Membekukan Waktu Bersamamu

Belakangan ini saya sering sekali mengajak Embun jalan-jalan. Kadang jalan dekat, kadang jalan jauh. Dicari yang pas saja, kalau waktunya memungkinkan, dananya juga memungkinkan ya pilih yang agak jauh. Kalau waktunya sempit dan dananya sedikit, kami pilih liburan di tempat yang dekat.

Mengapa toh mesti repot membawa-bawa anak sekecil itu jalan-jalan. Sudahlah capek, habis waktu, banyak uang terpakai. Sudah itu, anaknya belum tentu ingat dengan perjalanannya. Sepanjang apa dia bisa menyimpan memori jalan-jalan bareng orang tuanya?  Paling-paling beberapa bulan lagi ingatannya sudah samar-samar. Lalu setahun, dua tahun lagi dia sudah lupa.

Kalau dipikirkan, memang iya. Ingatan adalah sesuatu yang tidak bisa digenggam dan disimpan selamanya. Memori pergi, sedikit demi sedikit, dan lalu akan hilang sepenuhnya pada waktunya nanti. Embun mungkin tidak akan ingat bagaimana perjalanan yang kami lakukan, ke mana kami pergi, juga makanan apa yang kami cicip.

Tapi, saya ingat.

Dan saya memeluk erat semua ingatan tentang perjalanan kami di tempat yang mudah ditemukan. Saya menuliskannya di blog, saya membagikan fotonya di Instagram, saya menceritakannya kepada teman-teman. Saya memutar semua kejadian, terus-menerus.

Embun mungkin akan lupa. Tapi saya tidak.

Dan itu, buat saya, sudah cukup. Kami menikmati perjalanan, kami bersenang-senang, kami tertawa bersama, kami berlari-lari mengejar kereta, dia memeluk saya sepanjang perjalanan, dia menangis karena butuh meluapkan emosi, dia memutar-mutar debu di Bromo.

Bromo.

Bromo adalah tempat yang kami pilih untuk membekukan waktu bersama. Melupakan lelah, marah, masalah. Bromo menyatukan kami dalam keindahannya yang magis. Bromo jadi tempat kami mencetak kejadian-kejadian baru, yang semoga saja bisa menjadi kenangan manis untuk diingat kembali saat sedang senggang dan merindu.

Akses ke Bromo dari Jakarta cukup mudah, bisa dengan bus, pesawat, atau kereta api. Lokasinya memang tidak di tengah kota, jadi setibanya di kota terdekat, Malang, kami harus menuju lokasi dengan moda transportasi lain (mobil sewaan dan jeep).

Sementara, saya simpan dulu cerita soal moda transportasi menuju kawasan Bromo. Sebelum itu saya ingin berbagi soal perjalanan pergi menuju Malang.

Jadi begini, kalau kamu punya teman yang suka bilang, “Enak ya kamu jalan-jalan melulu,” coba itu mulutnya disuapin nasi rames. Mungkin dia sedang lapar, dan bibirnya butuh kegiatan lain supaya tidak komentar yang gitu-gitu aja.

Perjalananmu, perjalanan saya, biasanya akan mudah terlihat SEINDAH FOTO INSTAGRAM di mata orang-orang yang tidak mengalami. Tapi, tidak ada yang tahu perjuangan kamu (saya) untuk menujunya. Dalam kasus perjalanan terakhir kami, drama pahit dimulai dari…. ketinggalan kereta… 🙁

Kami cukup sering naik kereta dan sudah memperkirakan waktu menuju Stasiun Senen. Semua baik-baik saja, sampai tiba di Stasiun Tanah Abang. Jarak Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Senen dekat sekali. Kalau naik ojek, pada jam-jam macet, hanya butuh waktu sekitar 15-30 menit.

Masalahnya, yang menghambat kami tiba di Senen bukanlah macet. Tapi demonstrasi yang membuat massanya menutup sebagian besar jalan protokol di sekitar Medan Merdeka dan Monas.

Padahal, itu jalan yang harusnya kami lewati!

Ojek yang saya tumpangi enggan jalan di belakang demonstran, dan memilih memutar jauh. Ternyata inisiatif abang ojek itu dilakukan oleh banyak orang. Jalan alternatif pun ikut macet. Memang tidak berhenti total seperti jalan-jalan yang dilewati para pengunjuk rasa, tapi tetap saja kami akan butuh waktu berlipat untuk tiba di tujuan.

Pernah menahan buang air di perjalanan? Nah, yang saya alami kurang lebih demikian. Tangan berkeringat, bernapas sulit, jantung berdebar, dan duduk tak tenang. Abang ojek tampaknya paham pergulatan batin yang saya rasakan. Beliau memacu motornya kencang.

Sayang, perjuangan si abang untuk menenangkan hati saya tidak berjalan baik. Setibanya di depan Stasiun Senen, kami melihat ekor kereta melenggang pelan, meninggalkan stasiun. Kami hanya telat tiga menit saja. Tiga menit dan tiket sekian ratus ribu rupiah yang hangus begitu saja… Huhuhu….

Sampai hari ini saya masih menyesali hal-hal kecil seperti:

“Kalau ga jajan DumDum, mungkin keretanya terkejar”
“Harusnya jajan di restoran kereta aja, ga usah bungkus nasi Padang”
“Tau gitu, berangkatnya dari pagi trus kerja sambil nongkrong di Senen”
“Harusnya pake ojek pengkolan aja supaya ga nunggu lama di stasiun”

Sekian harusnya yang mengganggu hidup saya belakangan.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, enaknya dimakan sambil diaduk. Di loket, saya dapat informasi tiket kereta sudah habis untuk keberangkatan hari itu. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain pasrah. Kami memutuskan membuka bungkusan nasi Padang, dan makan di teras stasiun sambil berpikir mau dibagaimanakan perjalanan ini. Terpikir tidak jadi berangkat, tapi rasanya sayang sekali, sudah capek, sudah packing, Embun sudah izin libur sekolah dan saya sudah izin libur kerja.

Sempat ingin naik bus, tapi lalu gagal karena teman-teman yang saya hubungi menolak keras, “Kalau naik bus, 24 jam juga belum tentu sampai di Malang!” kata mereka. Ada yang memberi saran untuk naik pesawat. Sayang harga tiketnya melambung tidak masuk akal.

Ketika sedang gundah gulana, tiba-tiba ada penumpang yang membatalkan keberangkatan. Saya bergegas ke loket untuk belanja tiket. Tiketnya cukup mahal karena belanjanya di waktu-waktu akhir.

L E L A H

Setelah proses jual beli selesai dan tiga lembar tiket resmi ada di tangan saya, adrenalin mulai menguap. Rasanya sekujur tulang jadi tak bertenaga. Saya tenang, merasa aman, dan lelah sekaligus.

Karena hampir gagal berangkat sebelumnya, ketika ada panggilan masuk untuk kereta Majapahit menuju Malang, kami jadi terburu-buru masuk gerbang dan terburu-buru pula masuk kereta. Tidak ada foto-foto cantik ala-ala orang yang hendak liburan.

Ini satu-satunya foto kami sebelum naik kereta, diambil dengan bantuan mbak-mbak penjaga mesin minuman. Fotonya diambil cepat-cepat dengan smartphone, gambarnya buram, miring, dan tidak layak berkompetisi di antara jutaan foto fantastis di Instagram. Tapi foto ini, dengan segala kejadian di belakangnya, punya nilai sejarah yang cukup tinggi.

Dear Bromooooooo, kami datang!

Cerita setelahnya adalah kisah yang cukup klasik. Ada obrolan sepanjang jalan, ada foto-foto cantik, ada tidur beberapa jam, ada banyak pelukan, nyemil tak putus, dan bolak-balik ke toilet. 16 jam berlalu cepat, Bromo semakin dekat.

Pernah dengar liburan “tipe traveler sejati” yang beli tiket sendiri, mengatur perjalanan sendiri, initerary bikin sendiri, cari angkutan sendiri, pergi sendiri, pulang sendiri? Dan liburan “tipe crazy rich Asian” yang tinggal bayar, duduk manis, lalu semuanya diurus orang lain? Kami memutuskan tidak memihak salah satunya dan senyum manis di tengah-tengah.

Menuju Malang dan kembali ke Jakarta, semua kami urus sendiri. Tetapi setibanya di Malang, perjalanan kami menuju Bromo sudah saya serahkan kepada ahlinya, penyedia jasa tur Traveler Malang. Kami dijemput, diajak keliling mampir ke spot-spot wajib kunjung turis, dan diantarkan kembali dengan selamat ke stasiun. 😀

Setelah istirahat di kereta, lelah akibat drama berat sebelum berangkat kemarin sudah mulai hilang. Kami siap menikmati cantiknya Bromo di akhir pekan. *ikat kepala kencang-kencang.

Indahnya pemandangan Bromo sudah tersiar sampai negeri seberang. Saat ini, setiap harinya Bromo dikunjungi ribuan pengunjung. Pada 2017 lalu, tercatat total lebih dari setengah juta wisatawan yang melancong ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sendiri, letaknya ada di antara empat kabupaten di Jawa Timur yaitu Malang, Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang. Tidak sekadar menikmati pemandangan sunrise, pelancong seperti kami juga bisa main ke Pasir Berbisik, Padang Savana, Bukit Teletubbies, Kawah Bromo, juga Air Terjun Madakaripura.

Bromo di pagi hari, sangat dingin. Umumnya suhu berkisar antara 3-20 derajat Celsius. Pada musim kemarau, suhu bahkan bisa jatuh ke titik nol derajat. Brrr, rasanya beku! Saya dan Embun cukup tersiksa di sini, mau senyum juga sulit karena kedinginan. 🙁

Kami mulai menikmati Bromo setelah matahari beranjak tinggi. Sengaja foto-foto ala-ala dengan “seragam” jahitan sendiri. Mengarungi lautan pasir untuk naik ke Kawah Bromo. Foto di rerumputan kering yang kalau di rumah rasanya biasa saja tapi entah mengapa kelihatan cantik sekali kalau di Padang Savana Bromo. Dan foto-foto macam model iklan di atas mobil Jeep! 😀

Mendaki ke Kawah Bromo
Padang Savana
Foto ala model Jeep
Pakai seragam, biar mirip kondangan.
Lagi damai, biasanya berantem terus kalo di rumah.

Kelihatannya, perjalanan kami di Bromo memang tidak jauh beda dengan cerita orang-orang. Jepret foto bagus di sini dan di sana, pasang fotonya di media sosial, lalu panen like berbekal pemandangan cantik di latar belakang.

Tapi izinkan kami membela diri sedikit. Perjalanan kali ini semata-mata kami lakukan demi Embun. Memberikan kesempatan kepadanya melihat bentang spektakuler semesta, mengajarinya bertahan di perjalanan panjang, dan menjaganya tetap berdiri saat ada kejadian yang tidak menyenangkan. Kami mengajari Embun kuat lewat banyak cara, salah satunya  dengan perjalanan.

Buat kami, Bromo dan cerita-cerita kecilnya, adalah salah satu momen yang tidak terlupakan. Semoga tahun-tahun berikutnya kami diberikan waktu menciptakan momen-momen baru, membekukan waktu, dan berjalan lagi di tempat-tempat asing.

Selamat liburan!

/salam sayang untuk aneka drama di perjalanan

 

17 thoughts on “Membekukan Waktu Bersamamu”

  1. keren bangetttt, aq baru rencana 2 tahun lagi lah pengen ajak anak ke bromo, biar lebih gede dan tahu menikmati perjalanan di alam.

    kalau pergi gak ada dramanya gak seru juga mbak, gak ada ceritanya yang lucu2 bikin kesel

  2. huwaaa ketinggalan kereta? nyesek banget, mbak.
    dulu aku pernah begitu, zaman kereta belum seteratur sekarang. Jadinya bisa bayar tiket di atas kereta lain yang masih ada seat.

    btw, seru banget deh kondangan di Bromo *eh.

  3. Rereeee…, pas banget gw sekeluarga lagi ngerencanain perjalanan ke Bromo. Gw japri nanti nanya2 lebih detil yaaa..

    ahh suka banget baca artikel dan liat foto2mu, indahhhhh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *