Warung Pari Gogo, Bidan Lies di Desa Sambirejo, Es Krim Ketela, dan Warung Mbah Noto

Entah mimpi entah nyata, saya menerima telepon dari @nutrisi_bangsa sambil bingung. Suara di ujung sana bilang tulisan saya terpilih, dan saya terpilih, bersama sembilan blogger lainnya untuk menjelajah Gunungkidul.

Bukan, bukan jelajah alam, apalagi jelajah gua yang memang kebetulan banyak di sana. Tetapi, jelajah gizi. Jelajah gizi itu kegiatan yang dilakukan untuk mengenalkan pangan, sumberdaya lokal, dan kandungan gizi yang dikandung setiap makanan.

Sangking bersemangatnya, adrenalin mengalir deras di tubuh saya. Jadi susah tidur. Tepat jam 4 pagi saya beberes, mandi, pamitan, dan menuju bandara. Aaakk, senangnyaa..

Di terminal 1 bandara Soekarno Hatta saya berjumpa blogger tangguh lainnya, adalah @titiwakmar, @didut, @matriphe, @aniringo, dan mba @eviindrawanto. Tiba jam 6 pagi dan langsung disambut dengan senyuman yang bukan main lebarnya dari perwakilan dari Event Organizer yang mengurusi acara.

“Sarapan apa, Mba?”

Uhuyy, ditrakteerrr Mba EO

Pesawat berangkat pukul 07.45 WIB, tiba di Jogjakarta  pukul 9 pagi. Bus yang super besar sudah menunggu peserta di parkiran. Belakangan, di bus, saya baru tahu ternyata peserta jelajah gizi kali ini bukan hanya blogger, tapi juga wartawan dari Jakarta dan Jogjakarta. Total peserta jadi 23 orang. Rameee 😀

Di bus, masing-masing peserta memperkenalkan diri. Disini suasana sudah cair sih ya, adalah dua (MC) Master of Ceremony kondang ibukota, Mas Kelik Ketitik dan Mas Fuad yang gak pernah kehabisan ide buat ngelawak.

—————

Tujuan Pertama : Warung Padi Gogo

Bus langsung mengarah ke Gunungkidul, menuju tempat makan siang yang populer. Warung Padi Gogo. Hati saya mulai deg-degan, seperti merasakan ada yang tidak beres. Ada yang aneh.

Benar saja, rupanya akan terjadi semacam fear factor di warung itu sodara-sodara. Baru saja duduk, peserta sudah dihidang belalang goreng.  Aaaakkkk, lambai bendera putih, menyerah kalah.

Apa ya, saya kok berpikirnya, masih banyak makanan lain yang bisa dicemil selain belalang. Matanya yang besar melotot itu mengintimidasi.

Tapi, bukankah selalu ada KALI PERTAMA UNTUK SETIAP HAL. Maka, saya resmikan hari itu, 2 November 2012 sebagai kali pertama saya makan belalang goreng. Oooh, Tuhan… 😐

Begini penampakan belalang yang masih utuh, tapi sudah matang, tapi warna coklat, yang kelihatannya garing, itu.

Kesimpulan : Menurut saya belalang goreng itu gak enak. Ada bau-bauan yang menyertai. Kalau kata Mba  @eviindrawanto, seperti bau jerami.

Kelihatannya garing, tetapi waktu dikunyah terasa bersisa di mulut, bagian sayapnya susah hancur di mulut saya. Karena kurang halus itulah, saya agak susah payah dan butuh usaha ekstra untuk menelannya.

Okeh, intinya saya sudah pernah cicip, dan gak penasaran lagi. Oh iya, untuk pengetahuan (kalau ada yang belum tahu), ikan dan belalang adalah dua binatang yang halal dimakan setelah jadi bangkai.

Selesai fear factornya, sekarang saatnya makan enaakk..  Warung Padi Gogo menyediakan berbagai macam menu kuliner, diantaranya ada nasi merah, sayur lombok ijo, tumis daun pepaya, trancam, ayam goreng bacem, dan baby fish.

Sambil makan, Senior Manajer Corporate Affairs PT Sarihusada, Bapak Arif Mujahidin cerita tentang tujuan diadakannya jelajah gizi, kenapa memilih Gunungkidul, dan harapannya pada kami, blogger dan wartawan yang ikut serta dalam program ini.

Intinya adalah, Bapak Arif ingin kami menyebarluaskan pangan lokal, kandungan gizinya dan kebaikan pangan lokal pada seluruh dunia lewat tulisan. “Pangan lokal gak selalu kampungan, tinggal bagaimana kita mengolahnya saja,” kira-kira begitu kata Pak Arif.

Selain enak, bahan pangan lokal, lanjut dia, juga mudah diperoleh. Selama ini keberadaan pangan lokal mulai tergerus aneka makanan impor. Bukannya makanan impor tidak bagus, hanya saja kenapa tidak kita yang mulai. “Enak, murah, mudah didapat. Apa lagi?” kata si Bapak.

—————

Tujuan Kedua : Desa Sambirejo

Sudah makan, sudah kenyang, peserta yang tampan-tampan sudah beres shalat Jumat, sekarang kami lanjut ke pemberhentian kedua, Desa Sambirejo.

Di Desa Sambirejo kami bersua dengan Bidan Liestiani Ritawati, pemenang Srikandi Award 2009. Bidan Liestiani memprakarsai pembuatan sumur bor di desa ini. Awalnya adalah keprihatinan akan kondisi kesehatan warga yang menurun dan susahnya persalinan.

Sebelum gempa melanda Jogja pada 2006 lalu, ketersediaan air cukup. Warga mengandalkan sendang (mata air) Desa Sambirejo. Entah mengapa setelah gempa, air di Sendang tidak lagi terisi. Sendang kering dan mesti menunggu hujan agar terisi kembali.

Sendang Sambirejo menunggu hujan datang

Kekeringan terjadi bertahun, tanah sampai retak, dan berbagai gangguan kesehatan seperti diare mengancam anak-anak. Kurangnya air menyebabkan kebersihan makanan tidak terjamin.

Sekarang aliran air dari sumur bor sudah bisa dinikmati warga, langsung ke rumah masing-masing. Warga tinggal memutar keran dan membayar sesuai penggunaan ke pengurus PDAM Tirtamukti.

PDAM Tirtamukti ini baru saja dibentuk pada 2010 lalu. Tujuannya untuk mengurus kelancaran aliran air ke rumah warga, termasuk di dalamnya memungut iuran dan memelihara sumur bor.

Ketua PDAM Tirtamukti, Bapak Suyadi

Ada 12 warga yang terpilih mengurusi PDAM itu, Ketuanya, Bapak Suyadi, bilang warga bertanggung jawab sekali membayar sesuai tagihan karena pernah merasakan sulitnya mencari air. “Jalan jauh sampai 2 kilometer, menggendong air dengan jerigen, dan harus mengantri dari tengah malam,” kata dia.

Penganan Berbahan Dasar Ketela

Selain mempelopori air, Bidan Listi juga berperan mengembangkan sumber daya pangan lokal. Apakah itu? Adalah dia ketela!

Kebun ketela di depan rumah Bidan Listi

Ketela dikenal juga sebagai ubi rambat, ubi jalar atau mantang.  Pohon ini tumbuh subur di depan rumah Bidan Listi dan saat ini mulai dikembangkan manfaatnya bersama warga.

Kemarin, kami peserta jelajah gizi sempat menikmati olahan unik dari ketela, yaitu es krim ketela dan bakpao ketela. Es krim ketela rasanya manis, masih terasa bau umbi ketelanya. Bakpao ketela, yang oleh warga Sambirejo diisi dengan kacang hijau kupas, rasanya juga enak.

Es Krim Ketela dan Bapao Ketela isi kacang hijau

—————

Wisma Joglo

Udah sore, udah keringetan, saatnya tidur, eh mandi! 😀

Setelah poto-poto narsis, iya di mana-mana ke-23 peserta #jelajahgizi ini kerjanya poto-poto aja kok. *sigh, kami masuk ke bus yang super nyaman + AC super kencang.

Tujuannya adalah Wisma Joglo. Wisma Joglo berada di dekat pusat kota Wonosari tepatnya di Jl.Sumarwi Gg. Mayang Gadungsari RT 06/12 Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Penginapannya cukup luas, kamarnya bersih, seprei dan bantal harum.

Karena bangunannya tradisional, saya tak berharap banyak pada kamar mandinya. Ternyata kamar mandinya luas, klosetnya bersih, airnya jernih, dan lantainya kesat.

—————

Wisata Kuliner, Warung Mbah Noto

Peserta, khususnya saya, sudah sangat kelaparan. Meskipun tadi udah icip 3 cup es krim ketela sih ya.. *malu.

Udah ganti baju bersih, udah mandi, lanjut makan malem di Warung Mbah Noto. Menu paling happening di warung ini adalah Mie Goreng dan Mie Godhok.

Atas : Mie godhok
Bawah : Mie Goreng

Karena belum pernah icip mie godhok, dan karena kebanyakan peserta pilih mie godhog, saya manut, ikut-ikut.

Meskipun panitia sudah memesan sejak sore hari, dan kami kesana sudah jam 8 malam, pesanan kami (yang bukan main banyaknya ini), belum selesai.

Kok gitu? Iya, emang gitu. Soalnya si pemilik warung itu masaknya cuma pakai 1 tungku. Setiap kali masak, yang jadi cuma 2 porsi. Kebayang kan?

Saya suka sih mie godhoknya, tapi lebih suka ayam goreng bacemnya. Ayamnya ayam kampung, teksturnya lembut, rasanya enak, agak manis.

Ayam Goreng Warung Mbah Noto, Gunungkidul

Sudah kenyang semuanya, saatnya istirahat..

Sampai jumpa pada petualangan penJelajah Gizi hari dua, ya.. 😀

—————

KANDUNGAN GIZI WISATA KULINER JELAJAH GIZI HARI SATU

Sepanjang perjalanan tadi, kami dikawal langsung oleh Guru Besar Ilmu Gizi Institut IPB, Prof Ahmad Sulaiman. Segala yang dikunyah dijelaskan kandungan gizinya oleh Pak Prof.

Belalang Goreng

Pada belalang yang masih segar, kandungan proteinnya sekitar 20 persen, tetapi pada yang kering sekitar 40 persen. Kulit belalang mengandung zat kitosan seperti udang. Pada musim-musim tertentu ada jenis belalang yang kandungan vitaminnya lebih tinggi. Belalang juga dapat  memenuhi 25 hingga 30 persen kebutuhan vitamin A.

Nasi Merah

Nasi merah baik untuk penderita diabetes karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Kandungan serat nasi merah yang tinggi karena tidak mengalami proses penggilingan yang menyebabkan hilangnya sebagian besar serat serta vitamin dan mineral.  Nasi merah juga kaya akan vitamin B, magnesium, dan zat besi yang diperlukan tubuh.

Ketela/Ubi Jalar

Karbohidrat ubi jalar memiliki indeks glisemik 54 (rendah). Artinya, karbohidrat pada ubi jalar tidak mudah diubah menjadi gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Ubi jalar berwarna merah, mengandung serat oligosakarida bertipe larut yang berperan vital untuk menyedot kolesterol “jahat” di dalam darah.

Serat oligosakarida berperan mencegah sembelit, memudahkan buang angin, menjaga keseimbangan flora usus dan prebiotik serta merangsang pertumbuhan bakteri “baik” pada usus sehingga penyerapan zat gizi lebih efektif. Pada orang yang sangat sensitif oligosakarida, konsumsi ubi jalar dapat mengakibatkan kembung. Agar tidak kembung dan buang-buang angin, disarankan memasak ubi jalar hingga benar-benar matang.

Daun ubi jalar baik dikonsumsi (dilalap) oleh ibu menyusui untuk menambah produksi asi.

Mie Godhok dan Ayam Kampung Goreng Bacem

Mie berbahan dasar tepung, mengandung karbohidrat. Pelengkap mie godhok adalah sayur kol atau dikenal juga dengan kubis. Kubis segar mengandung banyak vitamin (A, beberapa B, C, dan E). Kandungan Vitamin C cukup tinggi untuk mencegah skorbut (sariawan akut). Mineral yang banyak dikandung adalah kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga mengandung sejumlah senyawa yang merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia.

Kandungan lemak pada ayam kampung lebih rendah daripada ayam ras. Ayam merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan lebih rendah kandungan lemak jenuhnya dibanding daging berwarna merah. Ayam juga kaya akan kandungan mineral (kalsium, tembaga, zat besi, fosfor, kalium dan zinc) dan beragam vitamin (vitamin A dan berbagai vitamin B). Kandungan zat gizi ayam kampung per 100 gram bahan adalah Energi (246 kkal), Protein (37.9 gr), dan Lemak (9 gr).

/salam kenyang

Sumber :

distan.majalengkakab.go.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Kubis”>http://id.wikipedia.org/wiki/Kubis
http://health.kompas.com

2 thoughts on “Warung Pari Gogo, Bidan Lies di Desa Sambirejo, Es Krim Ketela, dan Warung Mbah Noto”

  1. kereeennnn
    mbak…ada contact person desa sambirejo gak??kami PKK dari Kec. Muntilan mau berkunjung kesana..mau belajar ttg ubi ungu itu.kutunggu yaa.
    bisa di WA
    eny prastyani
    081904125534

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *