Ekspektasi dan Realitas

Seorang teman, beberapa bulan lalu sempat ‘mengajarkan’ saya soal ekspektasi dan realitas. Saat itu saya cukup mengerti, memahami, dan mengamini apa yang dia katakan. Dengan besar hati, kesadaran penuh, saya memutuskan untuk mengurangi sedikit ekspektasi saya untuk semua hal.

Ya, untuk semua hal.

Belakangan, keputusan saya itu tinggal dongeng saja.

Sejak kecil, saya yang sudah harus berbagi hidup dengan lima saudara kandung, hidup berdasar atas kompetisi. Apapun yang saya lakukan pasti punya tujuan, saya biasa membayangkan tujuan itu dengan detail. Saya akan puas ketika tujuan itu tercapai, dan akan sedih habis-habisan jika ekspektasinya gagal.

Oke, kembali soal ekspektasi.
Saya baru tau kalau ekspektasi yang merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris dan jamak dipakai itu belum ada di KBBI versi daring.  Kalau dari Merriam Webster Dictionary, begini arti katanya:

Expectation by Merriam Webster

Nah, persis seperti itu lah rasanya kalau menanamkan ekspektasi untuk sesuatu, “percaya kalau sesuatu akan terjadi atau kemungkinan besar akan terjadi”, dan “yakin/percaya bagaimana sukses, asik, serunya sesuatu akan terjadi”.

Saya hampir tidak pernah menetapkan batasan untuk ekspektasi. Kadang kala melambungnya begitu tinggi. Ketika realitas, yang datang menumpang truk tronton bermuatan maksimal, datang tiba-tiba. Menabrak. Saya pecah. Hancur. Berkeping.

dan butuh waktu lama untuk sembuh.

 

Selamat siang, temans.
Sudah, begitu saja sesi curhat untuk hari ini.

/salam patah hati

 

 

4 thoughts on “Ekspektasi dan Realitas”

    1. Hooh, anehnya udah tau kalau ekspektasi bisa begitu perih ya ndak lantas mundur.
      Malah cari jalan lain sambil pasang harapan kalau yang ini akan berhasil.
      Lalu gagal lagi, dan lukanya yang belum sempat sembuh tadi, terbuka lagi.

      Sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *