Harus Bagaimana?

DSCN3655

Bayi saya sudah dua tahun. Saat ini dia sedang rajin-rajinnya membongkar (apapun) di rumah. Kebanyakan saya membiarkan dia bermain dengan pengawasan. Terkadang, saya tidak bisa mengawasi dia 24 jam penuh. Saya membiarkan ia bermain sendirian di ruang depan.

Kadang pula, saya terlelap saat menyusui. Setelah kenyang, dia bukannya ikut tidur, malah turun dan main sendirian. Biasanya sih, saat saya terbangun, dia sudah menyiapkan kejutan.

Kadang, air dari botol minumnya dituangkan di lantai, kadang menumpahkan isi botol minyak kayu putih, kadang menulisi tangan dan kaki saya dengan pulpen.

Apa yang saya lakukan? Saya biasanya duduk, tarik nafas panjang beberapa kali, berusaha mengendalikan emosi, dan kemudian memperbaiki semua kekacauan. Mau marah ya ga tega, anak sendiri, masih bayi, dimarahi.

Lagipula, marah ga akan menyelesaikan masalah. Sudahlah dia menangis karena sedih dimarahi ibunya, belakangan ibunya yang sedih karena merasa bersalah. Bukan solusi, menurut saya.

Selama ini, setelah beres-beres, saya biasanya mendudukkan dia di dekat saya, menanyakan mengapa dia begini, dia begitu. Kemudian menjelaskan kenapa perbuatan ini dan itu tidak baik, dan meminta dia tidak mengulanginya lagi.

Entah karena dia masih anak-anak, atau saya yang kurang pandai mengajari anak. Hal demikian tetap saja berulang, dan semakin lama semakin naik tingkatannya. 😀

bedak.

Bangun tidur siang tadi, saya terpaksa menyaksikan pemandangan yang memilukan ini. Bedak yang tadinya masih penuh, sekarang tinggal sejarah. Hebatnya, si bayi ga merasa bersalah. Dia santai saja membedaki seprai, boneka, baju, dan wajahnya sambil bilang, “Ma, bedak ma, bedak ma.”

Okeh, jadi template seperti yang sudah saja jelaskan tadi saya lakukan. Duduk, tarik nafas, beres-beres. Bedanya, kali ini saya mengabadikan sisa main-mainnya si bayi. Untuk kenang-kenangan. 😀

bedak11

Saya bukan ibu yang sabar, tetapi saya berusaha sebisa mungkin untuk jadi ibu yang demikian. Sesekali saya kelepasan, membentak dengan suara tinggi, atau ikut menangis saat dia tantrum. Saya juga pernah meninggalkan dia sendirian di kamar saat dia memilih melempar-lemparkan badannya di lantai daripada saya peluk.

Saya berusaha jadi ibu yang baik, dan akan terus berusaha. Saya berjanji.
*tarik napas, seribu kali. 😀

/salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *