Hadiah untuk Embun

Dulu kala, saya adalah ibu yang gemar obral hadiah untuk anak. Jalan ke pasar, pulangnya bawa masak-masakan. Jalan ke toko, pulangnya bawa bola. Jalan ke supermarket, pulangnya bawa mobil-mobilan.

Hampir semua mainan yang saya belikan itu ada karena saya mengasihani anak. “Duh, mainannya cuma sedikit, beliin ah”. “Eh, mainan ini kan bisa menstimulus motorik kasarnya.” “Nah, kalau ini bisa menstimulus motorik halusnya.” Kali lain saya berpikir, “Mainan ini bikin dia kreatif”, dan seterusnya.

Ga cuma mainan, saya juga suka obral cemilan. Sepulangnya dari minimarket, hampir selalu ada satu kantongan yang isinya “cemilan untuk Embun”. Isi cemilannya biasanya biskuit, wafer, susu kotak, coklat stick, dll. Saya jarang beli cemilan buat diri sendiri, soalnya saya lebih suka nyetop abang-abang mie ayam kalau lapar.  😀

Makin kesini saya kok terpikir, kalau si anak selalu dilimpahi “hadiah”, bahkan tanpa dia usaha/minta, apa bagus, apa sehat?

Jadi, gimana?

Saya sekarang main stempel dengan anak. Saya beli buku gambar kecil, buat kotak-kotak di buku gambarnya, dan si bayi harus isi penuh kotak-kotaknya dengan stempel sebelum minta hadiah.

Isi penuhnya dengan apa? Dengan kegiatan sehari-hari, yang jalan tanpa ribet, tanpa ngamuk, saya ga perlu marah-marah. Misalnya : Jago menghabiskan makanan, jago mandi sendiri, pinter ke warung, mau tidur siang, ga ngompol kalau malam, ga berantem waktu main dengan sepupunya, dst.

Untuk setiap 1 perbuatan baik yang si bayi lakukan, berhadiah 1 kali stempel. 😀
stempel
1 halaman kotak-kotak itu bisa penuh seminggu. Awal-awalnya sih, saya yang mengingatkan bayi untuk “Yuk, ambil stempelnya, kita cap sama-sama.” 
Lama-lama, si bayi inisiatif sendiri. Bangun tidur siang, dia langsung bilang “Ma, Embun ambil stempel, ya..”. gitu juga kalau udah selesai makan dan mandi.  😀

Omong-omong, saya sebenarnya kuatir juga dengan permintaan si bayi. Terpikirnya, dia bakal minta yang susah dipenuhi atau yang terlalu mahal. Kalau begitu, saya harus menyiapkan alasan kenapa permintaan dia ga dipenuhi, padahal dia udah usaha bikin penuh buku stempelnya.

Di foto itu, stempelnya masih kosong tiga kotak, nah kemarin bukunya sudah penuh, dan si bayi boleh minta sesuatu sebagai hadiahnya.

Deg-degan…

Bayi : Horeee, udah penuh!
Saya : Horeee, Embun boleh minta hadiah, yah. 🙂

uhmm…
uhmmm…
duh, ini anak ga tau apa emaknya deg-deg seerr nunggu dia ngomong. uhmmm..

Bayi : Embun mau choki-choki, Ma!
Saya : Oke, silakan, ini dia hadiahnya. 😀

Hahaha, saya mikirnya udah jauh ke Roma, si bayi baru sampe Garut. Dia cuma kepingin coklat ternyata. haha..
Memang, selama ini saya kurang suka beli jajan coklat, permen, dan semacam ciki-cikian gitu.  Saya lebih suka jajanin biskuit.

Omong-omong, si bayi menikmati hadiahnya seperti kejatuhan makanan dari surga. Saya ga boleh mintak! 😀

Catatan :
Agak sulit mencari stempel bentuk-bentuk lucu di toko alat tulis di sekitar rumah saya, saya sampai berencana pesan buat stempel sendiri.  Belum sempat pesan, saya ketemu stempel kecil hello kitty di dalam paket pasta+sikat gigi anak-anak. Horee.. 😀

/salam hadiah

 

 

 

2 thoughts on “Hadiah untuk Embun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *