Merindu Larantuka

Saya hanya punya empat jam untuk sendirian di Larantuka. Terdengar sangat singkat, tapi ternyata waktu yang seadanya itu sudah cukup untuk menjelajah kota, dan jatuh cinta.

Namanya Larantuka. Dulu, pada abad ke-17, Larantuka berbentuk kerajaan yang berlatar agama Katolik. Kerajaan ini, seperti kerajaan lain di Nusantara, pada akhirnya dikuasai oleh Belanda dan pemerintahan kerajaannya dihapuskan. Setelah Indonesia merdeka, Larantuka pun bergabung dengan NKRI dan kemudian menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Flores Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sekarang, sisa kerajaan Larantuka hampir hilang sama sekali, tetapi tidak demikian dengan peninggalan agama katoliknya. Akhir bulan lalu saya sempat berkeliling Kota 1000 Kapel ini dan mampir ke beberapa tempat ibadah. Untuk memudahkan dan menghemat waktu, saya menyewa ojek untuk setengah hari. ^^

Adalah Om Muchsin Ahmadun Dahlan, ojek yang mengantarkan saya berkeliling Larantuka. Ketika mengetahui niat saya untuk berkeliling, Om Muchsin menuliskan nama-nama tempat ibadah yang cukup populer. “Nanti kita mampir ke Masjid juga, di Larantuka Katolik dan Islam hidup berdampingan,” katanya menjelaskan.

Seperti orang tua saya yang berpindah keyakinan dari Kristen ke Islam ketika dewasa, orang tua Om Muchsin melakukan yang sama. Tapi berbeda dengan saya yang lapang hati saat ke luar masuk rumah ibadah agama lain, Om Muchsin memutuskan untuk menetapkan batasan. “Saya tunggu di luar saja,” kata dia.

Mater Dolorosa

Mater Dolorosa adalah tujuan pertama kami. Keinginan untuk berkunjung ke tempat ini sudah lama hadir karena foto-foto yang bertebaran di internet sungguh indah. Lokasinya ada tepat di pesisir pantai, tidak jauh dari pelabuhan.  Di Mater Dolorosa kita bisa melihat rumah-rumah doa (kapel) yang menceritakan perjalanan hidup Yesus dan patung besar Bunda Maria sedang memangku jenazah Yesus.

Mater Dolorosa
Patung Bunda Maria memangku Yesus

Saya menghabiskan waktu cukup lama di Mater Dolorosa, mengunjungi satu-persatu rumah doanya, lalu duduk melamun di hamparan rumputnya. Waktu yang tidak sia-sia, karena sekembalinya ke rumah, pengalaman itu menjadi napas untuk tulisan ini.

Tak jauh dari Mater Dolorosa, saya mampir sejenak ke Kapela Tuan Ma (Bunda Allah) dan Kapela Tuan Ana (Putra Allah). Dua kapela ini akan ramai sekali saat prosesi tahunan Semana Santa (Pekan Suci) dihelat. Pada pekan itu, Kota Larantuka berubah menjadi kota berkabung, untuk mengenang kisah sengsara Yesus, wafat, dan kebangkitannya.

Kapela Tuan Ma

Kapela Tuan Ma adalah kapel tertua di Larantuka dan dibangun dalam masa kepemimpinan Raja Larantuka pertama, Ola Adobala Diaz Viera De Godinho.  Di Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana, saya tidak bisa masuk bahkan ke halamannya. Selain hari ibadah Minggu, pagar kapela terkunci dan tidak terbuka untuk umum.

Di dalam kedua kapela ada patung Bunda Maria dan Yesus yang hanya dikeluarkan setahun sekali dan diarak dalam prosesi Semana Santa. Penasaran? Iya, saya juga. Semoga ada kesempatan kembali ke Larantuka untuk melihat langsung prosesinya.

Puas memandangi tampak depan dua kapela yang jadi pusat perayaan Semana Santa, Om Muchsin mengantarkan saya ke Patung Reinha Rosari (Bunda Maria) yang menjadi landmark kota Larantuka. Patung yang berada di ujung jalan Kota Larantuka ini juga sebagai penanda doa Bunda Maria untuk seisi kota.

Patung Reinha Rosari
Patung Reinha Rosari

Persis di sebelah Patung Ima Reinha Rosari, ada Keuskupan San Dominggo Larantuka. Saya tak punya keberanian untuk masuk dan minta izin melihat-lihat area keuskupan meski gerbangnya terbuka. Meski begitu, saya sempat berdiri beberapa menit di depan gerbang, berharap ada uskup yang mendadak lewat untuk diajak bertegur sapa.

Keuskupan San Dominggo Larantuka.

Katedral Reinha Rosari Larantuka atau yang dulu dikenal sebagai Gereja Besi menjadi tempat perhentian saya berikutnya. Katedralnya luar biasa cantik dan luas. Di halamannya saya sempat duduk-duduk sebentar, menikmati kesibukan orang berlalu-lalang. Pohon besar melindungi sebagian area taman katedral dari pancaran sinar matahari langsung. Angin meniup sepoi-sepoi. Udaranya sejuk meskipun saat itu sudah jelang tengah hari.

Taman Doa Tuhan Meninu jadi tujuan saya selanjutnya. Berbeda dengan dua kapela sebelumnya yang gerbangnya terkunci rapat, area halaman taman doa ini terbuka untuk umum. Khusus untuk kapela memang tertutup dan hanya dibuka setiap hari Minggu.  Di dalam kapela Tuan Meninu disimpan Patung Tuan Meninu atau patung kanak-kanak Yesus. Saat Semana Santa, patung ini, bersama Patung Tuan Ma dan Tuan Ana akan dibuka dan diarak oleh peziarah.

Gerbang Taman Doa Tuhan Meninu
Pemandangan di area Kapela Taman Doa Tuhan Meninu
Pintu Kapela Taman Doa Tuhan Meninu yang tertutup

Menepati janji, Om Muchsin mengajak saya berkunjung ke dua masjid yang sering didatanginya untuk beribadah, Masjid Postoh dan Masjid Agung As Syuhada Eka Sapta. Tidak banyak aktivitas yang terlihat di Masjid Pontoh, tetapi di Masjid Agung cukup banyak orang yang masuk dan ke luar masjid meskipun saat ini ada pekerjaan renovasi di bagian luarnya.

Masjid Postoh
Masjid Agung As Syuhada Eka Sapta

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Flores Timur per 2015 lalu, ada 9197 penganut agama Islam,  2391 penganut agama Kristen, dan 34393 penganut agama Katolik di Larantuka. Sampai saat ini, menurut Om Muchsin, belum pernah dan semoga saja tak akan pernah ada, konflik agama yang cukup besar di Larantuka. Penduduk hidup berdampingan dan saling menghormati kepercayaan masing-masing.

Ucapan Om Muchsin dan perjalanan singkat di Larantuka membuat pikiran saya melayang ke sosok Romo Soegija (Albertus Soegijapranata) dan kutipannya yang terkenal: “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat-istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan.”

Semoga kemanusiaan bukan cuma kata-kata yang bisa ditulis lalu hilang terbawa angin ketika dilakukan.

Selamat tinggal, Larantuka.

/salam dari Flores

Catatan: Jika sewaktu-waktu ingin berkeliling kota dan membutuhkan jasa ojek, Om Muchsin bisa dihubungi di nomor 081217814415.

46 thoughts on “Merindu Larantuka”

  1. Foto2nya kereen. Viewnya emang bagus banget yaaaahhhh. Ya ampun Indonesia itu banyak tempat2 kece ya..
    Beneran ada kerajaan Katolik gitu ya. Islam dan Kristen hidup berdampingan. Ahhh sungguh damai yaaa..

  2. Pertama kali tahu Larantuka dari lagunya Boomerang dulu gara2 kakak dan om suka dengerin lagu itu. Ternyata tempatnya bener2 indah, ya. Foto2nya bagus, Kak. Thanks for sharing, aku jadi tau kalo Larantuka dulunya adalah kerajaan Katholik. Selama ini taunya cuma nama daerah. Hehehe

    ayuniverse.com

  3. Saya tau Larantuka sejak judul lagunya grup band rock 90an-200an BOOMERANG 🙂 Ternyata begini ya tempatnya. Ada tulisan lain ngga seputar kota dan keramaian serta aktivitasnya mba re?

    Belum kesampaian kesana, hanya sampai Kupang saja.

  4. Larantuka, setiap denger atau baca kalimat itu teringat satu sosok idola stand up comedian yg berasal dr sana. Dia yg mengenalkan saya pada larantuka. Dan fix jadi pengen kesana 😍😍

  5. Ya ampuunn kok aku naru tau nama larantuka. Di awal baca judul, aku sempet mikir “apaan tuh larantuka?”.
    Indah banget yaaa…. indomesia memang cantik.

  6. Paling seneng kalau wisata reliji yang masih berbau2 sejarah gtu.
    Tapi gpp ya mbak yg muslim masuk? Atau minta izin dulu?
    Setuju quote terakhir, moga gk ada kebencian lagi krn berbeda di muka bumi ini. Pada dasarnya aja Allah menciptakan manusia itu gk sama…
    TFS 🙂

    1. Boleh, tapi kalau gerbangnya tertutup ya ngga boleh.
      Prinsipnya sama dengan masuk ke kuil, boleh aja tapi tetap sopan dan jangan berisik.

  7. ngebaca komen2 di atas, ternyata bukan gue doang yang keingetnya ke Boomerang :))
    seneng ya kalo antar umat beragama pada akur, urusin keimanan masing-masing aja 😀

    1. Wajib dicatat. Oh iya itu si oom tarifnya juga murce. Kasitau aja kita punya duit berapa, tanya dia dengan duit segitu bisa muter ke mana aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *