Gaya Baru Malam Selatan: Kereta Ekonomi Penuh Kesan

Waktu pertama dapat undangan resepsi kawinan di Surabaya, otak saya langsung mikir macem-macem, soal penginapan, transportasi dll. Tadinya mau bawa mobil sampai Surabaya, tapi karena satu dan lain hal rencananya terpaksa diganti, dan saya memilih naik kereta.

Stasiun Senen

Nah, pemilihan kereta adalah hal kedua yang saya pikirkan. Karena udah pernah coba kereta eksekutif, saya memutuskan untuk coba kereta ekonomi ke Surabaya. Buka-buka tiket.com trus nemu kereta Gaya Baru Malam Selatan jurusan Stasiun Pasar Senen – Stasiun Gubeng. Harga tiketnya Rp 104.000 saja!

Buru-buru pesan buat pergi-pulang. Oh iya, kemarin kena biaya dari travelnya, Rp 7500/tiket, jadi total bayarnya Rp 111.500 sekali jalan.

tiket, cetak mandiri
mesin cetak tiket
ruang tunggu stasiun senen

Kereta berangkat pukul 10.30 pagi dari Stasiun Senen. Sebelum berangkat, penumpang harus cetak tiket dulu di konter yang disediakan. Karena masih ada waktu, saya sempat juga keliling stasiun dan nyobain toiletnya. Anw, toiletnya kok ya keren abis, mirip toilet mal. Bersih, wangi, ada air, ada tissue, dan cerminnya luas!

Karena jalan sendiri, saya cuma bawa satu ransel punggung, satu tas kecil buat naruh yang penting-penting, plus 1 tas kain buat naruh makanan/minuman. Enak juga ya light traveling kaya gini, ga ribet. Sering-sering ahhh. #eh

stasiun senen, gaya baru malam selatan

Keluar dari toilet, keretanya udah parkir cantik. Saya langsung masuk ke gerbong pertama, posisinya persis di belakang gerbong lokomotif + barang.

Kereta menuju Gubeng

Pas masuk, saya langsung senyum lebar. Waktu beli tiket, saya menurunkan ekspektasi ke tingkatan yang paling rendah, cuma ngarepin kereta ga ada gangguan dan jalan lancar. Ternyata pas masuk, keretanya bersih, AC-nya nyala, tempat duduknya ada pelapis.

toilet kereta

Toiletnya juga bersih, ada wastafel, tissue, semprotan air, dan pewangi ruangan. Oh iya, toiletnya ini diperiksa tiap beberapa jam sekali oleh petugas, jaga-jaga kalau mampet ato banjir.

Ruang Restorasi

Sebelum nyobain kereta Gaya Baru Malam Selatan, saya sempat browsing soal ruangan restorasi. Niat baiknya, kalau ada meja, saya mau numpang makan sambil kerja di situ. Tapi, sampai akhir mau berangkat saya ga nemu poto gerbongnya. Huhuhu..

Ternyata, kereta restorasi di kereta ini sama seperti kereta penumpang, bedanya ada ruangan tempat mas-mas petugas restoran kereta api untuk naruh barang, manasin makanan, dan melayani penumpang. Di gerbong restorasi ini lumayan sepi, petugas kereta banyak yang istirahat di situ.

Menu yang disediakan cukup beragam, ada nasi-nasian, kopi, teh, dan aneka minuman ringan. Oh iya, ga semua jajanan yang ada di daftar menu tersedia, bisa tanya mas petugasnya aja untuk menu hari itu. Semua makanan dijamin segar. Pas kemarin mampir ke sana, saya beli kopi + kebab, harga kebabnya Rp 20rb dan kopinya Rp 8rb. Kebabnya enak, tapi kopinya kemanisan buat saya.

Menu restoran kereta api
Gerbong restorasi
Ruang jajan di kereta restorasi
Kopi item pesenan saya

Sepanjang jalan saya lebih suka liat pemandangan, baca novel, dan dengerin musik. Pingin ngobrol sama orang di depan, tapi mereka sepertinya pasangan, sibuk sendiri, bikin pengen. #eh. Kalo bapak-bapak yang duduknya di samping saya kayanya ga suka ngobrol, kelihatan sibuk sama smartphonenya.  *lho kok malah curhat.

Intinya sih, perjalanan cukup panjaaaang. Supaya ga kerasa, bawa sesuatu buat nemenin, entah buku atau pacar. Ngobrol sama orang di sebelah juga dianjurkan, supaya ga bosan.

Petugas Kereta

Balik lagi soal pelayanan kereta, ya. Jadi, di kereta ini ada mbak dan mas yang lalu-lalang menawarkan makanan. Kita bisa beli makanan yang mereka bawa aja, kalau mau yang lain bisa langsung datang ke kereta restorasi.

Ini peristiwa yang bikin bahagia. Salah satu ibu di kereta yang sama dengan saya mengeluh kena air tetesan air conditioner. Ga lama, petugas, semacam manager on duty gitu langsung datengin si ibu, nanya keluhan dan menawarkan pindah ke kereta restorasi. Entah alasannya apa, Si ibu menolak dan bertahan dengan tetesan air. 😀

Saya kira penumpang ekonomi bakal dipandang hina, ternyata ngga lho. Sama-sama dilayani dengan baik dan dapat fasilitas sesuai dengan yang dibayar. Suka. 🙂

—————

Perjalanan menuju stasiun Gubeng makan waktu 14 jam 55 menit. Mayan banget bikin pegel sebadan. Pas udah mau tiba, saya baru ngeh keretanya berhenti di Stasiun Wonokromo. Sempat galau turun di Stasiun Gubeng sesuai tiket atau di Wonokromo karena lebih dekat dengan tujuan. Kuatirnya pas pemeriksaan tiket saya ga dikasi keluar karena tujuannya berbeda. Hahaha. *maklum pendatang baru.

stasiun wonokromo

Tapi terus saya milih turun di Stasiun Wonokromo karena lebih dekat. Stasiunnya udah sepiii, ya iyalah, udah hampir jam 2 malem. Keluar dari stasiun saya langsung ngidupin google maps buat petunjuk jalan kaki ke lokasi tujuan.

Kembali ke Jakarta beberapa hari kemudian, saya berangkat lewat Stasiun Gubeng. Ternyata, tiket keberangkatan itu harus dicetak di stasiun yang sesuai. Karena sudah beli tiket Gubeng-Senen, saya ga bisa berangkat dari Wonokromo.

Stasiun Gubeng

Sama seperti di Stasiun Senen, penumpang harus cetak tiket mandiri. Bedanya, di Stasiun Gubeng ini penumpang ga dibolehin hilir-mudik kalau belum jadwalnya naik. Saya sempat duduk-duduk di ruangan ini lima belasan menit sebelum pintu menuju peron dibuka untuk penumpang.

Setelah kereta hampir tiba, pintu menuju peron dibuka dan penumpang dibolehkan menunggu di bangku luar. Stasiun Gubeng ini rapi, ada pagar pembatas yang dijaga petugas. Jadinya memang ga bisa jalan-jalan keliling stasiun, tapi lebih aman.

tempat duduk pilihan

nescafe black

Anw, saya beli kopi sendiri kali ini. Sengaja beli yang judulnya Nescafe Black, dengan harapan kopinya bakal pait. Eh ya ternyata manis juga. Besok-besok kayanya perlu bekel kopi tubruk dari rumah biar ga kecewa. hahaha.. *malah review kopi

Berbeda dengan perjalanan menuju Stasiun Gubeng yang tiba tepat waktu, perjalanan pulang menuju Stasiun Senen telat sampai sekitar satu jam dari jadwal. Meski begitu, saya ga kapok naik kereta ekonomi. Harga tiketnya murah, kereta nyaman, AC berfungsi baik, dan bersih.

Berikut beberapa tips dari saya kalau-kalau teman mau coba naik kereta ekonomi juga:

  1. Bawa jaket dan kaos kaki. Saya sempet kedinginan di perjalanan, sengaja pakai celana pendek dan kaos lengan pendek karena mikirnya kereta bakal gerah.
  2. Bawa uang pecahan kecil buat jajan.
  3. Bawa cemilan. Kalau-kalau malas jalan ke kereta restorasi, cemilan bisa jadi penyelamat.
  4. Bawa buku kalau suka, atau earphone buat dengerin musik. Ga semua orang punya selera musik yang sama, kita bisa jadi bahagia, yang denger berduka. 🙁
  5. Datang tepat waktu ke stasiun. Pengalaman kemarin, pergi dan pulang keretanya berangkat tepat waktu banget.

/salam jalan-jalan

21 thoughts on “Gaya Baru Malam Selatan: Kereta Ekonomi Penuh Kesan”

  1. Sekarang kereta apa juga jadi moda transportasi favorit buat mudik dan baliknya. Selain lebih murah, nyaman, perjalanannya juga enak karena sempet baca buku dan tidur pulas selama di perjalanan. Udah berasa traveling jauh gitu hahahha.

    Thanks postingannya, Re. Kapan2 aku harus coba naik kereta ekonomi yg ini kayaknya.

    1. Tanya donk kereta api ekonomi banyak berhentinya yah di banding dgn yg eksekutif, kalau berhenti begitu banyak pengamen yg masuk dlm gerbong atau yg jualan ngga dlm gerbong?

      1. Tiap kereta beda-beda tempat berhentinya. Tapi iya, ekonomi lebih sering berhenti ketimbang eksekutif. Untuk pengamen/asongan gitu ga ada yang masuk sama sekali. Nyaman.

  2. Pengalaman menarik.

    Jadi ingat waktu masih reporter satu koran harian di Jakarta. Diundang liputan ke Surabaya, peresmian dermaga kontainer Pelindo III Tanjung Perak. Dari Beos Jakarta naik kereta ke Surabaya sehari sebelum acara. Tapi karena mendadak berangkatnya, saya naik kereta eksekutif tapi hanya sampai Semarang. Selanjutnya dari Semarang naik kelas ekonomi ke Surabaya. Jelas beda banget ketika itu, dari kereta nyaman ke kereta berjubel penumpang era 2000-an. Bayangin Semarang – Surabaya sambil jongkok. Begitu tiba di Wonokromo, cukup lama baru bisa berdiri. Betis dan paha kejang hehehe…

    1. SAMBIL JONGKOK!
      Huhuhu, denger ceritanya aja paha ngiluuuu, Bang!
      Sekarang udah jauh banget, jauh lebih enak.
      Nyaman, dingin, WC ada air, tepat waktu.
      Bahagia sekali.

  3. Jamanku sd dlu selalu naik kereta gayabaru malam kalo pulang kampung ke jombang, ,,,skrg udah punya anak pengen lagi nyobain naik kereta gayabaru , tapi apa daya, udah pindah pulau, yg kebetulan di sini gak ada rel kereta heheh

  4. wihhhh ada rencana ke surabaya nih dlm waktu dekat. makasih ni inpohnya. btw kursinya yg isi 2 huruf apa yah??

  5. Minggu depan mau coba naik kereta ini buat ke Jogja 🙂 Nyari2 di internet fotonya, takut ga ada AC nya hahaha… Eh nemu blog Rere. Ternyata lumayan bagus ya sekarang…

  6. Mau nanya dong
    . Klo kereta GBMS itu apakah lewat nya di tepi gunung ya?
    Baru mau coba nih naik GBMS .. udah beli tiket nya buat tgl 30 des nanti.
    Mksh

    1. Untuk rute ini sungguh aku tidak bisa membantu, Mba. Dua kali jalan selalu malam, jadi ga terlalu banyak liat pemandangan juga.
      Mungkin bisa dicek berdasarkan stasiun yang dilewati, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *