Memamah Rindu

sunset

Tak perlu mesin untuk membayangkan ragamu terbentuk dalam otak. Kau terwujud, sempurna, lengkap dengan kacamata kecil yang tersangkut dengan canggung di batang hidung. Sesekali aku mampu membayangkan mulutmu dan kalimat sinis yang mudah sekali meluncur dari sana. Aku menyukai setiap katanya. 

Mencintaimu bisa kulakukan bahkan tanpa bertukar sapa. Perjuangan berbulan untuk melupakan, -berusaha tidak jadi orang pertama yang mengirimkan pesan, bahkan sekedar ‘hai‘-, mutlak sia-sia. Seperti sulur sirih yang cepat sekali tumbuh memenuhi dinding rumah, cinta meliputiku, hanya menyisakan seberkas sinar kecil di sela-selanya, untuk bernapas, dan mencegah diri tenggelam lebih dalam.

Mungkin kau akan menampilkan senyum kemenangan jika tau ada rona yang timbul ketika namamu tidak sengaja terbaca di satu tempat, tak memandang waktu, hingga kadang mencelakakan. Terlalu kuat, sampai pada beberapa waktu, aku perlu bersandar untuk bertahan. Perlu bantuan untuk kembali muncul ke permukaan.

Cinta bekerja dengan cara yang misterius. Mirip kaktus yang keras kepala tumbuh di tanah tandus. Meniru mercusuar di tengah laut, tak gentar meski didera ombak tanpa putus. Terlalu kuat untuk diredam, terlalu indah untuk diabaikan, terlalu sakit untuk dilupakan.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, tanpa kekhawatiran, tanpa luka. Sayangnya cara itu tidak tersedia. Baik sekarang, nanti, mungkin selamanya.

 

/ode rindu nomor seratus sekian.

10 thoughts on “Memamah Rindu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *