MENANGKAL INTOLERANSI DARI DESA

Saya sering sekali dapat pertanyaan dan pernyataan dari keluarga nun jauh di kampung sana.

“Katanya internet ada berita tumbuhan yang bisa makan daging manusia. Benar ga ya?”
“Katanya mie ayam di warung sana mengandung bahan tak halal!”
“Katanya vaksin itu ga boleh, bahannya belum bisa dipertanggung jawabkan!”
“Bumbu mie instan kalau dimasak bisa bikin kanker!”

— dan lain-lain.

Syukurnya, keluarga masih mau tanya dan ga asal percaya dengan semua berita yang beredar di internet. Oh iya, yang dimaksud dengan internet di sini lebih ke media sosial (facebook dan whatsapp group).

Dua aplikasi ini sudah jadi teman hidup banyak orang. Setiap hari, penggunanya dapat asupan berita terkini dari dua media itu. Karena sudah kadung lekat, setiap tulisan yang beredar bisa jadi dianggap benar. Bukannya mencari fakta dengan mengecek media terpercaya, tapi malah menyebarkan tulisan ke banyak orang. Tulisan lalu menggelinding jauh, menjadi desas-desus dan bibit konflik horizontal.

Terdengar tidak asing, bukan?

Berita terbaru yang saya baca soal konflik horizontal ini adalah soal makam yang dibongkar dan dipindahkan karena beda pilihan calon legislatif. Bacanya saja saya sedih sekali, pandangan politik bisa membubarkan silaturahmi dengan yang hidup, itu kerap terjadi. Tapi ini lawannya orang mati, tidak bisa melawan.

Soal berita hoax dan intoleransi ini, saya mengutip omongan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakir saat menyampaikan materi dalam diskusi publik bertema “Politik dan Ancaman Intoleransi” di Balai Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (10/2/2019).

Amin bilang, hoax terjadi karena dipengaruhi tiga kondisi, yakni teknologi, psiko-kultural, dan politik. Teknologi memudahkan berita terdistribusi, sedangkan kondisi psiko-kultural dan panasnya politik membuat bara semakin merah.

Saya coba cari-cari definisi psiko kultural, dan nemunya ini:  orang dari budaya yang ber­beda menunjukkan cara yang berbeda-beda dalam kebanyakan aspek perilaku manusia. Setiap budaya berevolusi dengan cara khasnya masing-masing dalam berperilaku dengan gaya yang paling efisien untuk bertahan hidup.

Pendapatnya Mas Amin ini, diamini pula oleh Yenny Wahid, Co Founder Wahid Foundation. Yenny bilang, riset yang dilakukan lembaganya menemukan fakta kalau kasus intoleransi terus bertambah dari tahun ke tahun. Kasus intoleransi ini, katanya, adalah dampak dari berbagai bahasan soal keyakinan, agama, etnis, status ekonomi, dan pandangan/pilihan politik yang berkembang di masyarakat.

Punya pandangan hidup berbeda boleh ga? Ya boleh aja dong!
Mendukung capres yang beda? Apalagi itu, bebas aja, namanya hak.

Tapi berita-berita yang beredar bikin masyarakat berantem sendiri. Gimana dong?

Itu kerja berat sih, perlu dukungan dari semua orang. Mulai dari diri sendiri aja dulu. Kalau ada berita, coba jangan langsung sebar. Ambil waktu untuk tabayyun (mencari kebenaran) sebelum bertindak. Kalau faktanya ga ketemu? Ya biarkan pesannya berhenti di kamu. Jangan biarkan dia menggelinding tak tentu arah.

Saat ini banyak lembaga yang fokus menangani masalah intoleransi. Beberapa di antaranya adalah: Komnas HAM, Jaringan Islam Anti Diskriminasi, SETARA, dan yang terbaru adalah inisiasi Desa Damai oleh Wahid Foundation.

Seperti namanya, program desa damai yang dibentuk untuk mengadang intoleransi dan radikalisme ini dimulai dari lingkungan desa.

Kenapa desa? Karena intoleransi muncul dari lapis terbawah. Guru, petani, aparatur desa, semua terlibat. Tapi desa pula yang punya senjata untuk menangkal. Ada kearifan lokal, ada kedekatan emosional.

Sejauh ini, ada 30 desa yang sudah mulai terjangkau Program Desa Damai. Dari jumlah itu, 9 desa dan kelurahan sudah dideklarasikan sebagai Desa Damai, yaitu Desa Tajurhalang dan Kelurahan Pengasinan di Jawa Barat, Desa Gemblengan dan Nglinggi di Jawa Tengah, Desa Guluk-Guluk, Prancak, Payudan Dundang, Candirenggo, dan Sidomulyo di Jawa Timur.

Apa saja yang bisa bikin desa dan kelurahan tertentu disematkan sebagai Desa Damai?

Dalam buku Panduan Pelaksanaan 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai yang diluncurkan Jumat (9/2) lalu, tertulis apa-apa saja yang menunjukkan ciri-ciri desa atau kelurahan damai. Indikator tersebut yaitu:

  • Adanya komitmen dan aturan yang disusun dan dipatuhi bersama agar seluruh warga bisa hidup aman dan nyaman.
  • Adanya penguatan nilai perdamaian, kesetaraan, toleransi, dan keadilan. Nilai-nilai ini dikembangkan mulai dari tingkatan keluarga.
  • Adanya praktik nilai-nilai persaudaraan, kepedulian, dan toleransi dalam kehidupan warga.
  • Adanya penguatan nilai dan norma kearifan lokal. Tiap desa diminta mengembangkan kegiatan seni budaya yang berpotensi mengembangkan rasa gotong royong, toleransi, dan kepekaan sosial.
  • Pengembangan sistem deteksi dini untuk mencegah kekerasan, radikalisme, terorisme, dan konflik sosial.
  • Dibentuknya sistem penanganan cepat kasus intoleransi, termasuk penanggulangan dan pemulihan.
  • Adanya peran aktif perempuan di semua sektor masyarakat, termasuk dalam lembaga desa, sistem ekonomi, politik, juga pendidikan.
  • Adanya struktur yang dibentuk dan diberi mandat untuk memantau pelaksanaan desa dan kelurahan damai.
  • Terakhir, adanya ruang sosial bersama antarwarga masyarakat.

Saat peluncuran kemarin, ada pula  Gubernur Jawa Tengah, Mas Ganjar Pranowo. Masnya itu bilang, intinya begini, desa itu kan umumnya guyub, warga saling mengenal satu sama lain. Kelebihan itulah yang harus dipakai dalam menangkal segala berita/kejadian karena hoax atau sikap intoleran. Kedekatan emosional membuat warga bisa mendeteksi orang-orang yang masuk ke desa dengan niat buruk atau orang-orang yang menyebarkan fitnah tidak berdasar.

Buat saya, program yang dibikin Wahid Foundation ini keren sekali. Semoga setelah ini makin banyak desa dan kelurahan yang mau bergabung. 🙂

Lalu, sebagai pribadi, apa yang bisa kita lakukan? Setiap orang punya cara masing-masing. Saat ini saya mencoba mengenalkan soal keberagaman sejak dini pada anak. Kenapa anak? Karena sepuluh, dua puluh tahun ke depan, dunia akan dipimpin oleh mereka. Akan baik jika mereka punya pemahaman yang baik soal toleransi, rasa saling hormat, dan tenggang rasa.

Banyak cara agar damai tak hanya kata dalam kamus.
Yuk mulai dari kita!

Bareng Mba Yenny dan teman-teman blogger.

/salam damai

40 thoughts on “MENANGKAL INTOLERANSI DARI DESA”

  1. Keren programnya! Suka sedih kalau liat orang berantem cuma gara-gara salah satunya gak bisa toleransi sama yang lain 🙁

    Mudah-mudahan ke depannya kita semua bisa lebih perhatian dengan keadaan sekitar yah, soalnya kan kita hidup ga sendirian, dan di lingkungan pasti orang-orangnya punya latar belakang yang berbeda.

    1. #damainegeriku!

      Mohon maaf hanya mengingatkan.
      Sekadar waspada.

      Adalah alasan-alasan yang sering dipake penyebar hoax kalo dikonfrontasi langsung.

  2. 75% hoax disebarkan oleh orang tua 50 tahun keatas, jadi memang karena ketidaktahuan, dan ketidak inginan untuk mendapati informasi yg benar.. repot sih memang tp hrs berusaha.. minimal ga disebar kalau ga jelas (berenti di kita).

  3. Alhamdulillah dari kecil saya udah diajarin untuk bertoleransi. kebetulan di rumah ada beberapa tetangga non muslim. dari jaman SD kalo lebaran. udah disuruh anter makanan dan kue ke tetangga. sambil dikasih tahu, pentingnya toleransi keberagaman. untuk saling menghormati dan menghargai.

    dan tetangga yang non muslim di rumah pun juga demikian. Pas natal mereka akan balik kasih makanan ke rumah. oh ya, kalau lebaran mereka juga enggak segan keliling kampung datengin rumah ke rumah tetangga lainnya buat ikutan halal bi halal.

    suka banget liat suasana ini saya.
    yah, semoga kedepannya semakin banyak yang melek akan pentingnya toleransi dan urgensitas menyadari penangkalan berita hoax atau tidak mudah percaya terhadap isu2 yang masuk ke media sosial whtasapp. karena emang, wa/wag ini jadi sasaran empuk buat menebar hoax dan menjerumuskan untuk saling membenci.

    1. Duluuu, aku ngerasa kita bahagia dengan perbedaan. Teman sekolah teman rumah beda-beda ga masalah. Sekarang sudah sulit, kuburan maunya seagama, perumahan maunya seagama. 🙁

  4. Keren mba prigram begini. Aku tuh kalau dikampung, suka kasih tahu ke sodara berita mana saja yang hoax. Soalnya kebanyakan suka kena. Akhirnya suka aku kasih pengertian. Apalagi jelang pilpres seperti sekarang. Duuuh.

    1. Bener.
      Orang-orang banyak terpapar berita dari lingkungan kan ya. Kalau ga ada yang nyeimbangin dengan berita bener, akhirnya bisa berujung ke intoleransi tadi itu.

  5. Programnya keren banget ini.. setuju banget kalo kedekatan emosional membuat warga bisa mendeteksi orang-orang yang masuk ke desa dengan niat buruk atau orang-orang yang menyebarkan fitnah tidak berdasar. Semoga semakin banyak yang aware ya dan tidak terburu2 percaya dengan berita yang tidak benar

  6. Sama kaya mpo ding, di what app keluarga dan teman alumni suka menyebarkan berita HOAX.

    Inilah yang akan tergerak hati kita untuk mencari kebernaran berita lewat sumber yang akurat

  7. Betul itu toleransi memang harus diajarkan kepada anak-anak. Meskipun aku selalu mengajarkan tentang agama yang dianut juga mengajarkan pada dia bahwa tidak semua orang memiliki kepercayaan yang sama pun pola pikir yang sama.

    Thanks sharingnya Ka Rere…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *