Kita Sama-Sama Manusia

Saya belajar mengenal empati, rasa kasihan dan tolong-menolong dari mamak. Mamak begitu mudah memberi, saking mudahnya kami sekeluarga sampai gemes sendiri. Kalau ada peminta-minta yang mampir ke rumah, mamak biasanya langsung buru-buru ke dapur, ambil semangkuk beras. Ga cuma ke peminta-minta, mamak juga lemah sama orang yang datang ke rumah minta utangan! 😀

Dulu saya kurang paham dengan tindakannya mamak. Lha kami sekeluarga ini susah lho. Mandi gak pake sabun mandi, karena sayang uang untuk beli sabunnya. Beli baju setahun sekali pas lebaran. Baju sekolah dipakai sampai tipis. Kaos kaki bolong itu biasaaa.. Segitu susahnya, tapi mamak masih bisa nolong orang?

mom-pop

Iya, kami bukan orang kaya, tapi saya kok mikirnya mamak memang gak kaya harta, tapi luas hatinya, lebih luas dari hati enam anaknya digabung jadi satu. 🙂

Iya…

Mamak pernah cerita gini, di kampung itu semua orang hidupnya gotong-royong, saling menolong. Kalau ada yang mau buka kebun misalnya, orang-orang kampung akan bantu sama-sama supaya pekerjaannya cepat selesai. Trus kalau ada yang pesta, mana ada tuh segala yang namanya katering dan sewa alat! Ini semua dikerjain rame-rame, sekampung, modal pinjem. Ada yang bersihkan babi/sapi, ada yang iris sayur, ada yang siapkan alat masak.

“Dulu waktu mamak masih tinggal di kampung, hampir semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cara minta tolong dan dikerjakan sama-sama,” kata mamak.

Trus sambil nulis gini, saya jadi inget kisahnya pengungsi Rohingya yang kemarin terdampar di Aceh. Info yang bisa dibaca di sini bilang sejak 2012 udah ada 100ribu orang yang melarikan diri dari Rohingya. Terhimpit secara sosial dan ekonomi, penduduk Rohingya pingin punya kesempatan hidup yang lebih baik di tempat lain.

Tapi di mana?

foto dari artikel ini
foto dari artikel ini

Ini pengungsi udah diusir dari mana-mana, terapung berbulan-bulan di laut, trus akhirnya bulan lalu mendarat di perairan Aceh, Indonesia. Sebelum mereka terdampar, udah banyak banget berita dari media yang berseliweran di timeline twitter & facebook. Intinya sih, Rohingya ini tanggung jawab negaranya, kalau dia masuk ke Indonesia, nanti bisa saja timbul masalah baru untuk pemerintah & masyarakat Indonesia, baik masalah sosial maupun masalah ekonomi.

Tapi orang-orang di Aceh ini mikirnya gak mau berpikir sampai ke sana sepertinya. Lihat ratusan manusia kurang gizi berjejelan dan minta pertolongan, hati mereka langsung tergerak. Semua pengungsi diterima, mereka gotong-royong ngasi pengungsi makan, pakaian, dan obat-obatan untuk yang sakit.

Orang Indonesia kenal mereka? Nggak sih, tapi jiwa tolong-menolongnya orang Indonesia ini cukup kental dan berakar. Gak ada yang memaksa untuk menolong, gak ada himbauan dari pemerintah juga, murni inisiatif warganya dan dikerjakan gotong-royong.

Ke orang-orang gak dikenal aja, inisiatif tolong-menolongnya langsung jalan. Gimana ke orang-orang sekitar, kan?

Tau Serikat Tolong-Menolong alias STM? Serikat Tolong-Menolong ini biasanya ada di kampung-kampung atau perumahan di Pulau Sumatera. Mungkin di Pulau Jawa/Kalimantan serikat ini juga ada, tapi dengan nama yang beda.

menolong

 

Oke, lanjut soal STM, seperti namanya, serikat yang anggotanya warga setempat ini punya tugas untuk menolong warganya yang kena musibah, contohnya meninggal dunia. Cukup diinfokan saja ke salah satu pengurus serikat, maka bantuan akan segera hadir. Warga secara gotong-royong mulai menyiapkan alat-alat kebutuhan jenazah, kebutuhan penguburan, hingga kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Semuanya ini tanpa bayaran lho, cuma dengan ikhlas saja.

Eniwei, bentuk tolong-menolong dan gotong-royong itu gak melulu mesti dengan uang, atau barang, lho. Sekarang banyak banget caranya, semudah dengan rame-rame share info penggalangan dana buat anak yang butuh biaya berobat, RT tweet temen yang lagi cari bantuan donor darah. Bisa juga dengan kirim broadcast message soal garage sale yang hasil penjualannya bakal disumbangin ke anak-anak putus sekolah. Atau bisa juga dengan nebengin orang-orang yang jalan pergi/pulangnya searah dengan kita, dan rame-rame bersihin selokan bareng warga komplek sebulan sekali.

Soal ini, mamak pernah bilang. “Kita semua sama. Sama-sama manusia, bedanya cuma di bungkus. Kalau bisa bantu, ya bantu. Kalau bisa ajak yang lain ikut bantu juga, biar lebih menolong.”

Iya, gotong-royong sebenernya udah sering kita lakuin kok, cuma kadang gak sadar aja waktu ngejalaninnya. Pasti sepakat dong kalau saya bilang kebiasaan gotong-royong ini memang jadi jati diri bangsa, meresap di nadinya orang Indonesia, dan jadi salah satu Mahakarya Indonesia yang gak boleh dilupakan.

Karena, kita semua sama-sama manusia.

/salam Indonesia!

4 thoughts on “Kita Sama-Sama Manusia”

  1. Aku tertarik banget sm kebiasaan di kampung. Kampungku apa sama juga dg kampung kakak sm Mamak kk ya, hihihi, daerah Pancurbatu sampai Tanah Karo sana. Di Toba juga. Kebiasaannya memang gitu, kalau ada pesta pasti masak bareng-bareng.

  2. tentang rohingya ini memang di luar akal kita.
    ini manusia-manusia yang harusnya jadi tanggung jawab negaranya, tapi terlunta.

    somehow bangga dengan orang indonesia yang mau susah dan kerjasama bantu orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *