Embun dan Agama: Mengenalkan Beda, Meluaskan Cinta

Sebelum Embun lahir, tanggung jawab agar bisa menemani dia jadi besar sudah saya sadari, sesadar-sadarnya. Saya tau, manusia yang akan numpang lahir dari badan saya ini nantinya akan jadi bagian masyarakat dunia. Saya, mendapatkan tugas istimewa, berjalan bersama untuk kemudian melepaskan dia terbang sendirian.

Salah satu hal yang jadi fokus saya, adalah mengenalkan perbedaan. Entah itu suku, agama, warna kulit, golongan, harta, dan lain-lain. Kerja berat iya, tapi karena dilakukan sambil jalan, jadi ga begitu kerasa. Oh iya, ini bukan kerja satu hari, jadi kalau hari ini udah dikasitau, besok-besok tetap harus dikasitau lagi, supaya lebih nempel ke anaknya.

Di tulisan ini, saya ingin cerita soal pengalaman saya mengenalkan aneka rupa agama dan rumah ibadahnya kepada Embun.

Niat ini sebenarnya sudah ada sejak Embun umur 5 tahun, tapi karena berbagai pertimbangan, saya mundurkan hingga 2 tahun kemudian. Meski mengunjungi rumah ibadah mundur tapi pemahaman soal agama dan cara bersikap ke pemeluk agama lain udah saya ajarkan sejak dia TK.

Niat saya semakin kuat saat Embun mulai banyak tanya soal halal, haram, soal Natal, dan soal tetangga yang beda agama. Embun sekarang sekolah di tempat yang homogen, seluruhnya muslim, dan seluruh pelajar+pengajar perempuan berkerudung.

Ga ada yang salah dengan sekolahnya, tapi saya ga mau Embun berpikir kalau yang ada di dalam sekolahnya adalah kebenaran mutlak. Saya ga mau Embun asing apalagi alergi dengan perbedaan. Saya ingin, nanti ketika dia sudah pergi terbang sendirian, perbedaan bukan masalah buat dia. Saya berharap dia jadi manusia yang sayang dengan manusia lainnya.

Jadi, gimana perjalanannya?
Begini…

Kristen Protestan – Gereja Zebaoth dan Gereja Ayam (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat Pniel Pasar Baru)

Embun dan saya mampir ke Gereja Zebaoth akhir pekan dua minggu lalu. Tadinya saya ga berniat mampir, tapi ketika naik ojek menuju lokasi kopdar dengan teman di Bogor, bangunan gereja kelihatan dan segera membius mata saya.

Di gereja, Embun cuma liat-liat aja dari luar. Kebetulan pas kami tiba, di gereja sedang ada ibadah, jadi saya segan minta izin untuk masuk. Di luar gereja ada petugas dengan jubah dan semacam syal panjang berdiri menyambut jemaat. Kami berdua sempat dipandangi, mungkin dikira jemaat dan akan dipersilakan masuk. Tapi saya cuma kasi senyum dan ajak Embun melipir ke sisi lain gereja untuk lihat-lihat.

Di luar gereja Embun tanya beberapa hal:

“Jadi di sini Kak Shera gereja?”
— Iya. Tapi bukan di sini.
“Tadi katanya ini tempat ibadah Kristen?”
— Iya. Tapi sama seperti masjid, gereja ada di banyak tempat. Mungkin Kak Shera gerejanya yang dekat rumah. Bogor kan jauh.
“Jadi, Kak Shera ga gereja di sini?”
— Bukan begitu juga. Kak Shera bebas mau ke gereja mana aja. Sama seperti kamu bebas shalat di masjid mana aja.

Lalu, pas ada suara koor kedengaran dari dalam gereja, dia tanya lagi:

“Kenapa mereka nyanyi?”
— Karena itu salah satu bentuk ibadahnya. Isi lagunya biasanya pujian, buat tuhannya. Embun mau nyanyi?
“Ga mau. Kalau kita sedang ibadah ga boleh berisik ya. Di hushh-hussh gitu kalau ada yang ribut”.
— Di gereja juga ga boleh ribut kalau ibadah, kalau waktunya berdoa ya harus tenang.

Saya cukup deg-degan menanti pertanyaan dia berikutnya. Saya ga tau banyak soal ritual ibadah di gereja dan kalau jawab ngasal nanti malah salah. Untungnya Embun langsung sibuk sama tanaman yang tumbuh subur di depan gereja. 😀 *emak selamat

Beberapa hari lalu, kegagalan masuk ke gereja terbayar di Gereja Pniel. Saya ajak Embun ikut event Ngopi Jakarta di Pasar Baru, dan salah satu agendanya adalah berkunjung ke Pniel. Di Pniel Embun tanya soal macam-macam. Soal cara berdoa, soal kaca patri, soal cawan suci, dll.

Untungnya saya bisa jawab karena acara Ngopi Jakarta itu diterima petugas gereja, jadi setelah dengar informasi dari petugas, saya tinggal meneruskan ke Embun. 😀

Kristen Katolik – Katedral Bogor, Paroki Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis)

Sama seperti di Zebaoth, saya dan Embun juga ga masuk ke Katedral Bogor karena sedang ada jadwal ibadah. Di sini kami cukup lama duduk-duduk, lihat jemaat hilir-mudik, trus sempet jajan kue ape di depan katedral juga. 😀

Di Katedral Embun kasi pertanyaan yang lumayan sulit saya jawab:

“Itu patung apa?”
— Itu Bunda Maria, lagi gendong Yesus.
“Itu siapa?
— Itu orang-orang suci, yang disebut dalam doa orang Katolik.

Sampai di sini dia kayanya agak bingung. Emaknya juga ikut bingung, dan masih deg-degan, khawatir anaknya nanya lebih jauh dan lebih susah. Syukurnya di Katedral ada pohon kamboja, anaknya langsung sibuk main-main dengan bunga. Hufft, emaknya harus lebih banyak belajar nih.

Budha – Konghucu.
Vihara Dharma Jaya – Kelenteng Sin Tek Bio

Kelenteng Sin Tek Bio jadi tempat ibadah yang paling menarik perhatian Embun. Di sini banyak patung dewa (anaknya memang hobi liat patung), banyak lilin, dan banyak warna-warna cerah.

Pertanyaan buat saya membanjir keluar di kelenteng ini. “Itu patung apa, kenapa ada lilin, kenapa ada makanan, yang dibakar itu apa, dll”.

Syukurnya, ada penjaga kuil yang bisa bantu jawab pertanyaan. Saya bisa menjelaskan ke Embun soal dewa-dewa yang disembah, juga soal uang kertas yang nantinya dibakar sebagai persembahan untuk orang-orang yang sudah meninggal.

Kemarin saya sempat tanya soal jemaat yang berdoa di kelenteng, apakah umat Budha atau Konghucu. Petugas bilang di Sin Tek Bio kedua umat bebas datang untuk berdoa.

Hindu – Hare Khrisna, Sri Sri Nilacala Ksetra Ashram

Di Hare Khrisna kami dapat banyak informasi. Satu yang nyantol di kepala Embun adalah, pengikut Hare Khrisna ga makan hewan alias vegetarian. Untuk memenuhi kebutuhan protein mereka pakai sumber nabati dan mengambil susu dari sapi yang dipelihara dengan kasih sayang.

Ini pertanyaan Embun waktu mampir ke Hare Khrisna:

“Kalau sapinya mati, sapinya dibakar atau dikubur?”
— Sapinya dikubur, sama seperti manusia.

“Yang di depan itu namanya siapa aja?”
— Itu perwujudan Khrisna dalam 3 rupa. (Semoga emaknya ga salah jawab).

=======================

Saya baru berhasil menemani Embun ke tempat-tempat di atas. Masih banyak PR-nya. Kami belum sempat main ke pura, belum sempat juga main ke Baduy untuk lihat ritual Sunda Wiwitan. Yang sudah kami lihat sama-sama paling-paling hanya 1 persen dari aneka rupa manusia.

Semoga kami diberi waktu yang panjang buat jalan-jalan dan ketemu lebih banyak orang untuk merayakan perbedaan. Persis seperti yang dibilang Mpu Tantular di Kitab Sutasoma: bhinneka tunggal ika, beraneka itu satu!

/salam sayang untuk beda

 

 

 

37 thoughts on “Embun dan Agama: Mengenalkan Beda, Meluaskan Cinta”

    1. Karena ga ada yang salah dari beda, kan?
      Aku tuh suka sedih kalau ada orang yang tiba-tiba jijik pas liat babi, atau liat anjing.
      Binatangnya kan ga punya salah apa-apaaa.. 🙁

  1. Aku juga mengenalkan tentang 5 agama di Indonesia. Alhamdulillah, sekolah yang homogen juga mengenalkan hal itu. Aku juga terbuka menjelaskan tentang perbedaan agama. Seru ya Mba, makin besar makin roller coaster hehehe

  2. Mba, ku jadi terinspirasi dengan tulisanmu ini. Mengenalkan perbedaan pada anak emang udah tugas orangtua ya. Supaya anak belajar menghargai, menghormati dan punya toleransi yang tinggi dengan perbedaan.

  3. Terinspirasi banget sama tulisanmu mba. Mengenalkan perbedaan itu ide bagus banget, soalnya kita bakalan tumbuh di dalam perbedaan itu kan, bukan hanya agama. Tapi agama dewasa ini cukup.. apa ya istilahnya.. jadi isu banget lah. Kalau gak saling memahami kan sedih juga ya. Di sisi lain, sebagai orang dewasa juga perlu ada ilmu dulu ya mba, hehe, anak2 kan suka nanya. Keren nih Embun, kritis. Semoga tumbuh jadi anak yang pintar dan baik ya Embun.

  4. Btw aku juga baru tahu kalau muslim bisa ke gereja ._. Soalnya aku penasaran juga sih. Aku berkerudung pula. Masa aku lepas biar bisa masuk.

  5. Wah mba, luar biasa bangeett. Aku gak kepikiran sampai situ. Ak cuma mengajarkan sebatas gambar aja, blm sampe mengunjungi tempat ibadah langsung.

  6. waahh..suka nama puterinya mbaa, salam kenal yaa dek’ Embun, namanya unik dan punya nilai filosofis yang bagus juga. Btw saya juga terinspirasi melakukan hal yang sama ke anak-anak. Untuk gereja mungkin mereka tak asing tapi Pura dan wihara belum tahu sama sekali..

  7. Setuju banget, perbedaan harus diajarkan sejak kecil. Apalagi, Indonesia terdiri dari sejumlah agama dan memiliki rumah ibadah yang berbeda-beda. Langkah keren untuk mengajarkan toleransi beragama.

  8. Akh mama yang terbuka senangnya bisa mengenalkan segala macam agama sejak kecil . Embun akan tumbuh jadi gadis kecil yang menghargai perbedaan. Tapi jangan cepat besar ngun…ntar mama susah peluk lagi haha

  9. Ah senangnya Embun diperkenalkan kepada perbedaan tapi memang anak harus tau ya perbedaan yang ada dan buatku perbedaan itu indah banget. Karena aku hidup di 2 perbedaan agama. Dimana keluarga papaku Khatolik dan mama Islam, papaku memang sudah mualaf sejak ingin menikahi mamaku dulu.

  10. Aihh keren banget sih… Kalau untuk mengenalkan beda agama untuk anak-anak sih waktu Imlek aja soale kalau Imlek suka ke tempat Oma disana keluarga dari papa anak-anak agamanya beda-beda. Dengan mengenal perbedaan anak-anak lebih menghargai dan menghormati orang lain sih menurutku.

  11. Embun dan Kak Rere are my favorite couple of mom & daughter. Kalian itu too sweet deh! Senang kalau Embun sudah diajarkan soal perbedaan. Bahagia aja ngeliatnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *