Jalan-Jalan ke Tambang Adaro

Pertama kali ditelepon dan diajak untuk mengunjungi tambang batu bara milik PT Adaro Energy di Kalimantan, yang terpikir di kepala adalah pengerukan tanah yang luar biasa dalam untuk mengambil emas hitam. Lalu setelahnya ada warisan tanah gersang dan lubang bekas kerukan tambang, membentuk kolam yang maha besar, penuh air.

Tapi, ketika tiba waktunya datang langsung ke lokasi bekas penambangan di Paringin, yang saya lihat adalah hutan lebat, ga kelihatan bekas tambangnya sama sekali. Pohonnya tinggi-tinggi dan rapat.

Oleh Adaro, lahan bekas tambang memang diupayakan untuk dapat difungsikan sesuai peruntukan yang disepakati dalam rencana pasca tambang. Tahun lalu Adaro mereklamasi 225,3 ha lahan bekas tambang dengan menanam lebih dari 200.000 pohon dengan dua metode, yaitu tabur semprot (hydro-seeding) dan penanaman manual.

Proses reklamasi makan waktu yang cukup lama, untuk hutan Paringin saat ini usianya sudah lebih 15 tahun. Sekarang, kondisi tanahnya sudah membaik. Pepohonan seperti sengon, akasia, eukaliptus, sungkai, cemara, gamal, turi, trembesi, jatiputih, tumbuh subur. Lalu ada pula tanaman pionir seperti kaliandra, marsawa, dan marani.

Selain jadi dipadati beragam pohon, hutan Paringin saat ini juga jadi rumah untuk beberapa jenis satwa seperti lebah, bekantan, belibis, burung, reptil, babi hutan, dan banyak serangga. Sungguh saya tidak menemukan tanda-tanda bekas aktivitas tambang di sini. Revegetasinya sukses, nih. ^^

Untuk bikin hutan hijau lagi, tentu butuh bibit tanaman yang luar biasa banyak, ya. Nah, sumber tanamannya datang dari fasilitas pembibitan Adaro (nursery) PT Adaro. Nursery Adaro ada di kawasan tambang Tutupan. Tanaman yang ada di nursery sangat beragam, ada tanaman tipe fast growing, tanaman lokal berumur panjang, tanaman buah, dan tanaman biofuel.

Luas nursery mencapai 2 ha dan terbagi ke dalam beberapa lokasi, antara lain: greenhouse untuk penyapihan tanaman, persemaian, dan area pembiakan tanaman. Nursery ini bisa menampung 70.000 – 130.000 bibit dalam sekali waktu. Sedangkan produksi rata-rata bulannya sekitar 30.000 bibit. Selain untuk reklamasi lahan bekas tambang, tanaman dari nursery juga disalurkan ke instansi pemerintah dan sekolah untuk keperluan penanaman pohon di luar wilayah tambang Adaro.

Luasan area tambang yang dikelola Adaro ini bukan main besarnya, total 35.000 ha. Karena terbatasnya waktu, kami ga sempat mampir ke semua tempat. Selain hutan reklamasi Paringin dan nursery yang saya ceritakan di atas, kami datang juga ke Water Treatment Plant (WTP) Adaro.

Water Treatment Plant ini aktualisasi dari standar manajemen air limbah milik Adaro. Air hujan dan air yang muncul dari kegiatan operasi tambang tidak dibiarkan mengalir begitu saja tetapi didaur ulang hingga mencapai standar baku mutu air bersih. Prosesnya cukup panjang, lewat beberapa kali pengendapan dan penyaringan.

Saat ini, kapasitas produksi air bersih WTP mencapai 72m kubik per jam. Air disimpan dalam dalam 3 tangki penyimpanan, 2 tangki punya kapasitas 450m kubik dan 1 tangki sisanya bisa menampung 72m kubik. Air hasil olahan WTP bisa langsung diminum saking bersihnya. Kemarin saya sempat cicip dan sama sekali ga ada rasa atau bau yang aneh di airnya.

Airnya yang ditampung dialirkan ke mana?

Selain digunakan untuk kepentingan internal perusahaan, air hasil daur ulang dialirkan juga ke masyarakat sekitar.  Daerah Tanjung yang jadi lokasi tambang Adaro ini cukup rawan air bersih kalau musim kemarau, jadi lewat pipa, saat ini air dialirkan ke 1.110 kepala keluarga di delapan desa.

Untuk desa terdekat, Dahai dan Padang Panjang, ada pipa untuk mengalirkan langsung ke setiap rumah. Sedangkan untuk desa lainnya, air didistribusikan lewat truk tangki pengangkut air. Sesampainya di desa yang dituju, air disimpan di tong-tong air hasil donasi Adaro.

Bicara soal air, kemarin saya dan teman-teman juga diajak mengunjungi danau pembibitan ikan milik Adaro. Di danau ini, Adaro memelihara beberapa jenis ikan seperti ikan papuyu, ikan nila, gurame, haruan (gabus), jelawat, dan lais  Sumber air kolamnya dari mana? Tentu saja dari air bekas tambang.

Ikannya sehat, beranak pinak dengan sukses, dan banyaaakk. Khusus untuk ikan-ikan hasil tambang ini sudah dicek kualitasnya, dan semuanya normal. Ikannya dikemanakan? Sebagian besar disalurkan ke kelompok usaha atau lembaga yang membutuhkan. Nanti, oleh Adaro, lembaga ini diajari cara mengembang biakkan ikan dengan baik.

Kenapa Adaro peduli, mau bagi-bagi tanaman, bagi-bagi bibit ikan ke masyarakat atau lembaga? Padahal secara aturan mereka ga wajib lakukan itu semua. Nah, pas ketemu dengan Pak Garibaldi Thohir, Presiden Direktur PT Adaro Energy, saya dapat jawabannya.

Pak Boy, panggilan akrabnya si bapak bilang kalau tambang itu umurnya pendek, setelah tidak berproduksi lagi perusahaan harus meninggalkan area dan mencari area lain. Nasib area yang ditinggalkan ini yang kata Pak Boy harus diperhatikan. Jika sebelumnya pembangunan daerah banyak dibantu perusahaan dan masyarakatnya makmur, setelah tambang tidak ada, masyarakatnya harus tetap makmur.

Tanaman dan ikan yang dibagikan, oleh Adaro, diharapkan bisa menjadi modal untuk memulai usaha. Intinya sih, Adaro pingin warga jadi mandiri, punya usaha yang berkembang, dan sejahtera. Oleh Pak Boy, prinsip ini ga cuma diterapkan ke masyarakat sekitar, tapi juga untuk siswa pesantren-pesantren tradisional yang ada di sekitar tambang.

Anak-anak pesantren tradisional belajar mengaji dan diproyeksikan menjadi guru mengaji. Tentu saja bagus karena tujuannya mencetak generasi yang berakhlak baik. Tapi, oleh Pak Boy ini dianggap tidak cukup. “Saya mau anak-anak punya keterampilan untuk bertahan hidup selain mengajar ngaji,” kata si bapak.

Oleh Adaro, niat itu direalisasikan dengan pengembangan kegiatan wirausaha PASS (Program Adaro Santri Sejahtera). Empat jenis program wirausaha dikembangkan di pesantren. Ada program pertanian hidroponik, budidaya ikan, usaha kreatif batik sasirangan, dan usaha kuliner cemilan keripik.

Keren, yaa.. Tapi belum selesai, lho. Adaro saat ini juga punya 25 UMKM binaan. Salah satu UMKM-nya yang memproduksi kain batik sasirangan sempat kami datangi kemarin. Kainnya bagus-bagus, proses pembuatannya mirip dengan kain jumputan. Kalau ga inget dan nahan diri, rasanya mau borong semuanya! 😀

workshop kain sasirangan
harga kainnya mulai Rp 110.000 – Rp 250.000

Sekarang, setelah beberapa hari sampai di rumah saya masih kebayang-bayang dengan beberapa motif kain sasirangan yang batal dibawa pulang. Kalau kata orang sih, itu tandanya suatu saat harus balik kembali ke sana. Semoga kesampean. Aminnn..^^

Foto bareng Pak Boy, biar sah kain sasirangan yang dibeli kemarin langsung dipake buat jalan sore. ^^

/salam sayang dari tambang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *