Kenali Lebih Dalam Makananmu

Dulu waktu masih gadis dan badan masih oke banget, saya ga pernah berpikir banyak soal makanan. Apa yang ada di depan mata, ya dimakan, saya ga tanya gimana bikin makanannya, saya ga tanya bahannya apa aja, paling-paling saya cuma tanya, makanannya halal atau nggak.

Setelah punya anak dan anaknya mulai bisa makan macem-macem, saya mulai perhatian sama makanan. Emak bapaknya boleh makan ga bener, tapi anaknya ga boleh! Sebisa mungkin ini anak makannya yang sehat-sehat dan terjamin kebersihannya. Lama-lama saya pedulinya ga cuma buat anak, tapi buat sekeluarga.

Masak pindang patin buat keluarga. Resepnya ada di sini, ya. :)
Masak pindang patin buat keluarga. Resepnya ada di sini, ya. ­čÖé

Jadi, dulu kalau sore-sore ga punya sayur, saya bisa tuh cari warung padang/warung tegal terdekat dari rumah. Beli sayur tumis/sayur santan Rp 5ribu buat sekali makan. Sekarang diusahakan banget kalau bisa dan punya waktu luang, ya masak sendiri. Masak itu ga lama kok, iris-iris, cuci, cemplungin, kasi bumbu, tunggu mateng. Gitu ajaa… Ya tapi memang mesti usaha dikit dan abis itu harus beres-beres alat masak. ­čśÇ

Kalau masak sendiri, memang menu sayurnya jadi lebih sederhana karena paling-paling saya masaknya sayur bayam dibening atau sayur labu direbus, tapi pas makan saya lebih percaya diri kalau sayurnya sehat dan nutrisinya terjamin.

Nutrisi terjamin?
Yup! Makanan yang dibeli di luar itu belum tentu sehat, lho. Bisa jadi udah dipanaskan berulang kali, bisa jadi ada tambahan penyedap makanan (yang kadang-kadang ga perlu karena tanpa penyedap makanannya udah enak banget), bisa jadi kena kotoran, dll.

Soal makanan yang dihangatkan, saya sempet browsing-browsing terus nemu pendapat beberapa ahli di beberapa media. Ini ada info yang saya lansir dari beberapa website seperti DetikHealth, Femina, dan Breaktime.

Andang Widhawari Gunawan, ahli terapi nutrisi bilang, baiknya membiasakan memasak atau membeli makanan dalam porsi sekali makan saja. Menurut dia, makanan yang terkena panas sedikit saja gizinya bisa hancur dan rusak. Jadi, kalau makanan dipanaskan bolak-balik, sama aja kita seperti ga makan apa-apa. Sisanya cuma ampas dan rasa kenyang. Jadi bagusnya makan makanan yang lewat single process aja, ndak diproses berulang kali.

Katanya sih, efek kehilangan gizi ini bakalan makin kerasa kalau yang dihangatkan berulang itu sayuran. Selain gizi yang hilang, rasa sayuran yang dihangatkan juga akan berubah. Uhm, iya sih, apalagi sayuran hijau ya, masak pagi dipanasin sore aja warna dan rasanya bisa berubah.

Soal makanan yang dihangatkan, ada pendapat lagi dari Ahli Nutrisi, Achmadi M.Sc. Menurut beliau memanaskan makanan punya dampak positif. Panas yang tidak terlalu tinggi bisa bantu memecah molekul protein mentah yang sangat panjang menjadi lebih pendek. Kalau proteinnya sudah dipecah, jadinya bisa lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Tapi….
Nah, ini yang penting. Suhu di atas 80º C malah bisa merusak beberapa zat nutrisi yang ada dalam masakan, contohnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Trus, nah ini yang agak serem, ternyata pemanasan makanan/bahan makanan yang berulang-ulang juga bisa mengubah sifat lemak menjadi karsinogen atau zat pemicu kanker.

Duh… ­čÖü
Makin semangat masak sendiri kalo gitu ceritanya kan?

Eniwei, ceritanya belum selesai sih ini. Masih ada lagi pendapat dari Dr. Djoko Maryono DsPd, DsJp, FIHA, FACC, pakar jantung Rumah Sakit Pusat Pertamina. Pak Djoko bilang, efek memanaskan makanan akan jadi lebih berbahaya kalau yang dipanaskan berulang adalah makanan yang berbahan santan!

Nah lho, soto betawi apa kabar?

Kenapa santan lebih bahaya? Karena makanan bersantan yang dipanaskan berulang akan membentuk aseton. Aseton itu salah satu kandungan radikal bebas yang kuat dan membahayakan kesehatan. Aseton bisa nempel di pembuluh darah dan menyebabkan plak yang bisa mempersempit atau menyumbat sirkulasi darah.

Ehh, yang salah bukan santannya sih. Soalnya santan itu bagus buat tubuh karena ada kandungan lemak baik fitosterol, sama seperti yang ada di alpukat. Tapi, pemanasan berlebihan malahan bikin kandungan baiknya hilang.

Iyah, jadi gitu, saya sih mau coba terus dan berusaha terus untuk masak dalam jumlah sedikit, porsi sekali makan untuk sekeluarga aja. Kalau ga bisa masak, ya beli, tapi tetap dalam porsi kecil, supaya di rumah ga sisa, sayang dibuang, dan dihangatin lagi. ­čśÇ

Selain buat makanan, minuman buat anak juga saya pikirin sih. Untuk susu, dia pilih susu yang proses pembuatannya pake single process juga dibanding double process :

  1. Single Process : Susunya ini dibikin dari sapi yang diperah susunya, lalu dibawa ke pabrik dan ditambahi lemak dan vitamin, kemudian dipanaskan/pasteurisasi baru dijadikan bubuk dengan sistem spray dried.
  2. Double Process : Bahan bakunya adalah susu yang sudah menjadi susu bubuk (diproduksi dari tempat/pabrik yang berbeda), lalu dicairkan kembali, dan diolah kembali dengan proses yang sama seperti pada single process.

Sama kayak makanan, susu dengan single process itu lebih baik karena proteinnya masih utuh, ga rusak karena proses pemanasan yang berulang. Jadi, kalau beli susu buat anak, saya biasanya baca label di belakangnya, kalau bahan utamanya susu segar berarti ok. Tapi kalau bahan utamanya tertulis susu skim/susu bubuk, saya biasanya langsung skip.

Kalo ga emaknya yang pilih makanan sehat buat keluarga, siapa lagi kan?

/salam sehat

4 thoughts on “Kenali Lebih Dalam Makananmu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *