Ketika Rasa Aman, Dongeng Belaka

Berita seliwar-seliwer di twitter, ada berita baik, ada pula berita buruk. Entah kenapa yang nyantol kuat di otak saya adalah berita buruk. Salah satunya adalah penodongan di Jalan Sudirman. Dua-Tiga tahun lalu, saya pernah kecopetan. di kopaja 502 dari arah tanah abang.

Sama sekali tak terlintas di pikiran, kalau saya menjadi incaran pencopet. Saat itu saya duduk di bangku panjang, paling belakang. Lalu dua lelaki naik dari sekitaran Tugu Tani, tak lama kemudian. Saya sesekali mengambil handphone untuk membalas sms yang masuk. Setelahnya handphone saya masukkan kembali ke tas.

Tujuan saya sudah dekat, saya pun berdiri, mendekat ke pintu. Dua lelaki yang naik belakangan ikut berdiri di belakang saya. Lalu, persis saat turun, saat saya memindahkan tangan dari tas dan berpegangan ke pintu kopaja, saat itu pula si copet beraksi.

Dua kaki saya jejakkan ke trotoar, dan perasaan saya tidak enak. Mata tetiba melirik ke tas, dan owalaaa, sudah terbuka dia, saudara-saudara. Kopaja masih jalan pelan usai saya turun, saya berteriak meminta kopaja berhenti. Sekejap berhenti, si kopaja meraung, kabur secepatnya.

Bajaj yang lewat saya teriaki, saya menumpang bajaj, mengejar kopaja, dan sudah pasti, tentu saja bajajnya kalah. 🙁

Paska pencopetan, sampai berbulan kemudian, saya tidak berani menggunakan kopaja lagi. Terpaksa menambah anggaran transportasi untuk ojek.

Pencopetan itu meninggalkan bekas yang cukup dalam di hati dan pikiran saya. Bukan masalah handphone yang hilang, tapi rasa aman yang menguap bersama si handphone itu. Saya yang biasanya berani menyapa teman seperjalanan-sebangku di angkutan, kini duduk diam, memandang curiga pada setiap orang.

Pegangan pada tas makin saya kuatkan, saya sanggup menahan kantuk, menjaga mata nyalang selama perjalanan. Jika tidak benar-benar diperlukan, handphone, dompet dan barang berharga lainnya tidak saya keluarkan. Siapkan uang sekedarnya untuk ongkos.

Lelah, dua kali lelah. Lelah menghabiskan waktu di perjalanan, dan lelah pula mencurigai setiap orang di sekitaran.

Berita penodongan itu menguak kembali rasa takut saya. Dalam seminggu ini, tiga hari saya keluar rumah, dan tiga hari pula saya gemetar, ketakutan. Saya kebingungan, harus memilih angkot yang sepi, atau angkot yang ramai. Saya memandangi tangan-tangan di metromini, saya lelah.

Rasa aman, cuma dongeng, buat saya.

/salam

2 thoughts on “Ketika Rasa Aman, Dongeng Belaka”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *