Lukisan

Setiap hari ada satu garis yang aku tarik untuk melengkapi gurat wajahmu.
Setiap hari.

Kala teringat bibirmu, aku bekerja keras di situ, menggambar bentuk mulut sambil membayangkan kecupmu.
Kali lain, saat memori membawaku ke tangan besar yang melingkupi punggung, aku melengkapi garis tanganmu, membuatnya nyata. Hingga dadaku sesak, hanya dengan melihatnya.

Hari ini aku sedang mengingat matamu. Lalu aku tak kuasa menahan diri, menarik beberapa garis sekaligus, membuat matamu hidup dan menguarkan tatap panas. Ahh, ramuan dukun mana yang kau beli? Hanya dengan menatapnya saja, aku menggigil di bagian-bagian tubuh tersembunyi.

Ketika nanti gurat tubuhmu lengkap, mampukah aku menjadikannya bernyawa? Agar kita bisa mengulangi malam, saat napas berkejaran, dan mulut memamah lapar.

/ode rindu nomor seratus dua

8 thoughts on “Lukisan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *