Jerit Tubuh

Semalaman mataku nyalang. Aku frustrasi hingga sakitnya mengalir dari ujung-ujung jemari. Napasku satu-satu. Kuhitung pelan, sesak di dada sudah tambah jadi seribu.

Harus bagaimana? Tak bisa kutemukan kata yang bisa menggambar luapnya rasa. Ingatan tentangmu meruah, menggedor-gedor kepala. Aku gila. Dan saat ini, aku bersedia jadi apa saja. Untuk bersamamu

Menjadi rokok. Menikmati waktu bersentuhan dengan sudut bibirmu. Sembari menunggu diri habis terbakar jadi abu.

atau,

Menjadi tinta di dalam pena. Menjadi mediamu menuliskan aneka kata. Berkeluk di telapakmu yang basah. Menunggu cairanku tersedot habis tanpa sisa.

Oh Tuan, jantungku adalah ombak yang memukul lepas otak dari sarangnya. Sungguh sulit berpikir jika tiap bagian tubuh menjeritkan hal yang sama. Kamu, dan rindu.

/ode rindu nomor 81

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *