Menikmati Pameran Seni Rupa di Museum Puri Lukisan

Berkunjung ke museum adalah cara lain menikmati Bali. Jenis museum yang ada di pulau ini kebanyakan memang museum seni rupa yang memamerkan karya seni lukisan, ukiran, dan patung. Minggu lalu saya berkunjung ke salah satunya, Museum Puri Lukisan yang merupakan museum seni rupa tertua di Bali.

Dari tulisan soal sejarah yang dipajang di dinding museum saya tahu kalau museum ini lekat sekali kehadirannya dengan seniman-seniman luar negeri. Nama-nama seniman seperti Miguel Covarrubias (Mexico), Walter Spies (Jerman), dan Rudolf Bonnet (Belanda) tercatat memotivasi seniman-seniman Bali untuk memelihara kualitas, melestarikan seni, dan sedikit banyak memengaruhi cara seniman bali menarikan kuasnya.

Museum ini berdiri pada tahun 1936. Tjokorda Gde Agung Sukawati, saudaranya Tjokorda Gde Raka Sukawati, pelukis tenar, I Gusti Nyoman Lempad,  Spies, dan Bonnet mendirikan suatu badan yang disebut Pita Maha. Tujuan dari Pita Maha tersebut untuk memberikan seniman Bali inspirasi dalam berkarya dan memelihara kesenian Bali. Museum Puri Lukisan adalah karya dari Pita Maha.

Dalam periode Pita Maha dan karena adanya pengaruh seniman Barat, seni rupa di Bali terbagi menjadi tiga aliran:

Aliran Ubud: Lukisannya naturalis dan realis. Subyek lukisan-lukisan biasanya kehidupan sehari-hari para petani dan upacara keagamaan. Beberapa pelukis yang diilhami Bonnet dan membuat karya-karya yang mempunyai bentuk yang mirip seperti yang ada dalam lukisan-lukisan Bonnet.

Aliran Batuan: Kebanyakan lukisan berisi lustrasi kehidupan desa seperti di Desa Batuan. Lokasi desa yang cukup jauh membuat pengaruh seniman Barat sulit masuk. Sebagian besar lukisan-lukisan dibuat dalam hitam dan putih menggunakan material tinta China dan kertas.

Aliran Sanur: Neuhaus bersaudara (Jerman) mempunyai aquarium dan art-shop di Sanur (saat ini toko sudah tidak ada lagi). Pelukis-pelukis yang berkumpul di sekitar toko untuk menjual karya-karya mereka lalu terinspirasi dengan kehidupan aquarium milik Neuhaus bersaudara. Inspirasi ini keluar dalam karya-karya mereka yang banyak melukiskan makhluk-makhluk laut dan bentuk-bentuk binatang.

Sempat surut sebentar, pada 1953, dibentuklah Yayasan Ratna Wartha. Yayasan ini meneruskan gagasan pelestarian budaya oleh Pita Maha. Kerja keras yayasan berlanjut dengan peletakan batu pertama oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 31 Januari 1954.

Selanjutnya, museum kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Yamin, pada 31 Januari 1956. Saat itu, Tjokorda Gde Agung Sukawati menjadi direktur museum sedangkan Rudolf Bonnet bertindak sebagai kurator. Koleksi-koleksi museum merupakan sumbangan para seniman. Selain itu, ada pula koleksi yang dibeli yang dananya berasal dari donasi.

pintu masuk museum

Museum ini terus berkembang dan saat ini di Museum Puri Lukisan telah ada 4 bangunan yang bisa dikunjungi:

  1. East Building sebagai Wayang Galeri yang berisi Koleksi Lukisan Wayang
  2. North Building sebagai Pitamaha Galeri yang berisi lukisan modern-tradisional Bali sebelum perang (1930-1945) serta koleksi karya I Gusti Nyoman Lempad
  3. West Building sebagai Ida Bagus Galeri berisi lukisan modern-tradisional Bali setelah perang dunia (1945-sampai sekarang)
  4. South Building sebagai Founder Galeri dimana berisi sejarah museum dan tempat exhibition sementara.

Saya sebenarnya tidak begitu paham soal lukisan. Namun, ketika berkunjung ke sana ada beberapa lukisan yang mampu menarik perhatian saya.

Rua Bineda di Bali, karya I Ketut Boko (1950-2004).
Tarian Barong di Desa, karya Ida Bagus Made Wija Ketut Boko (1912-1991).
Tarian Barong, karya I Gusti Made Kwandji (1936-2013).
Raja Pala, 1972, karya Ida Bagus Made Nadera (1910-1998)
Ngaben, karya Ida Bagus Made (1915-1999).
Mandala, 1975, karya I Dewa Nyoman Batuan (1941-2013).
Bima Berada di Pasar, karya I Wayan Reneh (1910-1976).

Tertarik berkunjung ke museumnya? Berikut beberapa informasi penting seputar museumnya:

Jadwal Buka Museum Puri Lukisan:
Setiap hari mulai pukul 09:00-17:00 WITA (tutup saat Nyepi).

Harga tiket masuk ke Museum Puri Lukisan:
Rp 85.000 untuk turis domestik (termasuk welcome drink).

Kontak Museum Puri Lukisan:
Phone: (0361) 971159
Fax: (0361) 975136
Email: info@museumpurilukisan.com

Alamat Museum Puri Lukisan:
Jalan Raya Ubud PO BOX 215
Ubud, Gianyar, Bali

/salam lukisan
Sumber tulisan: Indonesia Kaya dan papan informasi Museum.

Foto oleh @nickosilfido@ratrichibi, @atemalem.
Perjalanan bersama Nicko, Ratri, Winny, dan Leoni ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata untuk program Pesona Indonesia.

2 thoughts on “Menikmati Pameran Seni Rupa di Museum Puri Lukisan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *