Pengalaman Klaim Kacamata dengan BPJS

Saya mendaftar keanggotaan BPJS pada 2014, beberapa bulan setelah diluncurkan pemerintah. Kenapa ikutan BPJS? Karena dulu itu ada rumor yang bilang kalau BPJS akan jadi wajib. Momennya pas pula dengan kondisi saya yang pekerja lepas, tanpa kantor, tanpa asuransi.

Meski sudah jadi anggota, sebisa mungkin saya ga pakai BPJS sih. Siapa pula yang mau sakit kan ya. Nah, setelah 4 tahun lebih jadi anggota, kali ini saya memutuskan untuk coba klaim kacamata. Berhasil atau nggak yaa?

Terakhir ganti kacamata itu setahun lalu, setelah kacamatanya ga sengaja kecium bokong trus framenya patah deh. πŸ™
Sebagai sobat rabun, manalah bisa bergerak tanpa kacamata yeaa. Maka, saya langsung ke optik, ukur lagi minus terbaru, dan bikin kacamatanya. Berasa beli beras, tunjuk-tunjuk, ukur, disiapin, bayar. Cepet banget jadinya!

Karena nyaman-nya proses beli-beli pakai uang sendiri itu, awalnya saya cukup galau. Apa iya mau pakai BPJS? Apa sabar pakai BPJS? Apa punya waktu urus pakai BPJS?

Pertanyaan yang berat. Tapi semuanya saya jawab YA. Atas nama penasaran tentu saja. πŸ˜€

Kenapa sekarang mau ganti kacamata?
Karena saya mulai ga nyaman dengan kacamata yang lama. Tiap pakai kok rasanya pusing. Jadi kacamatanya saya pakai-lepas-pakai-lepas-pakai-lepas, begitu terus sampai negara api menyerang.

Setelah sekian bulan ditahankan, akhirnya saya memutuskan bikin kacamata baru aja. PAKAI BPJS. *ikat kepala* *singsingkan lengan baju*

Bagaimana prosesnya?

Jadi begini….

BPJS itu pakai sistem pelayanan berjenjang. Apa-apa harus dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat 1 (klinik/puskesmas), lalu kalau dirasa perlu pasien dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Tingkat 2 (rumah sakit). Jika dianggap masih kurang, baru kemudian naik ke Fasilitas Kesehatan Tingkat 3 (rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap). Aturan ini berlaku untuk semua jenis penyakit, kecuali pada kasus gawat darurat. Apa saja yang masuk kriteria itu, silakan klik di sini ya.

Karena klaim kacamata bukan kasus gawat darurat, saya menuju klinik lebih dulu. Di klinik saya bertemu dokter dan mengungkapkan perasaan tujuan saya. Dokternya langsung paham dan merujuk saya ke rumah sakit. Saya memilih rumah sakit yang terdekat untuk lokasi rujukannya.

Dari klinik saya langsung ke rumah sakit untuk proses berikutnya. Sayangnya baru sesampainya di rumah sakit (RS Permata Pamulang), saya tahu kalau dokternya hanya praktek 3 kali seminggu (Senin, Selasa, Jumat). Oleh petugas saya diminta datang lagi pekan berikutnya.

Pekan berikutnya, sekitar pukul 07.00 WIB saya datang lagi. Setibanya, saya langsung klik-klik mesin antrean, lalu terdiam sekejap saat membaca notifikasi pada kolom penanda praktek dokter mata. Katanya slot sudah penuh. Slot untuk dokter lain masih tersedia semua, yang penuh hanya dokter mata saja.

Melihat saya yang bengong di depan mesin, serombongan ibu-ibu lalu memanggil. “Mau ke dokter mata? Kalau iya, datangnya harus dari subuh, ada yang dari jam 4 pagi. Nanti duduk di sini, lalu dibikinkan urutan di kertas oleh satpamnya. Jam 7 mulai cetak kertas nomor antrean berdasarkan kedatangan. Yang paling pagi dapat nomor pertama. Sehari cuma ada 25 slot”.

Saya angguk-angguk aja pas ibunya ngomong. Setengah takjub, setengah bengong, setengah ngamuk. Jauh dari manusiawi sekali, meminta orang hadir pagi-pagi buta untuk cetak nomor antrean, lalu menunggu lagi sampai dokternya praktek jam 3 sore.

Otak saya menolak. Hati saya menolak. Di sini keteguhan hati saya untuk ikut prosesnya BPJS sudah berkurang 50%. Harga kacamata, yang tipe standar, ga terlalu mahal. Sempat terpikir untuk ke optik dan beli langsung. Tapi lalu, rasa penasaran saya menang. Ahh, begini aja masa mau nyerah? Dududu.

Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke klinik (Faskes 1). Saya minta rujukan rumah sakit diubah karena tidak bisa hadir sebegitu pagi untuk antre. Klinik menyodorkan nama-nama rumah sakit lainnya yang bisa dipilih sebagai pengganti. List rumah sakit itu saya telepon satu-satu, beberapa menjawab, beberapa tidak.

Hermina adalah salah satu rumah sakit yang menjawab telepon saya. Setelah berbicara dengan petugas, saya segera memilih rumah sakit ini sebagai rujukan. Hermina tidak menggunakan sistem antrean manual. Semua pasien (baik umum maupun BPJS) wajib mendaftarkan nama dan klinik tujuan lebih dulu lewat call center atau aplikasi RS untuk mendapatkan jadwal kunjung dan urutan berobat. Setelah itu, pasien diminta datang 1 jam sebelum jam praktek dokternya dimulai.

Tepat pada hari dan jam yang diinformasikan petugas, saya datang ke Rumah Sakit Hermina Ciputat. Saya menghabiskan satu jam untuk mendaftar sebagai pasien baru, dan satu jam lagi untuk mengantre di depan kamar praktek.

Saat dipanggil untuk diperiksa, saya cukup kaget dengan hasilnya. Saya pikir pandangan saya kurang enak karena minus mata saya bertambah, tak tahunya malah berkurang. Awalnya 3.00 & 2.50, sekarang jadi 2.00 & 1.00.

Setelah periksa, dokter meminta saya kembali ke loket pendaftaran untuk menyerahkan berkas. Di loket, petugas bilang kalau saya bisa kembali 2 hari lagi untuk mendapatkan surat legalisasi pembuatan kacamata. Surat ini harus diproses manual ke kantor BPJS.

Dua hari kemudian saya datang lagi ke rumah sakit, mendapatkan surat legalisasi dan diarahkan ke Optik Tangsel. Sepertinya di sekitaran Ciputat hanya optik ini yang bekerja sama dengan BPJS.

Di optik saya menyerahkan berkas + fotokopi kartu BPJS. Setelah mengecek berkasnya sebentar, staf optik kemudian meminta saya memilih frame kacamata yang diinginkan.

pilih-pilih kacamata

Pilihan kacamatanya cukup banyak dan disesuaikan dengan kelas BPJS yang diambil. Kalau dari sekian banyak frame yang disediakan tidak ada yang cocok, boleh pilih frame lainnya yang tersedia, nanti pihak optik akan mengurangi harganya sebesar hak kelas BPJS.

Kelas III : 150.000
Kelas IIΒ  Β : 200.000
Kelas IΒ  Β  : 300.000

Oh iya, optiknya juga menawarkan pilihan lensa yang lebih bagus, katanya sih anti UV, lebih bening, dll. Kalau berkenan, tinggal menambahkan biaya lensa sebesar Rp150.000.

Untuk yang stok lensanya kosong, harus menunggu satu dua hari sebelum kacamata bisa digunakan.Β Karena lensa yang saya butuhkan tersedia, bikinnya cepat saja, sekitar 30 menit.

kacamata baru saya!

Prosesnya cukup gampang sebenarnya. Hanya harus bolak-balik ke rumah sakit karena surat legalisasi yang tidak online tadi itu. Saran dari saya, sebelum meminta rujukan ke Faskes Tingkat II, baiknya telepon dulu rumah sakitnya untuk menanyakan sistem antrean. Sistem yang memudahkan pasien pastinya akan menghemat waktu, tenaga, dan emosi. πŸ˜€

Salam sayang dari saya dan mata yang sekarang sudah terang menatap dunia.

/salam mata-mata

 

 

 

 

 

 

12 thoughts on “Pengalaman Klaim Kacamata dengan BPJS”

  1. Berarti emang tergantung gimana sistem layanan/antrean di tiap RS, ya Re. Kapan itu baca mbak2 di twitter yg cerita pengalamannya soal yg sama. Oke juga BPJS ini ya. Ya emang, kurang di kepraktisan aja. Tapi lumayan banget lah yaaa πŸ˜€

    1. Bener Mbok, buat pekerja lepas yang ga punya asuransi, mantap betullah. Tinggal banyak-banyak browsing, banyak tanya, banyak telepon supaya ga kena jebakan betmen kaya aku. πŸ˜€

  2. proses yang panjang dan antrenya ini sih yang bikin malas urus pake BPJS.. kalo mau murah ya harus meluangkan waktu (emosi, dan tenaga, memang)..

    btw, habis berapa untuk total untuk beli kacamata (termasuk yg udah dipotong BPJS)?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *