Frozen, Nyeri

Film ini bertutur tentang tiga mahasiswa yang sedang liburan dan berski di bukit salju. Pada tahun-tahun sebelumnya, Dan & Joe selalu menghabiskan liburannya berdua saja, tapi kali ini, Dan membawa pacarnya, Parker.

Dan & Joe digambarkan teman sejak kecil, persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Drama mulai terjadi sejak awal film dimulai. Protes-protes Joe pada Dan, yang belakangan banyak menghabiskan waktu bersama Parker jadi pembuka yang manis. Percakapan ala lelaki ini, yang sepertinya cuma sekilas, menyentuh.

Parker digambarkan sebagai perempuan yang cantik dan manja. Ketidakbisaannya ber-ski menjadi bahasan utama 15 menit pertama.

Nyeri mulai bermula saat Joe mengusulkan satu putaran ski lagi sebelum istirahat. Di sini tanda-tanda “kesuraman” mulai terlihat.

Untuk naik ke atas bukit salju mereka mesti menumpang kereta salju (duduk di kursi yang dikerek menanjak). Di tengah perjalanan, ada miskomunikasi antara operator kereta dan petugas yang menggantikannya. Kereta salju berhenti, mesin kerek mati tiba-tiba, semua lampu juga padam.

Mereka mesti menyelamatkan diri sendiri, pasalnya bukit salju itu hanya buka akhir minggu. Artinya mereka akan mati kedinginan di kereta kalau tidak melakukan apa-apa.

Ketegangan demi ketegangan susul menyusul dari pertengahan sampai akhir film, Seterusnya? mesti nonton sendiri…. 😀

Film ini jauh dari membosankan, meski saya nonton menjelang tengah malam, ngantuk tak terasa sama sekali. Adegan-adegan yang ditampilkan sangat natural. Saya yakin, sepuluh orang penonton malam itu di blitz, merasakan nyeri yang sangat di beberapa bagian tubuh mereka.

Berani?

diletak juga di sini, dan di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *