Eceng Gondok Sebagai Sumber Energi Baru

Hai-hai, Kamis kemarin saya dan banyak teman-teman lain diundang jalan-jalan ke Rawa Pening. Rawa Pening ini danau alam yang ada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kalau main ke sini, mata rasanya dibelai-belai karena sejauh mata memandang panoramanya indah banget.

Oh iya, penting nih, jadi Rawa Pening yang ada di kaki Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran ini dikenal juga karena cerita rakyatnya, “Baru Klinthing”.

Dalam legenda diceritakan kalau Baru Klinthing adalah anak yang buruk rupa dan dihindari oleh semua orang di kampungnya. Dulu, hanya ada satu perempuan yang mau merawat Baru Klinthing.  Setelah lama tinggal sama-sama, Baru Klinthing titip bilang ke perempuan yang merawatnya untuk naik ke lesung “penumbuk padi” kalau dengar suara kentongan.

Setelah titip pesan, Baru Klinthing main ke lapangan dan bikin sayembara mencabut lidi. Ternyata, tak seorang pun, anak-anak/dewasa mampu mencabut lidi yang ditancapkannya.

Di akhir cerita, Baru Klinthing mencabut lidi dan muncullah semburan air yang semakin membesar. Baru Klinthing lalu lari sambil membunyikan kentongan. Karena peringatan Baru Klinthing, orang yang merawatnya selamat. Sedangkan genangan air akibat semburan makin lama makin meluas dan kemudian jadi danau yang dikenal dengan nama Rawa Pening.

Sayangnya, danau cantik ini  seluas  2.670 hektar ini terus mengalami pendangkalan. Hampir seluruh permukaan danau tertutup eceng gondok. Upaya pembersihan dan pelatihan pemanfaatan eceng gondok belum mampu mengurangi tekanan populasi tumbuhan ini.  1800 hektar dari total luas danau sekarang dihuni oleh enceng gondok. Kalau pada tahun 1995 kedalaman danau masih 15 meter, sekarang tinggal 3-7 meter saja.

Karena pertumbuhannya yang sangat pesat dan kehadirannya yang mulai meresahkan, PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menggali potensi baru pengolahan eceng gondok selain untuk produk kerajinan. Setelah cukup lama melakukan penelitian, Sido Muncul hadir dengan inovasi baru, pengolahan eceng gondok jadi sumber energi baru.

Dalam proses pengolahannya, semua bagian eceng gondok digunakan sebagai bahan baku energi baru pengganti minyak maupun gas. Pak Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul bilang upaya pengolahan eceng gondok ini diharapkan bisa bikin Rawa Pening bersih, lalu setelahnya bisa jadi tempat wisata dan bawa dampak ekonomi bagi sektor pertanian, perikanan, pariwisata, menambah persediaan air, juga meluaskan lapangan kerja.

Masalahnya, pengangkatan eceng gondok ini semacam kejar-kejaran. Pertumbuhan eceng gondok itu luar biasa cepat, bahkan lebih cepat dari proses pengangkatannya dengan kapasitas mesin yang ada sekarang. Bayangin nih, satu batang eceng gondok itu bisa berkembang biak jadi 1 meter persegi dalam waktu 23 hari aja, kak! Trus-trus kalau eceng gondok dipotong ga sampai akarnya, bagian bawahnya ini bisa berkembang jadi 8 batang baru. Huihh..

Karena hampir ga mungkin buat ngangkat eceng gondok dari danau sendirian, Pak Irwan berharap banget ada investor yang mau bergabung untuk proses pembuatan energi baru ini.

Eceng gondok di Rawa Pening
Eceng gondok digiring ke pinggir danau.
Eceng gondok digiring ke pinggir danau.
Eceng gondok ditarik ke daratan
Eceng gondok ditarik ke daratan
Eceng gondok ditarik ke daratan
Tumpukan eceng gondok di Rawa Pening.

Sebelum mengolah eceng gondok sebagai bahan baku, Sido Muncul sebelumnya sudah memproduksi wood pellet sejak Januari 2015. Bahan dasar pellet yaitu ‘ampas’ limbah padat jamu. Wood pelletnya sendiri oleh Sido Muncul dipakai sebagai bahan bakar boiler proses produksi jamu. Sampai sekarang, untuk proses produksi di pabrik Sido Muncul, bahan bakarnya 50% memakai wood pellet dan 50% sisanya gas.

Pak Irwan, waktu jalan-jalan kemarin bilang pengolahan eceng gondok ini jadi penting karena permasalahan eceng gondok ini terjadi juga di banyak tempat selain Rawa Pening. Danau lainnya yaitu: Danau Toba-Sumatra Utara, Bulilin-Minahasa, Sungai Seruyan-Kalimantan Tengah, Waduk Cirata-Purwakarta, Sungai Citarum dan Jatiluhur-Jawa Barat, Danau Batur-Bali, Danau Tondano-Sulawesi Utara, dll, juga membutuhkan solusi yang sama.

Seandainya pengolahan eceng gondok secara masif juga dilakukan di tempat lain, kawasan perairan bisa digunakan secara produktif untuk kepentingan lain, salah satunya untuk tujuan pariwisata.

EKSTRASI ECENG GONDOK

Pengolahan eceng gondong dari Rawa Pening dilakukan di pabrik ekstrasi, pertama semua eceng gondok dicacah lebih dulu jadi bagian kecil.

Setelahnya bagian-bagian kecil ini diantarkan ke alur pengolahan selanjutnya.

Di akhir proses, bentuk pelletnya akan seperti ini.

Seperti udah disebut di atas, selain eceng gondok, Sido Muncul juga mengolah ampas jamu untuk dijadikan pellet. Hebat ya, tak ada sampah yang disia-siakan begitu saja, semua diproses untuk digunakan kembali dalam bentuk yang berbeda.

ampas jamu, bahan dasar pellet
ampas jamu, bahan dasar pellet

Cek juga video dari Kang Motulz di bawah ini untuk lihat sistem pengolahannya, ya.

Kalau ini video perjalanan super lengkap dari Mas Yudi dan Kang Motulz sepanjang #sidopiknik kemarin. Keriaannya bisa ditelusuri juga via twitter/instagram dengan hashtag #sidopiknik.

Seru juga ya kalau banyak perusahaan yang ikutan ngolah eceng gondok untuk bahan baku. Modal yang dikeluarkan memang besar terutama untuk mesin-mesin pengeruk dan mesin pengolahannya. Keren nih Sido Muncul, semoga inovasinya menular, ya. ^^

/salam eceng gondok

7 thoughts on “Eceng Gondok Sebagai Sumber Energi Baru”

  1. pak irwan idolaku,, sido muncul ini emang dari dulu keren yaa, semua2 diolah,, semoga segera dapet investor yaa

    1. Pak Irwan idola kita semuaaaa..
      Ini bapak ya, dengerin dia ngomong bentar aja udah dapet puluhan ilmu kehidupan.
      Matang dan sukses.

      Hooh, semoga ada investor yang mau ngeramein

  2. baru tau mbak kalau bisa di buat beginian..jamu salah satu kesukaan saya kalau pagi atau sore..tapi blm pernah nyobain ala sidomuncul kecuali produknya yg nolak angin itu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *