Katanya Tidak

Ada nada yang terdengar
Alunannya melenakan telinga
Bukan ingar-bingar
Tapi lagu sendu yang memberi raga jeda.
Satu nada naik, dan nada lainnya meliuk turun
Semuanya sepakat memberi warna
Untuk lirik yang sudah diciptakan bertahun
Soal rindu dan hati yang tak juga sembuh
Usai patah, setelah memutuskan mengambil langkah
Mengucapkan cinta, pada kali pertama.

Saat itu aku yakin akan menang
Karena senyummu tersungging di ujung bibir
Karena bicaramu tanpa racun
Dan, lakumu bukan buatan.
Jantung berdegup tak karuan, terasa hingga tulang
Pesonamu sungguh bikin lupa segala.
Dan aku lengah, meletakkan hati jauh ke pinggir
Memberi celah padamu untuk membunuh
Cukup sekali tebas pada hati yang terbuka.
Saat itu, ketika aku mengucapkan cinta pada kali pertama.

Seperti dejavu, berkali terjadi
Dengan skenario yang berbeda.
Tokohnya tetap sama, kamu dan aku
Kita berdua di bangku taman yang tua dan berkarat
Memandang jauh pada titik yang sama.
Sesekali menoleh, memastikan kita nyata
Kemudian wajahmu mengetat, penuh tekad.
Di sebelahmu, aku terdiam, memanen jutaan harap
Inginkan kamu bersedia, untukku, selamanya.
Ketika itu, aku mengucapkan cinta pada kali pertama.

Hujan turun selembar, lambat
Seperti lagu yang sudah mencapai nada penghabisan.
Kurindukan riuh, kumimpikan luruh
Bagaimana caranya agar rasamu dapat serupa.
Dan kita bercinta, dari pagi hingga petang
Kemudian tenggelam bersama saat gelap datang.
Kurindukan kau dalam seribu cara
Kubayangkan kehadiranmu dalam seribu rupa
Terlalu lara hidup tanpamu, terlalu dalam hasratku
Maka kuputuskan, mengucapkan cinta pada kali pertama.

dan,
kamu,
bilang,
tidak.

/ode rindu untuk nona yang patah hati

One thought on “Katanya Tidak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *