Mengayun Jejak di Pulau Penyengat

Setelah lama mendengar dan lumayan penasaran tentang pulau yang dijadikan mas kawin untuk seorang puteri, akhirnya akhir April lalu saya dapat kesempatan datang langsung ke sana saat berkunjung ke Tanjungpinang.

salah satu rumah di Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat bisa diakses melalui plantar (pelabuhan) kuning yang lokasinya ada di dekat Jalan Pos. Jika kebingungan coba luaskan pandangan dan cari jembatan yang warnanya kuning terang. Masih bingung? Jangan ragu untuk tanya-tanya ke warga sekitar, pasti mereka akan menunjukkan jalan yang benar. 🙂

Plantar kuning, seperti namanya, berwarna kuning terang dengan hiasan ukir ala Melayu. Di kanan-kiri plantar kita akan menemukan banyak sekali motor yang diparkir. Motor-motor itu milik warga Tanjungpinang. Karena aktivitas sehari-hari mereka lebih banyak dilakukan di Tanjungpinang, motor diparkir inap saja di plantar, tak dibawa kembali ke pulau.

Dari plantar, Pulau Penyengat bisa diakses dengan pompong (perahu penumpang). Kapasitas pompong bervariasi tergantung besar/kecilnya perahu. Ongkos sekali jalan ke Pulau Penyengat Rp 7ribu, dan khusus untuk warga Penyengat ongkosnya spesial, cuma Rp 5ribu satu kali jalan.

pompong mengantri

Pulaunya dekat saja, sekitar 15 menit perjalanan dengan perahu. Setibanya di Pulau Penyengat penumpang bisa memilih hendak turun di dermaga 1 atau 2. Sebenarnya ada satu dermaga lagi di bagian lain pulau, tapi dermaga itu hanya digunakan ketika ada tamu/undangan khusus saja.

Kami diturunkan di dermaga 2, posisi paling dekat dengan Masjid Sultan Riau. Masjid cantik bernuansa kuning ini cukup unik karena proses pembuatannya menggunakan putih telur yang dicampur dengan bahan utama, kapur, pasir, dan tanah liat.

Masjid Sultan Riau dibangun oleh Sultan Mahmud pada 1803. Kemudian pada 1832 di masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VIII Raja Abdurrahman, masjid ini direnovasi. Bangunan utama masjid berukuran 18 x 20 meter yang ditopang dengan 4 buah tiang beton. Jika secara umum tempat mengumandangkan adzan ada satu di setiap masjid, di Masjid Sultan Riau tempat bilal (orang yang menyerukan adzan), ada di empat sudut bangunan.

Di Masjid ini ada 13 kubah yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah adalah 17 dan melambangkan jumlah total rakaat shalat fardhu lima waktu sehari semalam. Sejak dipugar pertama kali, tidak ada pemugaran lagi yang dilakukan. Hanya saat ini di bagian kiri dan kanan sudah ditambahkan bangunan kecil yang dinamakan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Rumah Sotoh ini digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan sosial, keagamaan, dan menyambut tamu.

Di dalam masjid terdapat dua buah Al-Quran tulisan tangan. Salah satu yang bisa kita lihat saat berkunjung adalah karya tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam. Sepulangnya dari belajar, Abdurrahman menjadi guru dan terkenal dengan “khat” gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar.

Keistimewaan Al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan “Ya Busra” serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya. Oh iya, total waktu yang dihabiskan buat menulisnya itu 29 tahun! Pas kemarin intip tulisannya, saya agak ga percaya itu ditulis tangan, rapi betul, mirip seperti cetakan pabrik. *kagum

Dari Masjid langkah bertolak ke gedung tabib. Gedung ini dulu digunakan untuk kepentingan pengobatan. Saat ini kondisinya jelang hancur.  Di bagian luar, bata merah jelang tertutup akar.

Lepas dari gedung tabib, barulah kami menuju makam pemilik pulau, Engku Hamidah.

Engku Putri Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Riau III, Sultan Mahmud Syah. Pulau Penyengat yang saya kunjungi adalah mahar (mas kawin) dari Sultan untuk Engku Hamidah (anak dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Riau IV). Pulau ini mulai digunakan sebagai tempat tinggal resmi Engku Hamidah sejak pernikahan mereka pada 1803 hingga beliau mangkat di tahun 1844.

Makam Raja Ali Haji, penulis Gurindam 12

Di komplek makam Engku Hamidah saya melihat makam Raja Ali Haji. Raja Ali Haji adalah seorang pujangga dan sastrawan pengarang Gurindam 12.  Gurindam karangan Raja Ali Haji ini bisa ditemui di dinding makam. Isinya adalah pesan, nasihat tentang hidup, pemerintahan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kehidupan. Ke-12 pasal dalam gurindam itu disarikan dari Al Quran yang dipelajari Raja Ali Haji saat menimba ilmu di Arab Saudi.

Masih punya waktu untuk berkeliling di Pulau Penyengat Sempatkanlah waktu sejenak ke makam Raja Haji Fisabilillah.  Raja yang namanya digunakan sebagai nama bandara internasional di Tanjungpinang ini semasa hidupnya pernah menyandang gelar yang Dipertuan Muda Riau IV (1777-1784).  Raja Haji Fisabilillah dikenal juga dengan nama Marhum Teluk Ketapang. Ayahnya, Daeng Celak, adalah Yang Dipertuan Muda Riau II.

Raja Haji Fisabilillah wafat dalam peperangan melawan armada belanda di bawah pimpinan Jacob Van Braam. Peperangan antara Raja Haji dan pasukannya melawan Belanda ini dikenal dengan nama Perang Riau dan dikenal sebagai perang bahari terbesar pada masanya. Sempat dimakamkan di Malaka, jasad Raja Haji kemudian dipindahkan oleh anaknya, Raja Ja’far (Yang Dipertuan Muda Riau VI, 1844-1857), ke Pulau Penyengat.

Karena kehebatannya saat berperang di lautan, pada Agustus 1997 pemerintah Indonesia menobatkan Raja Haji Fisabilillah sebagai Pahlawan Nasional dalam Perang Bahari.

Informasi soal makam-makam di Pulau Penyengat cukup jelas, hanya saja ada beberapa makam yang papan penunjuknya rusak. Jadi, saya sarankan menggunakan guide lokal untuk menemani berkeliling. Kemarin saya ditemui warga penyengat asli, namanya Bang Edy. Sila hubungi lelaki jangkung ini di nomor +62852-2669-1605, ya. ^^

Peninggalan dari Kerajaan Riau Lingga tidak cuma makam, ada beberapa tempat lain seperti Balai Maklumat, Balai Adat, Istana Kantor, dan Gudang Mesiu, yang bisa dikunjungi. Tanyakan kepada penduduk sekitar arah menuju lokasi ini agar tidak tersesat.  ^^

Pulau Penyengat ini kecil saja, hanya sepanjang 2.000 meter dan selebar 850 meter. Jalan-jalan di pulau sangat kecil, untuk transportasi lokal menggunakan becak atau motor. Becak, ojek, dan motor bisa disewa perjam di pelabuhan dengan harga Rp 25.000. Jangan khawatir kelaparan karena makanan banyak tersedia di sepanjang pelabuhan. Jika ingin bawa oleh-oleh, di warung juga banyak kue-kue khas yang bisa dibeli. 😀

Selamat jalan-jalan di Pulau Penyengat, untuk menghormati masyarakat setempat jangan lupa pakai pakaian yang sopan saat mampir ke pulau ini, ya. ^^

/salam jalan-jalan!

 

10 thoughts on “Mengayun Jejak di Pulau Penyengat”

    1. Mayoritas muslim melayu di Pulau Penyengat. Kalau Tanjungpinang cukup beragam, bebas aja asal ga berlebihan. 🙂

  1. Akhirnya bisa liat mesjid Sultan Riau. Hampir berlabuh kesana tapiii… karena sudah kesiangan dan tiba-tiba jadwal penerbangan mengalami perubahan terpaksa merubah agenda.

    1. Wahhh, semoga kesampean mampir segera ke sana, kak. Masjidnya memang ga megah, tapi bersejarah banget karena jadi salah satu peninggalan dari kesultanan. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *