Layanan KB Gratis di Puskesmas

Bermula dari status seorang kawan di Facebook soal layanan KB gratis di puskesmas, saya lalu penasaran dan berminat menjajal sendiri kebenarannya.

Jumat pagi, saya meluncur ke Puskesmas Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan. Hari masih pagi dan udara tidak begitu panas, jadi saya memutuskan berjalan kaki menuju lokasi. Lagipula, puskesmasnya terhitung dekat dari rumah, cuma 700 meter saja.

Setiba di puskesmas, saya segera menuju bagian pendaftaran. Sayangnya saya kecele, saya pikir layanan puskesmas secara umum tersedia setiap hari, ternyata puskesmas ini menyesuaikan layanan umum berdasarkan hari tertentu. Jumat, ketika saya datang, yang tersedia adalah layanan ibu hamil. Untuk KB/Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tersedia hanya pada Selasa dan Sabtu,

Karena masih penasaran dengan layanan gratisnya itu, saya memutuskan pulang ke rumah dan kembali lagi esok harinya. Sebelum pulang, saya dapat info tambahan kalau layanan KB hanya tersedia mulai pukul 07.00 – 11.00 WIB. Uhm, pendek sekali waktunya, ya. Seandainya saja puskesmas bisa membuka jam layanan lebih panjang.

Sabtu pagi saya sudah duduk manis di bangku tunggu puskesmas. Saya dapat antrian nomor 32. Nomor antrian ini berlaku untuk semua yang mendaftar. Nanti nomornya akan dipanggil dan diberikan kertas antrian baru. Pasien baru diharap membawa serta fotocopy KTP & BPJS.

loket pendaftaran dan farmasi

Di loket nomor antrian saya diambil dan diganti dengan nomor antrian layanan khusus. Saya dapat antrian nomor 6 untuk kunjungan bidan. Tak lama, sekitar 15 menit kemudian saya sudah masuk ke ruangan untuk konsultasi.

Saya cukup pesimis sebelumnya, puskesmas adalah tempat terakhir saya untuk mendapatkan layanan kesehatan. Terbayang sumpeknya, panjangnya antrian, bangunan yang kumuh, dan ruangan yang berantakan. Sebagian besar ketakutan saya terbukti, kondisi puskesmas tidak seresik rumah sakit favorit saya, Eka Hospital. Tapi, ya ga sekumuh itu juga.

Ada beberapa kipas angin yang dipasang di dalam ruangan, ruang tunggunya memang kecil, tapi cukup layak. Semua kekurangan puskesmas yang saya sebut di atas terbayar lunas dengan senyum dan keramahan petugas. Sejak masuk bidan bertanya dengan bahasa yang baik, menjelaskan soal KB, dan menanyakan jenis KB yang saya inginkan.

Ada dua jenis IUD (intra uterine device), yang mengandung hormon sintetik progestin dan tembaga. Saya memilih IUD tembaga(non-hormonal).

IUD dengan hormon berkerja dengan menciptakan lapisan serviks yang tebal sehingga sulit ditembus sperma. Hormon progestin juga membuat lapisan rahim menjadi lebih tipis sehingga sel telur yang sudah dibuahi lebih sulit menempel. Sedangkan IUD non-hormonal akan melepaskan ion tembaga yang toksik bagi sel sperma. Ion ini menyebabkan sperma sulit berenang untuk menemui jodohnya, si sel telur.

Sebelumnya, selama 11 tahun terakhir saya memilih KB kondom untuk mengatur reproduksi. Selama ini belum ada masalah dengan kondom, hanya kali ini saya ingin mencoba metode KB yang berbeda.

Sewaktu konsultasi, bidan menjelaskan kalau seperti metode KB lainnya, IUD juga punya efek samping. Tidak setiap orang mengalami efeknya, katanya sekitar 5% saja yang mengalami. Efek sampingnya yaitu: rasa tidak nyaman (serupa kontraksi) di perut bagian bawah, flek/pendarahan dalam jumlah kecil, waktu menstruasi menjadi lebih panjang, dan volume darahnya juga meningkat.

Jika setelah dipasang di dalam rahim, efek sampingnya terasa mengganggu kualitas hidup sehari-hari, IUD bisa dilepas segera. Tidak diperlukan waktu tunggu antara pasang dan lepas. Namun, jika tidak ada kendala, IUD bisa bertahan di dalam rahim selama maksimal 8 tahun. Meski begitu, biasanya dokter/bidan akan mengusulkan IUD dilepas setelah 5 tahun pemakaian untuk menghindari perlekatan pada rahim.

foto dari https://www.mamamia.com.au

Cara pasangnya cukup menggemaskan, haha. Sebenarnya saya takut luar biasa, terbayang sakitnya. Pas dipasang ternyata tak sakit sama sekali. Kurang nyaman iya, tapi tak sakit. Mulanya saya diminta duduk mengangkang di kursi dengan dudukan betis tinggi. Lalu, vagina dibuka lebar dengan spekulum, dan rahim diukur panjangnya dengan alat semacam penggaris besi bulat,

foto dari alodokter

Panjang rahim ini menentukan seberapa panjang sisa benang IUD yang perlu ditinggalkan. Fungsi benangnya untuk memantau keberadaan spiral dan memastikan apakah spiral masih berada pada tempatnya atau sudah bergeser. Setelah IUD dipasang, penggunanya dianjurkan untuk memeriksa keberadaan benang secara teratur. Jika benangnya hilang, bisa jadi IUD telah terlempar keluar dari rahim.

Sila tonton video di atas untuk lihat cara pasang IUD di dalam rahim, yaa. ^^

Proses pemasangan IUD singkat saja, sekitar 10 menit. Setelah selesai, bidan meresepkan asam mefenamat sebagai anti nyeri/anti radang. Untuk memastikan IUD terpasang sempurna, bidan lalu meminta saya berbaring di kasur pemeriksaan untuk USG rahim. Hasilnya, posisi IUD oke, dan saya diminta datang pekan berikutnya untuk kontrol kembali.

Selepas dari ruang bidan, saya turun ke loket farmasi untuk memberikan resep dan menunggu obat. Di loket farmasi saya diberikan koin. Petugas meminta saya memasukkan koin ke kotak yang sesuai dengan tingkat kepuasan saya atas layanan puskesmas hari itu.

Total waktu yang saya habiskan di puskesmas sekitar 1 jam saja. Setelah menerima obat saya tidak ditagih biaya apapun. Yayy! Pemasangan IUD di rumah sakit harganya sekitar Rp500.000, lumayan ya bisa menghemat segitu banyak. ^^

Oh iya, saya tinggal di Tangerang Selatan. Layanan KB gratis ini tersedia di daerah permukiman saya tinggal. Saya kurang tahu apakah layanan yang sama tersedia di tempat lain. Supaya jelas bisa cek ke puskesmas terdekat, ya. 🙂

Selain di puskesmas, saya sempat baca kalau BPJS menyediakan layanan KB secara gratis pula. Sayangnya, minggu lalu saat memastikan hal itu ke klinik tempat saya mendaftar layanan kesehatan tingkat pertama, petugasnya bilang KB tidak ditanggung. Karena informasi di BPJS masih simpang siur, saya memilih menjajal layanan puskesmas dan terpuaskan dengan sukses!

/salam KB

Baca juga: pengalaman menjajal layanan puskesmas untuk tes darah.

21 thoughts on “Layanan KB Gratis di Puskesmas”

  1. Peogram yang bagus nih. Jadi bisa menekan jumlah kelahiran anak. Karena skrg ini, bnyk yang memiliki banyak anak (khususnya mereka yang, maaf, tdk berpendidikan) yang justru menelantarkan anak2 mereka.

  2. Mohon infonya….sebetulnya apa yang membedakan IUD di dokter, bidan dan puskesmas…mengapa harganya bisa sabgat jauh berbeda.. selain dilihat dari profesinya. Apakah jenis IUD yg dipakai sama?

    1. Sepertinya dan setauku sama aja, mungkin kalau ada perbedaan di merk IUD yang dipakai.
      Beda harga karena lokasi pasangnya aja. 🙂

  3. Aq jg ditangerang selatan, daerah ciputat timur. Berniat mau pasang KB juga, tp maju mundur, takut..beneran..Udah tanya2 sih ke puskesmasnya juga,.dan iya mba gratis.
    Semoga saya segera diberi keberaniaan…

    1. Aku hari ini pasang spiral coper T, sebentar doang paling 10 menit dan gratis pake bpjs. Yg mau pasang jgn takut, ada yg blg kl pasang pas dtg bln lebih enak ahhh tp aku lg ga dtg bln jg gpp, ga sakit sama sekali. Dari pd minum pil aku kena morning sickness trs dan badan ga gemuk2 jd coba spiral.

  4. Mbak, makasih sharingnya yaa. Saya mau tanya, biaya kontrolnya berapa ya? Kemudian waktu kontrol, pake USG aja atau dibuka pake spekulum lagiii?

    Terima kasiiih

  5. Makasih sharing nya mbak.besok insyaallah saya dapat rujukan kb gratis dr bidan saya.dah g cemas lagi deh setelah baca pengalaman mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *