Menjejak Langkah di Kampung Tenun, Buton

Motif garis warna-warni menyambut saat kaki pertama saya jejakkan di Kampung Tenun Warna-Warni, Buton. Setiap fasad seakan menguarkan ajakan mendekat, mirip gadis yang bersolek dengan baju terbaik dan menunggu di undakan pintu masuk rumah usai mandi sore.

Kampung ini dulu tak bernama demikian, menyebutnya cukup Topa, begitu saja. Kampung Topa, Sula’a memang sudah kadung tenar sejak lama. Perempuan penenun, jemuran kain warna-warni, dan rumah adat yang berjejer di sepanjang kampung menjadi daya tarik utamanya. Kampung ini sudah kaya dari awal.

Desa Sula’a adalah kampung tenun tertua di Pulau Buton. Tenunnya sendiri sudah ada dari abad ke-14. Buktinya ada di Kampua (artefak sejarah berupa mata uang Sulawesi yang terbuat dari kain tenun). Hal yang unik dalam pembuatan Kampua adalah uang ini hanya bisa dibuat oleh putri-putri kerajaan.

Sapa dan obrolan hangat mudah sekali terjadi di gode-gode (ruang kosong di bawah bangunan rumah). Ibu-ibu penenun dapat diajak bercerita dan sudah biasa bercengkrama dengan turis yang silih berganti masuk kampung.

Salah satunya Wa Ode Ramlah, usianya sudah 54 dan punya dua orang cucu. Sejak kecil, kata dia, suara tumbukan alat tenun sudah akrab di telinga. Mulai umur sepuluh, anak-anak mulai diajak membantu. Menyusun benang, merapikan kain, hingga lalu menjadi cakap menjadi pencipta baru lembaran kain tenun khas Buton.

Wa Ode Ramlah

Kain tenun bikinan rumah ini fungsinya bukan sekadar pakaian, tetapi juga media hubungan sosial. Semua aktivitas dilakukan pakai tenun, mulai dari lahir hingga berpulang. Corak, warna kain, dan cara menggunakan kain tenun adalah penanda identitas. Secara umum ada 2 motif berbeda, leja (garis) panjang melingkar untuk perempuan, dan motif kotak-kotak dan bunga untuk laki-laki.

Sarung yang diperuntukkan untuk laki-laki boleh digunakan oleh perempuan, sedangkan motif leja milik perempuan tidak bisa digunakan oleh laki-laki jika bentuknya masih sarung. Leja dapat digunakan oleh laki-laki jika sudah dirombak jadi jubah panjang untuk keperluan acara adat.

Jika dilekatkan ke tubuh, ikatan kain sarung tenun menjadi penanda status. Ikatan di atas bahu menandakan perempuan menikah, jika ditambah tali di pinggang menandakan status janda. Untuk perempuan yang belum menikah (masih gadis), sarungnya tetap sama tetapi ikatannya di dada, dibentuk serupa kemben.

Aneka jenis ikatan ini jadi berguna saat proses pencarian pasangan hidup berlangsung. Jangan ganggu yang sedang berpasangan, dan bolehlah berbunga-bunga jika berpapasan dengan gadis di tengah jalan. Oh iya, warga Buton yang laki-laki tidak punya cara khusus untuk menggunakan sarung, hanya satu cara saja untuk semua status. 😀

Warna-warni dan motif tenun cantik itu, baru-baru ini diaplikasikan juga ke rumah adat Sulawesi Tenggara (Banua Tada). Banua (rumah) Tada (siku) ini unik sekali. Semua tiang dibuat dari kayu bulat yang ditumpangkan di atas fondasi batu, sedangkan lantainya dibuat dari papan kayu jati dengan teknik kunci. Teknik ini memungkinkan proses pembangunan rumah tak pakai paku sama sekali. Super keren!

Berdasarkan statusnya di masyarakat ada 3 jenis Banua Tada. Pertama adalah Kamali/Malige. Kamali adalah rumah yang digunakan secara khusus untuk sultan dan keluarganya. Lalu di tingkatan kedua ada Banua Tada Tare Pata Pale yang digunakan untuk pejabat dan pegawai istana. Di tingkatan akhir ada Banua Tada Tare Talu Pale yang digunakan oleh orang biasa. Rumah-rumah di Kampung Topa adalah Banua Tada yang biasanya dicat dengan satu pilihan warna untuk keseluruhan rumah.

Belakangan, atas kesepakatan bersama, dengan tujuan mengembangkan potensi Kampung Topa, rumah adat di sepanjang kampung kemudian dicat. Total ada 107 rumah dan 60 kapal nelayan yang dicat dalam waktu 2 bulan. Kebanyakan rumah dicat motif tenun, ada juga yang digambar mural.

Mural di dinding-dinding rumah bukan asal gambar, tetapi disesuaikan dengan tema besar kampung, yaitu TENUN dan NELAYAN. Ada gambar tarian tradisional (Tari Mangaru), ada gambar ibu menenun, ada gambar kakak cantik berkerudung tenun, gambar bunga motif tenun, gambar perahu, dan banyak gambar lain. Total jumlah mural di kampung ini ada 50 buah. Mural-mural ini digambar oleh 7 orang muralist yang diterbangkan langsung dari Jakarta. ^^

Jarak antar rumah yang cukup besar membuat kaki nyaman menapak di sepanjang kampung. Tegur ramah dari bapak-bapak nelayan yang sedang istirahat melaut membuat saya merasa diterima. Pun ketika saya mengganti pakaian dengan sarung pinjaman dari galeri tenun, lalu berfoto di tangga-tangga cantik rumah, warga di Topa tetap ramah.

Anak-anak kecil dan remaja di kampung juga terlihat sudah terbiasa menyambut pengunjung. Mereka mendekat, mudah diajak bicara, tetapi tidak kebablasan hingga membuat risih. Semua terasa pas.

Anak-anak kecil yang ramah di Kampung Topa.

Membeli kain tenun buatan tangan warga Topa sangat saya rekomendasikan. Harga tenun bervariasi tergantung kerumitan motif dan warna, mulai dari Rp200.000 hingga jutaan rupiah. Mungkin agak mahal, tetapi jika membayangkan proses pembuatan setiap lembarnya yang rata-rata makan waktu satu hingga dua minggu, rasanya harga itu terbayar ya. 🙂

Saat ini sebagai mata pencaharian, di Kampung Topa tercatat ada 70 orang nelayan dan 100 orang penenun aktif. Selain dua pekerjaan utama itu, warga juga memiliki potensi pendapatan dari kunjungan wisatatan. Pendapatan dari sektor pariwisata yang sudah ada sebelumnya inilah yang diharapkan bisa bertambah dengan pesona baru, rumah warna-warni dan aneka mural.

Proses pengecatan rumah adat di Kampung Topa sepenuhnya didukung oleh Pacific Paint. Total selama pengerjaannya Pacific Paint menggelontorkan 3435 liter Glotex untuk mengecat rumah panggung dan atap, 160 kaleng Glotex untuk pengecatan perahu nelayan, dan 700 galon Metrolite untuk dinding dan pagar.

Peresmian Kampung Tenun Warna-Warni
Peresmian Kampung Tenun Warna-Warni, berfoto di depan mural.

Pengecatan Kampung Tenun Warna-Warni ini adalah salah satu kegiatan dari rangkaian panjang perayaan 75 Tahun Pacific Paint. Sebelum ini, Pacific Paint baru meresmikan Kampung Ragam Warna di Kendal. Setelahnya mereka akan ke mana, yaa.. *penasaran

Jika ada waktu dan rezeki baik mampir ke Sulawesi, ayunkan langkah ke Buton. Tidak hanya tenun, pulau ini menawarkan keindahan pantai dan cerita megah Kesultanan Buton. Saya merekomendasikan perjalanan sore ke Pantai Nirwana dengan pasir lembut dan pemandangan matahari tenggelam yang cantik. Lalu, tenggelamlah dalam nostalgia gegap-gempita titah sultan mengamankan Pulau Buton dari Benteng Keraton Buton.

Selamat berkunjung, semoga bahagia di Buton!

/salam serat tenun.

———————————————

Perjalanan ke Kampung Tenun Warna-warni (Kampung Topa, Desa Sulaa, Bau Bau, Buton) bersama blogger, vlogger, dan youtuber pada Juni 2018 ini, atas undangan dari PT Pacific Paint. Foto-foto juga ditampilkan di twitter dan instagram dengan hashtag #kptenunwarnawarni #pacificpaint #75thpacificpaint

 

 

27 thoughts on “Menjejak Langkah di Kampung Tenun, Buton”

    1. Aminnn, semoga ada langkah mampir ke sana ya, Mba. Bisa mampir ke benteng terbesar di dunia juga kalau udah sampai Baubau. 🙂

  1. wah, keren banget ya kampung tenun di Buton. rumahnya di cat seperti motif kain tenunnya….keren banget tuh kampungnya, terlihat hidup dan cerah dg warna yang seperti pelangi.

    1. Iya Mba, kampungnya jadi keliatan seger dan hidup. Moga abis ini wisatawan makin banyak mampir ke kampungnya, biar pendapatan warga makin tambah-tambah. 🙂

    1. Persis, garis-garisnya mirip lurik, tapi warnanya jauh lebih ngejreng, ala-ala kesultanan deh ya, makin mentereng makin keren.

  2. Rumahnya cerah2 dan warna-warni ya. Kain tenunnya juga.
    Dari dulu tuh pengen rasanya nyoba praktekin bikin kain tenun. Asyik kali ya bs langsung ngelihat di tempatnya.

    1. Hahhaa, iya bener, coba ada workshopnya ya. Ku kemarin ingin coba, tapi takut ngerusak kain si ibu, jadi ya udah lah, pandang-pandangi aja sampai puas. :))

  3. Wah seru ya mba re klo bisa traveling sambil mengenal budaya gini. Nambah ilmu dan tetep dapet susana jalan2nya. Ulasan menarik. Btw, itu rumah sama lain bisa sepadan warna warni gtu. Lucu jadinya. Keren.

    1. Iya, ini inisiatifnya keren menurutku. Rumah adatnya pun jadi terjaga dan dipelihara baik. Moga wisatawan rame ke sana ya. 🙂

  4. Aku betah deh liat yang kayak gini. Apa ya bagian kekayaan Indonesia yang jadi kebanggaan kita semua ya. Aku masih punya satu stel kain dari oleh2 kakak . Indah ya tenun ini hasilnya halus. Khas garis2nya ih jadi mupeng hahaha

  5. Warna kain tenunnya cantik-cantik dan beragam ya mbak, kampungnya pun jadi makin kece dan hits pastinya :). Nambah lagi pengetahuan ttg kain tenun dan kebudayaan di Indonesia. Makasih sharingnya mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *