Mati Berulang Kali

Selamat pagi lelaki kesayangan yang jauh dari jangkauan.
Apa kabarmu hari ini?
Aku memikirkanmu nyaris bersamaan dengan terbukanya mata
Saat pagi tiba dan raga tak lagi butuh jeda.
Sebenarnya tak persis seperti itu
Karena di alam mimpi, apapun, dan bagaimanapun
Kau tetap ada, bersembunyi rapi, lalu sesekali muncul untuk mengganggu.
Bukan, bukan aku tak suka diganggu
Hanya saja berikan aku waktu, karena perih kemarin belum lagi pulih
Tangis kemarin belum lagi tunai.

Selamat pagi lelaki impian yang enggan mendekati kenyataan.
Semoga kau sehat dan baik-baik saja hari ini.
Doa-doa baik kubisikkan pada angin dan hujan yang menderu
Melihatmu baik, bahagia, jauh dari nestapa adalah kebahagiaanku
Aku mencintaimu persis seperti Zainuddin mencintai Hayati, tak mau berhenti, hingga Van der Wijck tenggelam.
Aku mencintaimu seperti Minke mencintai Annelies, tak patah arang meski kau meragukan keteguhanku di bumi penuh manusia.
Aku mencintaimu persis rindunya debu kepada hujan. Enggan berhenti walaupun kelak saat hujan datang, debu malah hilang tersapu.

Selamat pagi, lelaki harapan yang tinggal jauh dari pandangan.
Apa rencanamu hari ini?
Apakah aku termasuk di antaranya?
Ahh, maafkan pertanyaanku. Bukan maksudku membuat rikuh
Kau tentu tahu betapa sulit untuk tahu diri.
Hasrat memalungku, ikatan tak kasat mata menjeratku.
Sulit untuk pergi, meskipun
Tak ada yang kudapatkan darimu, untuk kita
Selain lancipnya kata, yang menikam jauh
Dan membuatku mati berkali-kali.

/ode rindu nomor seribu

One thought on “Mati Berulang Kali”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *