Ada Cinta di Merbabu

Aku suka naik gunung, tapi rasanya capek pek pek pek pek!” Embun mengeluh pada kami di tengah perjalanan mendaki Gunung Merbabu. Ini adalah kali pertama Embun naik gunung, dan jadi kali ketiga dia berkemah.

Pendakian sudah kami rencanakan berbulan sebelumnya. Tapi, lokasinya belum pasti. Awalnya hendak ke Gunung Merapi, tapi kemudian teman seperjalanan kami, sebut saja namanyaย Keluarga Lumen, memilih Merbabu. “Merapi gersang,” kata mereka.

Keinginan membawa Embun naik gunung dan bertualang di alam sebenarnya sudah lama muncul. Tapi apa mau dikata, banyak hal yang menggagalkan rencana. Waktu yang belum cocok, dana yang belum terkumpul, dan keberanian yang belum penuh sering jadi alasan.

Ketika akhirnya rencana ini jadi nyata. Saya adalah orang yang pertama kali bersorak! Rasanya bahagia tumpah ruah, dada saya mengembang. Kalau saja punggung tak terbeban ransel yang beratnya lumayan, saya pasti sudah melonjak-lonjak sepanjang jalan. ๐Ÿ˜€

Perjalanan menuju Merbabu kami awali dengan pra-ekspedisi kecil-kecilan. Agar tubuh Embun terbiasa dengan tidak nyamannya tenda, kami berkemah lebih dulu di Ranca Upas, Bandung. Selang dua hari dari Ranca Upas, perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Wediombo, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Sama seperti di Ranca Upas, di Wediombo juga kami memilihย tidur di dalam tenda.

Di dua tempat tadi, Embun ternyata cukup nyaman. Tidurnya lelap, makannya banyak. Karena sepertinya semua “akan” baik-baik saja, sehari setelah main ke Gunung Kidul, kami bersepakat meneruskan petualangan ke Gunung Merbabu.

Buya, Embun, Kakak (sepupu Lumen), Tante Lina, Lumen (ngumpet di bawah), dan Oom Sandal

Rencana awal pendakian kami serahkan ke Mas Yeni Setiawan aka Mas Sandal aka Opo-nya Lumen. Mas Sandal ini sudah berkali-kali naik Merbabu dan terakhir kali main ke sana itu sepuluh tahun yang lalu! Pendakian ‘berdasarkan ingatan’ ini kami mulai dari Basecamp Wekas.

Wekas yang merupakan salah satu jalur pendakian favorit ini ada di Kampung Kedekan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Dari penginapan di Jogja kami menjemput Lumen lebih dulu di rumahnya, lalu barulah dari sana bersama-sama menuju Magelang.

Perjalanan Yogyakarta-Basecamp Wekas makan waktu sekitar 2 jam. Sampai di Wekas kami mengurus izin masuk, mengatur ulang bawaan, dan mengurus parkir untuk kendaraan yang menginap. Setelah semua beres, kami leyeh-leyeh sebentar di basecamp, sempat sarapan nasi + mie + telur + teh juga. Oh iya, kalau pesan makanan harus sabar menunggu karena ibu yang punya rumah masaknya pakai tungku seperti ini. ๐Ÿ˜€

Tiket masuk dewasa: Rp 17.000/orang, anak-anak Rp 7.000/orang, parkir mobil Rp 10.000

Dari basecamp, pendaki akan disuguhi jalan paving block yang jalurnya menanjak tak ada ampun. Jalur ini semacam tak habis-habis dan cukup membosankan. Setelah berjalan yang rasanya seperti selamanya, di sebelah kiri jalan kami menemukan pemakaman, yang menurut warga, adalah makam leluhur desa.

Dari makam, kami melewati jalur paving block sedikit lagi, baru kemudian memasuki jalur hutan. Perpindahan jalur ini bikin Embun senang. “Buma, aku jalan duluan ya, nanti ketemu di atas!”

Lhaaa.. Emaknya ditinggal. ๐Ÿ˜€

Setengah perjalanan pertama, suasana hati Embun cukup terjaga. Bersama Lumen dia bercerita aneka rupa. Sayang, entah karena lelah atau tak berselera, Embun malas nyemil dan minum. Tenaganya cepat terkuras dan setengah sisa perjalanan menuju Pos 2 Gunung Merbabu jadi perjuangan panjang, bukan cuma buat dia, tapi juga buat kami.

Waktu istirahat yang tadinya maksimal lima menit, mulai bertambah. Embun butuh waktu untuk memulihkan tubuh, dan tentu saja kami menemani. Karena perjalanan jadi sangat lambat, sepertiga jalan terakhir, Lumen dan keluarganya berjalan lebih dulu ke lokasi berkemah.

Kondisi Embun yang makin lemah sempat bikin kami bingung. Saya sempat menawarkan untuk turun kembali ke basecamp, tapi anaknya menolak dan memilih naik terus ke atas.

“Tapi gendong,” katanya.

Nah, lhooo…

Karena saya sudah tak mampu menggendong Embun lagi, pilihan jatuh ke ayahnya. Demi Embun, kami bertukar beban. Saya membawa carrier dan ayahnya menggendong Embun di punggung. Beberapa kali, karena jalur cukup curam, ayahnya memilih naik lebih dulu dengan menggendong carrier, meletakkan tas di tempat yang aman, lalu turun lagi untuk menjemput dan menggendong Embun.

Kedengarannya lelah, ya.

Iya sih, tapi yang kami rasakan bukan cuma itu.

Perjalanan ini membuat kami sama-sama jatuh cinta. Sepanjang waktu istirahat, yang biasanya lama itu, Embun mengungkapkan harapan, cita-cita, permintaan maaf, dan rasa sayang yang tak habis-habisnya buat kami.

Saya, sepanjang dia bercerita, kebanyakan diam sambil mengusap kepalanya, lalu menangis diam-diam. Momennya indah dan rasa cinta saya meluap-luap, tak mau berhenti.

Embun belajar berjuang, berusaha tidak menyerah. Kami belajar mengekang harapan, berusaha sabar. Toh setelah perjalanan ini berakhir, Merbabu akan tetap tinggal di situ. Jika tak mampu naik kali ini, mungkin lain kali. ๐Ÿ™‚

Banyak waktu-waktu di mana saya dan Embun hanya berdua saja. Duduk manis menunggu ayahnya menjemput. Tidak ada pendaki lain yang lewat. Hanya kami, gemerisik daun, dan kabut yang turun perlahan. Udara mulai dingin, dan kami berpelukan tak putus. Lalu ayahnya tiba dan mata Embun bersinar-sinar.

“Terima kasih sudah menjemput, Buya. Maaf Embun bikin Buya lelah,” katanya sambil merangkul erat ayahnya.

Duh, bahkan saat menulis ini, air mata saya jatuh satu-satu. Saya tak bisa menjelaskan bagaimana tapi miriplah dengan rasa melihat anak pertama kali berjalan atau bicara. Di Merbabu, saya menyaksikan Embun naik satu tingkat. Berhasil berdialog dengan dirinya sendiri, memutuskan mencari titik akhir rasa mampu, dan belajar menerima konsekuensi dari keputusannya.

Merbabu jadi dua kali lebih indah.

Karena Embun.

Perjuangan Embun terbayar sudah di Pos 2. Jelang tiba dia turun dan berjalan sendiri ke area kemah. Semangatnya tumbuh lagi setelah mendengar suara Lumen yang memanggil-manggil. “Embun, sini ada dandelion! Embunnn..”

Pos 2 ada di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut, pos ini menjadi satu-satunya tempat dengan area luas dan sumber air untuk berkemah di Merbabu.

senja dari Pos 2 Merbabu

Kami berangkat pukul 10 pagi dan tiba pukul 4 sore di Pos 2, makan waktu sekitar enam jam. Normalnya jalur ini bisa ditempuh dengan tiga jam perjalanan saja.

Pos 2 tidak begitu ramai waktu itu, banyak pilihan tempat untuk mendirikan tenda. Setelah melihat-lihat sebentar, kami memilih area kemah yang sempit dan dikelilingi pohon agar bisa memasang hammock untuk Embun.

Jelang malam, Merbabu makin dingin. Saya menyerah, tak sanggup memasak, dan memilih masuk tenda secepatnya. Syukurnya tenda Lumen lumayan aktif masak-memasak, kami kebagian makan enak sambil selimutan. Terima kasih ya Tante Lina. ^^

Saya sulit sekali tidur, cuacanya terlalu dingin. Satu kantong tidur sudah dipakai Embun, tersisa satu lagi untuk kami berdua. Agar adil, kantong tidur yang harusnya disarungkan ke seluruh badan, kami buka lebar dan dijadikan selimut. Sayang teknik ini kurang mantap, sesekali selimutnya terlepas dan angin masuk dari sela-sela tubuh yang terbuka. Bhrr…

suhu rata-rata 6-8 derajat celcius

Masih gelap waktu tenda Lumen mulai berisik, pagi itu rencananya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Puncak Merbabu. Setelah diskusi sebentar, Embun menolak ikut dan saya menemani di tenda. Selamat jalan Buya, Lumen, Tante, Oom, dan Kakak.. ^^

Keputusan Embun ternyata tepat, sepeninggal tim menuju puncak, panas badannya meninggi dan sempat juga diare. Sebenarnya saya lumayan panik karena kami hanya berdua. Tapi karena Embun kelihatan tenang, saya memutuskan menunggu ayahnya tiba sebelum turun gunung.

menunggu di Pos 2

Pemandangan di Pos 2 cantik sekali.

Tim puncak ternyata pulang terpisah, Ayah Embun datang pertama, lalu disusul kakak, dan Lumen sekeluarga. Tenda kami sudahย selesai dibongkar, dan kami memutuskan jalan turun lebih dulu sebelum hari gelap.

Jalur awal turun Merbabu dari Pos 2
jelang malam saat turun Merbabu
senja di jalur turun Merbabu

Kami jalan lebih cepat ketimbang waktu naik. Sekitar satu setengah jam sejak jalan turun, pelan-pelan matahari mulai hilang dan langit berubah gelap.ย Embun memilih jalan turun sendiri dengan dipandu ayahnya. Saya jalan di depan sambil menggendong carrier.

Malam membuat kami memperpendek jarak, saya ada di depan mereka sekitar 2-3 meter saja. Embun memeriahkan suasana dengan menyanyi. Lagu Manusia Kuat dari Tulus jadi latar musik kami malam itu. Liriknya dan yang menyanyikannya, *peluk Embun* membuat kami bersemangat menuju basecamp.

Perjuangan Embun selesai sekitar 500 meter dari basecamp. Emosi saya meluap, dan saya berlinang. Selesai sudah. Akhirnya.

Embun mulai mengantuk dan bilang kalau dia lelah sekali. Ayahnya lalu menawarkan menggendong.

“Kalau sudah capek, bilang ya Buya,” katanya.
Di sini, giliran ayahnya yang menangis.

Terima kasih untuk keramahannya Merbabu. Terima kasih untuk perjuangannya Embun. Terima kasih untuk sabar yang tak terhitung, Buya. Terima kasih juga untuk cinta dan sayang yang mengalir tak terbendung.

Sampai jumpa lagi, Merbabu!

/salam gunung.

 

43 thoughts on “Ada Cinta di Merbabu”

  1. Tulisan Rere yang paling indah yang pernah kubaca.

    Dan aku iri gak sempat punya momen-momen seperti ini di masa kecil anak-anakku. You’re one lucky woman, Re! ๐Ÿ™‚

    1. Aduh, pujiannya bikin terbang, Mbok.
      Makasi lho, abis ini aku senyum-senyum ga mau berenti kayanya.
      Beruntung punya waktu dan kesempatan, Mbok. Semoga dikasi banyak waktu untuk begini-begitu bareng Embun.

    1. Aku masih bisa puter balik momennya di kepala.
      Terlalu berkesan semuanya.
      Embun yang hebat, bisa ngajarin kami jadi begini. ๐Ÿ˜€
      Makasi udah mampir sini, Kapiya. *kiss

  2. Kak Re, aku berlinang air mata baca ini. Manis sekali tulisannya.

    Embun, kamu mengagumkan. Tante Titi belum tentu sanggup sampai ke Pos 2 Gn Merbabu.

    Ah, baca ini aku jadi makin ingin lihat Merbabu!

  3. Huhhuhuhuhu air mataku menetes Kare pas baca ini. Sungguh, aku berdoa bisa punya anak semanis dan sebijaksana Embun kelak. Semoga Embun sampai dewasa masih senang mendaki gunung yaaaa…. <3

    1. Embun ketemu dirinya yang lain di Merbabu, Sat.
      Semoga masih terus senang gunung dia, dan semoga Taman Nasional akan terus baik-baik saja, sampai nanti dia besar. ๐Ÿ˜€
      Makasi udah mampir ya. ^^

    1. Hai Kak, anakku cuma satu. Satu lagi anaknya temen. ^^
      Anak-anak ya gitu, sama kaya kita. Kadang kecapean, tinggal istirahat aja. ๐Ÿ™‚
      Thx udah mampir, ya.

  4. argghhh, aku sukaaak banget artikel ini.
    sepakat dengan yang dituturkan mbok Venus, ini INDAH banget, cerita humanisnya, pemandangannya, dll.

    Kelak Embun bakal jadi manusia dewasa yang tangguh.

  5. wah seru ya bisa naik gunung bareng keluarga jadi mengakrabkan hubungan orang tua dan anak dan anak lebih bisa menghargai lingkungan ๐Ÿ™‚

    1. Iyaa, yang kemarin numpang Om Satto. ^^
      Makasi ya udah boleh duduk enak kena AC di mobilnya. ๐Ÿ˜€
      Makasi doanya, aminnnnnnnnn.
      Doa yang sama untuk Om Satto dan Tante Wawa. ^^

  6. Hwaaaa, aku ikutan meweeeek jadi nangis juga… Ini impian aku dan suami banget untuk ajak anak2 naik gunung. Hanya saja belum tercapai hingga saat ini. Doakan yaaa semoga bisa seperti Embun yang berani naik gunung dan pantang menyerah…

    1. Aku juga nunggu anaknya agak gede, Mba. Mastiin dia bisa diajak komunikasi dan bisa ngomong kalau badannya kerasa kurang enak. ๐Ÿ™‚

  7. Embuuuunnnn kamu hebat sekali. Mbaaaa aku bacanya sampe berkaca2 nih. Gila ya! Aku ngebayangin perjuangan embun. Aku aja pasti udah megap2 itu.

    Daaann, foto2nya masyaAllah indah banget. Banget!

    1. Iya Mba, meski ga sampai puncak, tapi prosesnya dia dalam perjalanan udah bikin aku bangga sekali. Senang punya kesempatan ngajak dia mendaki, mungkin satu waktu nanti akan diulangi.

      Merbabu memang indah banget, katanya di puncak jauh lebih indah lagi, lho. Sayang kemarin aku ga naik sampai atas, semoga ada kesempatan balik lagi.

  8. Wah, luar biasa perjalanan bersama sekeluarga. Kenangan di Merbabu yang membut cinta dan kasih sayang keluarga meningkat. Salm buat Embun, yang keren sampai di Merbabu.

  9. Cakep tulisanmu, Re ๐Ÿ™‚
    Emang sedini mungkin ya mengenalkan anak kepada keindahan alam, seperti kek gini. Keren lah Embun, tough ya, ga mudah menyerah ๐Ÿ™‚
    Semoga ada cerita perjalanan ke gunung bersama Embun yang ke-2, 3, dst ๐Ÿ™‚

  10. Keren semangat anaknya mbak. kalau naik gunung belum pernah ngajak anak, tapi pas ke air terjun yng mana menuju lokaisnya harus turun dan naik, anak saya pernah minta jalan sendiri dan kuat dia.
    Jadi pengen ngajakin dia naik gunung, tapi adiknya masih kecil “D

    1. Tunggu yang kecil agak besar aja, Mba.
      Jadi bisa jalan rame-rame, deh.
      Eh, aku malah belum pernah bawa ke air terjun, akunya agak takut air. hehehhe

  11. Aaah aku mewek bin iri. Huhu jaman kecil aku pengen naik gunung, apa daya gak ada yang nemenin. Giliran udah nikah, suamiku bukan tipe yang suka alam….niat mendaki tinggal babay….

    Embun, tetap semangat menebar cinta yaa

    1. Yang penting salah satunya ada minat, Kak. Bisa ditularkan kok.
      Eh, gimana kalau dimulai dengan kemping cantik dulu? Mungkin lebih bisa diterima sama semua anggota keluarga. Kalau langsung nge-gunung bisa jadi kaget gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *