Gunung Ciremai Lewat Jalur Palutungan

Pertama kali memutuskan mau naik gunung lagi, saya sempet galau, antara Gunung Papandayan atau Gunung Lembu. Udah sempat daftar open trip Gunung Lembu, tapi batal karena kurang peserta. Bolak-balik galau, akhirnya saya malah ga milih keduanya. Setelah meneguhkan hati, saya pilih naik Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

gunung ciremai

Sebelum naik, saya udah browsing banyak banget soal Ciremai. Sempat tanya-tanya juga ke teman yang udah pernah naik. Awalnya agak seram karena banyak cerita mistis dari gunung ini. Tapi terus saya mikir, semua tempat apalagi gunung pasti ada penghuninya, tinggal gimana kita aja waktu datang ke sana.

Ada beberapa cerita yang jadi patokan sebelum naik, cerita soal beberapa pendaki yang disesatkan di Ciremai, lalu ada juga cerita dari Acen waktu mendaki via jalur Linggarjati, dan terakhir ada cerita Satya waktu mendaki via jalur Apuy.

Karena belum pernah plus ga punya beberapa peralatan (tenda & alat masak), saya ikut open trip. Minusnya ikut open trip itu harganya lumayan mahal, tapi plusnya ga perlu repot mikirin angkutan dan ga kebeban bawa barang kelompok. Jadi, bawaan lebih ringan dan lebih santai.

Kemarin kami berangkat ke pos awal pendakian lewat Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Dari Terminal ini kami naik bus jurusan Kuningan. Harga tiketnya Rp 80ribu. Perjalanan makan waktu sekitar 6 jam, tergantung seberapa lama sopir ngetem sepanjang jalan.

Untuk mencapai puncak Ciremai, kami memilih Jalur Palutungan. Jalur ini lumayan mudah didaki, tanjakannya ga begitu terjal. Jalur ini ada di di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Pos Palutungan bisa ditempuh dengan angkot dari titik perhentian bus. Ongkosnya rata-rata Rp 20ribu per orang, tapi bisa lebih mahal kalau jumlah penumpangnya dikit, pastikan nanya-nanya dan nawar dulu sebelum naik, ya.

Desa Palutungan
term n condition, baca baik-baik sebelum naik.
informasi pendakian, termasuk perkiraan waktu dan jarak antar pos.

Kami sampai di Desa Palutungan sekitar jam 4 pagi, masih ada waktu untuk istirahat dan makan. Selain kami ada beberapa grup lagi yang juga udah siap-siap mendaki pagi itu, jumlah peserta tiap grup bervariasi, ada grup kecil isi 2 orang, ada juga yang besar sampai 15 orang.

Pos Palutungan ini ada di ketinggian 1100 mdpl. Jarak vertikal dari pos ke puncak 1978 meter, dengan jarak tempuh 9,8 km dan waktu tempuh diperkirakan 10,5 jam. Pendaki biasanya mulai naik setelah matahari naik hingga sebelum matahari terbenam (sekitar 10 jam perjalanan), baru kemudian membuka tenda untuk istirahat.

Lokasi camp favorit pendaki di Ciremai ada di Gua Walet karena di lokasi ini tenda cukup terlindung dari angin dingin plus ada tetesan air gua yang bisa dipakai untuk minum dan masak-masak.  Tapi, menurut petugas jaga, sekarang ga disarankan lagi menginap di Gua Walet karena alasan kebersihan. Memang sih waktu kemarin mampir ke situ, banyak sampah peninggalan pendaki yang ga dibawa turun. Sedih. 🙁

Sebagai ganti Gua Walet, pendaki disarankan buka tenda di Pos Pesanggrahan atau Pos Tanjakan Asoy.

Gua Walet

Anw, sebelum naik setiap pendaki harus mendaftarkan diri dan memberi data yang lengkap, termasuk nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi untuk keadaan darurat. Setelah mendaftar ada kewajiban membayar tiket masuk Taman Nasional. Di Ciremai kami membayar Rp 50.000, yang dibagi menjadi Tiket Jasa Wisata Pendakian, Asuransi Eka Warsa, dan Karcis Masuk Pengunjung. Tiket ini berlaku per orang. 

mulai pendakian

Kami mulai naik jam 7.30 pagi, di awal kami melewati rumah, sekolah, sawah, kandang sapi, dan banyak sekali kebun. Jalannya kecil, tapi diaspal rapi. Kurang lebih setengah jam jalan kaki, pendaki akan bertemu shelter yang terbuat kayu tanpa dinding. Shelter ini jadi penanda berakhirnya perkampungan dan dimulainya area Taman Nasional Gunung Ciremai.

Jalur palutungan lumayan landai hingga pos kedua, Pos Cigowong. Jalurnya memang terus menanjak, tapi masih aman dan nyaman. Karena model hutannya yang cukup tertutup, pendaki ga begitu sering terpapar sinar matahari langsung. Sepanjang jalan kami ditemani lebah yang sok kenal sok deket, nempelnya di muka, di jidat, ngiung-ngiung di telinga. Tapi saya ga berani usir, takut dientup. 😀

sumber air di antara Pos Palutungan dan Pos Cigowong

Oh iya, ini informasi yang lumayan penting. Jalur Palutungan minim sumber air, dari pos awal sampai ke puncak hanya ada 3 sumber air. Sumber air pertama dan kedua saling berdekatan, sumber air ke tiga di gua walet. Supaya aman, masing-masing pendaki wajib bawa minimal 2 x 1500 ml air dalam tas + 1 botol lagi untuk disimpan di luar dan diminum sepanjang perjalanan naik.

Pos Cigowong,1450 mdpl, 5,6 km dari puncak

Pos Cigowong adalah tempat pertama dan terakhir pendaki ketemu warung untuk leha-leha. Di sini saya sempet jajan gorengan 10 biji, mijon, dan teh. Di warungnya juga ada banyak makanan lain seperti biskuit, popmie, aneka minuman ringan kemasan, dll. Harga makanannya lebih mahal ketimbang minimarket tentu saja. 😀

Gorengan kecil imut penyelamat jiwa ini harganya Rp 1500/buah

Di Pos Cigowong ini banyak pendaki yang istirahat, beberapa gelar matras dan masak-masak. Kami cuma leha-leha ngelurusin kaki, nyemil, trus lanjut jalan lagi. Dari Pos Cigowong, perjalanan mulai menantang, lahir dan batin. Kalau sebelumnya jalurnya cukup landai, sekarang mulai menanjak dan bikin perih paha.

Jarak antar pos semakin pendek, dari Pos Cigowong ke Pos Pesanggrahan (tempat kami rencana buka tenda) sekitar 4 km, dengan elevasi 1000 meter. Jalurnya terus menanjak, sesekali ada bonus, tapi konsisten naik. Di sini saya mulai berubah jadi onta, dikit-dikit minum, sampai habis sebotol sendiri.

TANJAKAN ASOY, baju udah basah kuyup

Pos yang lumayan saya ingat sepanjang perjalanan itu ada 2, Pertama Pos Arban. Konon pos Arban terkenal angker, sampai sampai ada papan peringatan Dilarang Bicara Sembarangan di sini. Saya sempet gemeter juga karena di pos ini tiba-tiba smartphone ga bisa dipakai buat foto-foto. Udah cabut batere, tetap aja fotonya ga muncul. Belakangan, waktu sampai di Jakarta, seminggu kemudian kira-kira, fotonya baru keliatan di hape.

Pos kedua yang juga berkesan adalah Pos Tanjakan Asoy. Pos ini ampuuunn, menuju dan meninggalkannya butuh keteguhan batin yang luar biasa. Jalurnya curam, saya yang tadinya masih berhitung kelipatan 30 langkah untuk istirahat akhirnya menyerah dan berhenti tiap 15 langkah. Sebelum nama posnya ditasbihkan, agaknya penemu sudah bermufakat kalau tanjakan di sini memang asooyyy…

Akhirnya, setelah 8 jam nanjak, Pos Pesanggrahannya ketemu saudara-saudaraaaa.. Duh gusti itu perasaan saya kaya baru dapet transferan, seneng banget bisa istirahat leyeh-leyeh, makan-makan, trus rebahan.

Ini salah satu menu yang kami nikmati di camp, telur dadar, sayur asem, nasi putih, tambah saus sambal biar rasanya mantaps!

MENUJU SUMMIT, Puncak Majakuning, Ciremai, 3.078 mdpl

Sebenarnya, paling oke untuk summit ke puncak itu waktu matahari terbit. Tapi apa daya, badan kok males gerak banget, mana pas sore dan malamnya hujan, jadinya niat bangun jam 3 pagi buat muncak cuma tinggal niat aja. Bangun-bangun dan sadar udah jam 6, sempat sarapan sebentar, trus beres-beres camp baru naik.

Normalnya, perjalanan menuju puncak butuh waktu 3 jam. Tapi karena saya jalannya lumayan lelet (padahal udah ga bawa carrier), jadinya waktunya memanjang sampai 4 jam. Sepanjang perjalanan saya sempat foto-foto juga sedikit. Omong-omong, jalurnya cantik banget kak, curam!

Dari persimpangan Jalur Palutungan – Jalur Apuy ini, sebenarnya puncak sudah ga begitu jauh, kurang lebih 45 menit. Tapi jalurnya lebih pedes daripada cubitan emak. 🙁

Pos Gua Walet

Nah, dari Pos Gua Walet ini tinggal 300 meter lagi ke puncak. Tapi karena ngebayanginnya aja kaki udah gentar, kami duduk-duduk dulu, nyemil dulu, minum dulu, poto dulu. Hahahah, ya gimana dong, gemetar liat jalurnya kak. Oh iya, ini jalurnya gabungan batu dan pasir, rawan terpeleset kalau kurang hati-hati.

Memang rezeki, setelah nyeri-nyeri di betis, di paha, dan di dada, kami berempat sukses sampai Puncak Majakuning Gunung Ciremai! Takbirrr! Itu pas sampai atas, segala-segala yang udah dilewatin sepanjang jalan berkelebat cepat di kepala. Maunya sih nangis kenceng, tapi maluuu, jadi diem aja trus rapatkan gigi kuat-kuat. 

Boleh kan ya ngerasa bangga ke diri sendiri? Saya udah sempat ngerasa ga mampu, sempat punya niat untuk mundur, beberapa kali terlintas. Saya sempat mau bilang “udah naik aja bertiga, biar aku yang jagain tenda”, tapi trus omongan itu saya telan sebelum sempat ke luar dari mulut. Saya memutuskan jalan terus, geret kaki, meneguhkan hati. *nangis

Hooh, saya pemimpi banget memang. Saya bilang ke diri sendiri kalau saya bisa, ga inget berat badan, ga inget umur. *lanjut nangis.

Anw, kami ga lama-lama banget di puncak, sekitar setengah jam aja karena udah tengah hari dan rencananya mau ngejar bus menuju Jakarta malam ini. Jadi, setelah foto-foto, kami jalan turun menuju Pos Pesanggrahan lagi. Kalau perjalanan naik makan waktu 4 jam, turunnya cuma perlu 2 jam.

Di camp kami beres-beres dan makan siang. Cuaca mulai ga enak, beberapa kali hujan kecil, hujan sedang, setelah mulai reda, sekitar jam 4 sore, kami mulai jalan turun.  Waktu kami sampai ke Pos Pangguyungan Badak, hari mulai gelap. Saya pakai headlamp untuk bantu liat jalan.

Entah kenapa pas mulai gelap itu saya kok rasanya kelelahan banget. Udah bolak-balik minum, bolak-balik berhenti untuk istirahat, tapi badan ga enak, kayak demam. Saya terus berusaha jalan, tapi tenaga rasanya abis banget, kayak disedot. Sampai di Kuta, saya udah lemes dan bilang ga kuat. Tapi karena tempatnya ga memungkinkan buat istirahat, saya diminta jalan terus sampai ke Cigowong.

Dari Kuta ke Cigowong ini saya udah kaya orang linglung sih, sempat dua kali jatuh terpeleset, pandangan juga mulai berkunang-kunang. Sekitar 200 meter sebelum Pos Cigowong, carrier saya diambil alih paksa oleh pacar dan dibawakan ke pos. *hujani pacar dengan banyak ciuman terima kasih*

Di Pos Cigowong, cerita horor kedua (setelah kasus foto di Arban) terjadi. Waktu itu hujan deras, saya menggigil. Saya udah bilang ke teman lain untuk ninggalin saya di pos, saya akan susul ke bawah besok pagi, tapi mereka ga mau dan ngotot nemenin. Di sini saya sempet mikir macem-macem, ngerasa bersalah karena udah memperlambat perjalanan, ngerasa bersalah karena gegara saya teman-teman ga bisa pulang ke Jakarta malam ini, ngerasa gagal karena ga bisa sampai target.

Tapi pas pikiran-pikiran itu mulai jalan-jalan di kepala, saya terus pakai prinsip biarin aja. Biarin aja perjalanannya nambah sehari karena nambah istirahat, daripada saya maksa terus jalan lalu cedera dan malah bikin susah banyak orang.

Jadilah, setelah minum teh anget, ganti-ganti baju basah, saya masuk ke sleeping bag, dan tidur sampai terbangun jam 1 pagi. Teman-teman dan pacar udah tidur semua di samping kiri-kanan, tapi suasananya kerasa rameeee banget. Saya tarik penutup kepala, saya ga mau buka mata, tapi tetap ngerasa ada dua perempuan yang jalan maju-mundur di sisi kepala.

Segala-gala udah dibaca, saya udah bayangin yang lain, sempet goyang-goyangin badan orang sebelah, tapi ga mau hilang, sampai sekitar jam 3-4 pagi akhirnya baru bisa tertidur. Rasanya lelah, tapi ga tau mau kesal ke siapa. 🙁

Jam 5 pagi, Pos Cigowong udah terang. Pas bangun, pacar sempat cerita kalau saya demam dan beberapa kali mengigau. Dia kuatir, tapi syukurnya saya masih selamat ga kenapa-kenapa. Jam 6, setelah beres-beres, kami langsung tancap gas turun ke bawah. Saya udah seger, pas turun kami hampir ga istirahat, jalan cepet banget.

Di bawah, kami disambut sama petugas Pos Palutungan yang nyampein pesan telepon. Mas Lasso, pemilik open trip yang kami beli ternyata udah beberapa kali telepon dan lumayan khawatir karena kami berempat ga ada yang bisa dihubungi. Padahal menurut jadwal malam itu kami harusnya udah sampai Jakarta.

Untungnya, masih ada untungnya, kami terhambat pulang bukan karena kesasar atau cedera. Kami cuma terjebak hujan + saya butuh istirahat dan ga bisa melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa catatan yang menurut saya penting selama perjalanan, semoga berguna buat teman-teman yang punya rencana mendaki:

  1. Bawa baju ganti cadangan kalau badan mudah berkeringat. Semua baju saya basah kemarin, saya sampai pinjam baju untuk pulang.
  2. Bawa uang lebih untuk jaga-jaga.
  3. Istirahat kalau lelah. Memaksakan diri boleh saja, tapi dengarkan juga kondisi badan.
  4. Cek perlengkapan sebelum berangkat, pastikan perlengkapan penting seperti matras, sleeping bag, headlamp, jas hujan, baju & celana, sepatu, kaus kaki, kaus tangan sudah lengkap.
  5. Saya pakai bantuan treking pole selama pendakian, lumayan bantu membagi beban badan.
  6. Pastikan latihan fisik sebelum naik. Faktor umur itu ngaruh banget.
  7. Jangan ganggu binatang yang ada sepanjang jalan, bawa turun sampah, ikuti jalur yang ada, dan tetap konsentrasi sepanjang perjalanan.

Walaupun ada drama sedikit, ya macam pemanis perjalanan, saya menikmati sekali perjalanan naik-turunnya.
Terima kasih sudah boleh mampir, Gunung Ciremai.
Terima kasih, dan sampai jumpa lagi.

/salam gunung-gunungan

18 thoughts on “Gunung Ciremai Lewat Jalur Palutungan”

  1. Hebat! gua tau banget tuh rasanya abis nerima transferan.. :))
    kalo udah berhasil sampe puncak lalu turun lagi dengan selamat, rasanya kayak nerima transferan, bayar ini itu, dan masih bisa belanja dan nabung nggak sih? haha..

  2. Kak Re, kamu idola ku!

    Aku lho baru jalan kaki 4.5 jam dari Ciboleger ke Cibeo (Baduy Dalam) aja udah cranky ke diri sendiri. Sebel gitu kenapa ga bisa lebih cepet.

    Nanti kalo musim hujan udah lewat, aku pengen cobain Papandayan ah, yang konon katanya paling gampang dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *