa menikmatinya terdengar cukup merepotkan.

Sekali lagi, saya penikmat kopi instan. 🙂

Yang jadi pikiran saya sewaktu menikmati kopi instan adalah sampahnya. 😐
Saya sering membayangkan, seberapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dari bungkus kopi instan tiap harinya, dan iya-saya adalah salah satu kontributornya. 😐

kopi instan

Saya pikir, pasti menyenangkan kalau ada teknologi yang memungkinkan kopi instan disajikan dalam kemasan kertas atau kemasan yang sangaaat kecil, jadi jumlah plastik yang terbuang bisa lebih sedikit. Tak perlulah bungkus kemasan yang besar-besar kalau isinya hanya sepertiganya saja.

Kemasan kopi paling kecil yang pernah saya temui adalah Nescafe Classic ukuran 2gram. sumber gambar
Kemasan kopi sachet paling kecil yang pernah saya temui adalah Nescafe Classic ukuran 2gram. (sumber gambar)

Untuk kemasan siap minum, pasti asik kalau design dan ukuran botol atau kalengnya disesuaikan supaya bisa digunakan kembali, jadi pot bunga atau tempat asesoris, misalnya. 🙂

sumber gambar
sumber gambar

Bukan, bukannya sok hijau dan peduli pada nasib bumi. Tapi ya sebagai manusia yang kontraknya di dunia cuma sebentar, sudah kewajiban untuk sama-sama jaga rumah kontrakan, supaya penghuni berikutnya masih bisa menikmati bumi dengan nyaman dan senang. 🙂

Ahh, bicara kopi begini-begitu. Saya jadi rindu kopi bikinan mamak. Semoga segera ada kesempatan segera pulang kampung dan bersua.

Sehat terus ya, Mak!
Sehat terus ya, Mak!

 

/Salam KOPI

Reh Atemalem Susanti
*twitter*       : @atemalem
*facebook*  : atemalem

5 thoughts on “#DiBalikSecangkirKopi – Mamak dan Kopi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *