Ikhtiar Hijau ala Randakari

Belakangan ini saya sedang sering-seringnya mampir ke kampung-kampung yang inspiratif. Ada Kampung Kaleng, Kampung Tenun, Kampung Warna, Kampung Inspirasi, dan Kampung Batik. Rasanya tuh hati nyess plus senyum jadi lebar pas lihat warga kampung aktif, kampungnya ramai, dan warga kampungnya sejahtera.

Kemarin, saya main-main ke Desa Proklim (Program Kampung Iklim), Randakari, Cilegon. Kampung ini bikin tema khusus untuk warga di setiap RT, ada yang temanya seledri, sawi, cabe, dan tomat,

Seledri hasil rawatan warga RT 01, RW 01, Randakari, menjadi pemandangan perdana saat saya dan teman-teman blogger lainnya turun dari mobil. Seledrinya segar, harumnya luar biasa. Berada di tengah-tengah seledri bikin saya merasa seperti ada di tengah-tengah foodcourt yang isinya tukang bakso semua! 😀

Seledri ditanam di depan/samping rumah, tempat tanamnya macam-macam, ada pot, ada polibag, ada juga kantong bekas kemasan minyak goreng. Warganya kreatif betul ya. Alih-alih dibuang begitu saja, kantong-kantong kemasan digunakan kembali. Prinsip reuse-reduce-recycle-nya beneran jalan di kampung ini.

Ada yang tau seledri bisa dibikin apa selain buat taburan bakso?

Jadi, seledri ini setau saya sering dipakai buat masak sop. Dimasukin waktu makanannya sudah hampir matang atau ditabur-tabur waktu makanannya mau dihidangkan. Wanginya duh! Bikin selera makan meningkat tiga kali lipat! Teman lain, pas saya ngetweet soal seledri ini bilang, tanamannya bisa dipake buat bikin shampoo! Keren ya..

Nah, di Kampung Iklim Randakari, seledri mencapai babak baru. Bukan lagi sekadar pelengkap masakan, tapi jadi camilan yang gurih dan enak!

Ini namanya opak seledri. Bahan utamanya singkong dan irisan seledri. Kemarin saya nyobain langsung makan opaknya di markas KWT (Kelompok Wanita Tani) Randakari. Rasanya gurih dan teksturnya tipis kriuk-kriuk. Saya sih ga bisa berhenti nyemil ya, enak banget! Kalau ga dipanggil-panggil diajak jalan lagi, rasanya mau nongkrong aja di dapur sambil nyamil opak. 🙂

Dari sub seledri, kami pindah ke sub sawi. Di sini kami dijamu dengan makanan lagi. Kalau ngomongin sawi, saya cuma kepikir sawi rebus atau sawi tumis. Jadi, waktu ibu-ibunya menyodorkan sepiring kue lumpur, saya agak khawatir. Sawi jadi kue? Uhm, bakalan aneh ga ya?

Kebayang gimana proses bikin kue dari sawi?

Begini, kue di atas namanya Lumpur Cinta Sawi. Cara bikinnya: haluskan beberapa lembar sawi yang sudah dibersihkan. Airnya dicampur dengan adonan tepung, aduk rata, tambah bahan lainnya, lalu dimasak. Dengan cara ini, kue lumpurnya ga perlu tambahan pewarna karena warna hijau bisa didapatkan dari warna air sawinya.

Perjalanan selanjutnya adalah keliling-keliling kampung. Kami disambut hentak bertenaga dari ibu-ibu yang sedang main Bendrong Lesung, disambut dengan suara rebana, dan melihat langsung bapak-bapak yang sedang sibuk bikin biopori di depan rumah.

Bendrong Lesung
Biopori

Di bagian kampung lainnya ada LUMBUNG ILMU. Di sini ada ibu-ibu yang sedang sibuk bikin kerajinan tangan, ada adik-adik yang sedang semangat sekolah, dan ada banyak sekali buku yang bisa dibaca. Lumbung Ilmu ini sukses jadi spot favorit saya sih, kebayang enaknya leyeh-leyeh sambil baca buku di sini. Mantap!

Kampungnya bersih, warganya aktif, pemandangannya ijo royo-royo ke manapun mata memandang. Pantas saja akhirnya kampung ini sukses meraih titel Proklim dari pemerintah dan meraih Penghargaan Serifikasi Proklim Utama KLHK  di acara Hari Menanam Pohon Indonesia, Oktober 2018 lalu.

Dulu, sekitar tahun 1970-an, Kelurahan Randakari ini merupakan wilayah pertanian tadah hujan. Kampungnya kemudian berubah jadi kawasan industri pada 1990, sampai sekarang. Kemarin ngobrol-ngobrol sama warga trus dikasitau kalau kampungnya ada di tengah-tengah pabrik, salah satunya pabrik tepung. 🙂

Masalah khas kampung yang ada di wilayah pabrik itu, daerahnya jadi gersang, sampah di mana-mana, dan lahan habis buat permukiman.

Untuk mencapai titel ini, Kampung Randakari ini dibantu oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement), produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali.  Warga kampung diedukasi, lalu ada pembangunan Rumah Pemberdayaan Lumbung Ilmu, ada Bank Sampah Berkah Lestari, ada Koperasi Biwara, pembentukan Kelompok Wanita Tani, dan dapat bantuan bibit juga. Dirintis sejak 2014, akhirnya kampung ini meraih gelar yang sudah diidam-idamkan lama ya. 🙂

Mau kasitau, sekarang warganya sudah jago. Kalau dulu bibit dibantu oleh Indocement, sekarang koperasi malah sudah bisa jual bibit sendiri ke warga dan tamu-tamu yang datang. *tepuk tangan

Dari Kampung Proklim, kami pindah lokasi ke Sanggar Wuni Kreasi. Sanggar ini terletak di Kubang Saron, Kelurahan Tegal Ratu, Ciwandan, Cilegon.

Nurcholis adalah pendiri sanggar yang diniatkan untuk jadi sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat ini. Sanggar Wuni Kreasi punya saung yang indah, lahan untuk bertanam, dan buku-buku yang banyak untuk dibaca.

Untuk anak-anak, ada kegiatan seperti mendongeng, eksperimen sains, dan kelas bahasa Inggris. Untuk pemuda, ada kegiatan musik sampah. Ssst, bukan musiknya yang sampah, tapi atraksinya pakai alat musik dari beragam sampah, seperti tong, ember, dan galon air.

Indocement menjadi bagian dari sanggar ini lewat program pelatihan dan pendampingan. Saat ini, berkat pendampingan itu, Sanggar Wuni Kreasi sudah mampu memberdayakan diri lewat kegiatan yang menghasilkan, namanya Wuni Wood. Wuni Wood (@sanggarwunikreasi) ini mengelola limbah palet jadi berbagai kerajinan misalnya papan talenan, lemari, dan aneka produk interior.

Pekerja di Wuni Wood
Kayu palet yang jadi bahan utama produk Wuni Wood,

Senang ya liat Kampung Proklim dan Sanggar Wuni Kreasi bisa berkembang dan bermanfaat untuk warga. Semoga semakin banyak perusahaan yang tergerak untuk memberikan dampak baik bagi lingkungan.

/Salam jalan-jalan

2 thoughts on “Ikhtiar Hijau ala Randakari”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *