Membuang Lelah ke Bandung

Minggu lalu saya mendadak merencanakan perjalanan untuk kesehatan jiwa dan raga ke Bandung. Saya tidak mampir ke tempat-tempat wisata tapi memilih makan, bertemu teman, karaoke di mal, dan tidur enak.

Kereta Argo Parahyangan mengantarkan saya dari Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung. Perjalanan hanya tiga jam lebih sedikit. Saya menikmati sekali bepergian dengan kereta api. Tempat duduk yang nyaman dan perjalanan bebas macet membuat kereta jadi pilihan pertama saat hendak berpindah ke lain kota.

Alasan lain mengapa memilih kereta adalah: saya pernah menghabiskan waktu 15 jam untuk perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta dengan bus. Sejak saat ini, jika mungkin, opsi bepergian dengan bus, jadi pilihan terakhir. Kurang paham juga apakah waktu perjalanan yang begitu lama terjadi karena ada proyek pembangunan di area tol Bekasi atau memang jalur Jakarta-Bandung sudah semacet itu sekarang. πŸ™

Tiba di Bandung tepat tengah hari, Imah Babaturan jadi tujuan. Saya sudah cukup sering mampir ke sini, mulanya karena rekomendasi @pashatama, lalu kemudian jatuh hati dan selalu berusaha mampir kembali kalau main ke Bandung.

Di Imah Babaturan, saya memesan tongseng kambing dan ketan kelapa. Keduanya adalah makanan kesukaan saya, dan Imah Babaturan berhasil membuat saya mengucap subhanallah pada tiap sendokan yang mampir ke mulut. Enak betul masakannya!

TADINYA TONGSENG KAMBING

Kalau lihat piring kosong begitu, yakin dong dengan klaim enak yang saya bilang di awal tadi. Seandainya tidak tahu malu, sisa-sisa kuah tongsengnya sudah saya jilat-jilat. *dududu

PENAMPAKAN AWAL TONGSENGNYA

Setelah sepiring tongseng, sepiring nasi, sepiring ketan kelapa, dan segelas es teh manis masuk perut, saya mulai tenang. Lelah yang saya bawa-bawa dari Jakarta mulai meluruh sedikit demi sedikit. Rasanya senang punya waktu untuk diri sendiri ya. πŸ™‚

Jika Imah Babaturan memfasilitasi liburan saya dengan kebahagiaan perut, teman-teman saya yang sudah jauh-jauh datang, memberi saya kebahagiaan batin.

Kang AipΒ dan Kang Jul sengaja berangkat dari rumahnya untuk menemani saya mengobrol.Β Topik obrolannya loncat-loncat semaunya. Dimulai dari zodiak, urusan perempuan-lelaki, urusan percintaan, urusan negara, harga minyak, kebiasaan generasi millenial, dan situasi zaman now.

Kapan terakhir kali kamu mengobrol lama sambil tatap muka dengan teman-temanmu?

aneka camilan teman ngobrol

Kami cerita ini-itu lama sekali. Saat Bandung hujan, lalu gerimis, lalu terang, kemudian gerimis lagi, dan lalu matahari mulai hilang. Waktu habis dengan cepatnya di Imah Babaturan. Waktu saya tinggal beberapa jam untuk bersenang-senang!

Sayang, Kang Aip tidak bisa menemani berlama-lama. Tinggal saya, Kang Jul, dan motor otomatisnya yang berlanjut mengarungi gelap dan riuhnya Bandung di akhir pekan.

Pada akhir pekan yang biasa, Bandung, bagian bumi yang kemungkinan lahir saat Tuhan sedang tersenyum ini dikunjungi sekitar 200 ribu wisatawan. Hari itu saya menjadi salah satu dari mereka. Saya berpindah dari warung kopi, lalu ke mal, dan berakhir di penginapan.

Seperti yang saya bilang di awal tadi, perjalanan ini saya lakukan untuk mengambil jarak dari rutinitas dan melepaskan lelah. Rasanya puas sekali saat perjalanan yang direncanakan mendadak itu berhasil mencapai tujuannya. πŸ˜€

Sebelum kembali ke Jakarta, saya masih sempat mampir ke Masjid Salman di Institute Teknologi Bandung dan ke Kapel Hati Kudus Yesus. Tidak ada alasan khusus untuk berkunjung ke dua rumah ibadah ini. Hanya ingin mampir saja sebentar. πŸ™‚

MASJID SALMAN

KAPEL HATI KUDUS YESUS

Saya meninggalkan Bandung siang itu tanpa Brownies Amanda dan Bolen Kartika Sari. Tanpa baju distro dan tas baru dari factory outlet kenamaan. Saya meninggalkan Bandung dengan kenangan pada makanan enak yang disantap di tempat, pada obrolan ringan yang tak tentu arah, dan malam dingin yang entah mengapa terasa hangat.

Terima kasih untuk semua yang membuat perjalanan menjadi mungkin. Bapak masinis, bapak satpam ojek online, tukang masak di warung, operator karaoke, dan pegi-pegi.com, tempat saya berbelanja tiket kereta dan penginapan. Semesta bekerja sama menciptakan satu malam yang sungguh berkesan.

Sampai jumpa lagi, Bandung!

/salam senyum

8 thoughts on “Membuang Lelah ke Bandung”

    1. Makanannya harus banyak biar ngobrolnya kuat! #eh

      Nah itu, kemarin ga sempet masuk ke dalam, nanti deh mampir lagi sekalian ibadah. πŸ™‚

  1. Emang kadang jalan2 itu bukan berarti harus berwisata. Ketemu teman, jalan, ngobrol2 gak jelas itu quality time banget. Dan bagi kitavdi Jakarta, Bandung emang pas untuk begini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *