Menarikan Canting di Tembi

Membatik adalah kerja tekun dan hati-hati. Saya beberapa kali mencoba, lalu memutuskan kalau membatik tidak diciptakan untuk saya, perempuan yang gemar bergerak gegap gempita.

Berkunjung ke Tembi untuk membatik adalah pengalaman saya yang entah keberapa kalinya bersentuhan langsung dengan kompor mini, canting, dan malam yang beruap panas. Saya tidak pandai membatik, dan sudah menyerah untuk bisa. Meski demikian, atas nama solidaritas, saya mengambil lagi selembar kain kosong untuk diukir dengan berbagai motif yang harusnya cantik.

Paham dengan pengunjungnya yang kebanyakan pemula, Tembi Rumah Budaya-tempat kami membatik kali ini, sudah menyediakan beberapa kertas bergambar untuk dijiplakkan ke kain polos. Motifnya cukup beragam, cantik, tapi tidak terlalu rumit. Cocok untuk calon pembatik profesional seperti kami.

Beberapa teman mengambil kain untuk disontek motifnya. Beberapa lainnya, salah satunya Nona Hannah, blogger manis asal Singapura, bertekad menarikan motifnya sendiri. Dan, tidak seperti saya, dia sungguhlah sukses sekali!

Membatik bukan pekerjaan gampang. Malam yang diisikan ke perut canting harus dialirkan pelan-pelan ke arah mulut dan ditumpahkan searah pola yang sudah digambar di atas kain. Kelihatannya mudah, tapi kesukaran muncul saat, malam yang ditumpahkan terlalu banyak, sehingga lilin berhamburan ke luar pola, atau saat lilin yang dituang terlalu tipis dan tidak tembus hingga belakang kain.

Masalah lain yang kerap terjadi adalah, cairan yang tidak turun dari ujung canting. Untuk yang ini biasanya terjadi karena kompor terlalu kecil/tidak menyala sehingga lilin menggumpal. Tetapi jangan khawatir, semua masalah ini bisa diatasi dengan jam berlatih yang tinggi. 🙂

Karena terlalu sibuk berpikir hendak menggambar motif apa, waktu yang saya punya untuk menggambar kain tinggal sedikit lagi. Waktu itu tidak akan cukup untuk menggambar bunga, binatang, awan, hujan, atau aneka bentuk lainnya. Saya lalu membenamkan canting dalam-dalam, menuangkan malam lewat ujungnya, dan menggambar nama. Begitu sudah. Begitu saja saya sudah senang. 😀

Kain yang sudah digambar ini, nantinya akan dikirimkan ke bagian pencelupan untuk diberi warna. Bagian yang tertutup lilin akan terlewat dari pewarnaan. Bagian itu nanti boleh dibiarkan tetap putih atau diwarnai kembali dengan warna lainnya.

Jika semuanya (warna dan motif) sudah pas sesuai keinginan, fase terakhir adalah menjemur batik. Khusus yang ini ada triknya, sebaiknya letakkan jemuran batik di tempat teduh, jangan terkena sinar matahari langsung agar warna tidak kusam.

ilustrasi menjemur batik, diperankan oleh model

Paket membatik dari Tembi Rumah Budaya ini tersedia setiap hari. Selain membatik, pengunjung rumah budaya juga bisa bermain gamelan/karawitan, melukis wayang, membuat kerajinan, belajar tari Jawa, membajak sawah, menanam padi,  ikut jelajah desa, bersepeda onthel, dan memasak dengan luweng (tungku). Aneka aktivitas dari Tembi, bisa dinikmati dengan biaya mulai Rp36.000/pax.

bermain gamelan

Jika punya waktu luang, kunjungan ke sini akan lebih asyik dilakukan sambil menginap di bale inapnya. Tembi punya banyak pilihan bale inap dengan biaya per malam mulai Rp420.000 – Rp999.000. Menariknya, tarif ini sudah nett, termasuk jemput antar ke Bandara, dan makan pagi, makan siang, makan malam, serta camilan dan teh pada sore hari. Menarik ya!

Sambil menginap, tamu bisa ikut aneka aktivitas yang disediakan. Hanya perlu jalan beberapa langkah ke tempat aula tempat kegiatan diadakan, tidak perlu repot-repot jalan ke luar penginapan untuk seru-seruan di Yogyakarta. Oh iya, Tembi juga menerima tamu untuk event besar. Silakan kontak langsung untuk info terkait biaya dan kegiatannya. 🙂

Tembi Rumah Budaya
Jl.Parangtritis km 8,4 Sewon Bantul Yogyakarta
☎️ 0274-368000
📱 0821-3402-1087

/salam jalan-jalan

Perjalanan ke Tembi bersama rekan-rekan blogger dan media ini dilakukan saat Famtrip bersama Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta (@ticjogjakota). Silakan cek postingan terkait acara dengan tanda pagar #hut262jogja #wonderfulindonesia #ayokejogja #wayangjogjanightcarnival #wjnc2018 #carnival #ticjogjakota

27 thoughts on “Menarikan Canting di Tembi”

  1. sepertinya seru kak kegiatan membatik, aq blm pernah nyoba soalnya, tapi sudah mikir kayanya bakalan gak jadi deh kalo aq yang membatik, mengambar aja gak jago kok apalagi harus pegang canting, hihihi

    enaknya wisata di jogja itu banyak pilihan yah, salahsatunya seperti di tembi ini, wisata budaya sambil jalan-jalan bisa sekalian memperkenalkan budaya indonesia bisa ke wna atau mungkin ke anak-anak

    tfs kak

  2. ku pernah ngebatik waktu kapan ya? pas SMP kalo gak salah, dan itu emang mesti fokus dan teliti banget. serunya itu kalo udah selesai trus kainnya dijemur sambil liat hasilnya. duh jadi ngerasa bangga ama diri sendiri hehehe

  3. Waaah seru banget Mba, aku belum pernah membatik tapi baca pengalaman dirimu di sini jadi penasaran pengen nyobain kok sepertinya seru dan melatih kesabaran hahaha.

  4. Sekarang lebih dikenal dengan Tembi Rumah Budaya. Dulu pernah main ke sana tp kami menyebutnya Desa Tembi. Memang menyenangkan aktifitas membatik, dan saya kagum dgn para pengrajin itu. Motifnya bagus2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *