Menitipkan Rindu

Ada hangat di hati, ketika
Kakiku terpaku di Mater Dolorosa
Kubayangkan kau pernah ada di sini
Memijakkan kaki, menurunkan tubuh
Lalu berdoa.
Maka, kucari jejakmu, kubaui udara, mencari harummu
Diam-diam mataku basah
Tuan, aku sungguh menginginkanmu.

Seperti anjing yang menandai wilayah dengan urine
Aku berkeliling.
Kemudian pada patung Bunda Maria yang bersedih
Sambil memangku jenazah Yesus
Degupku berhenti.
Aku mencintaimu sedalam itu, tak akan hilang
Bahkan jika kau pergi lebih dulu
Dengan seribu luka yang menetap pada tubuh.

Tuan, angin menampar rambut dan tubuhku di Mater Dolorosa
Sebagian kutangkap dan kubisikkan padanya rahasia
Soal rindu yang tak keruan
Soal sayang yang tak punya tanggal kedaluwarsa.
Bahkan saat menulis ini, aku masih bisa merasakan asin air mata
Yang tumpah saat lutut tertunduk di rumah doa.
Yesus, katakan padaku, bagaimana caranya menjalani hidup
Sambil menanggung rindu sekalut ini.

/ode rindu tak tahu diri

 

One thought on “Menitipkan Rindu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *