Rezeki Mudik Gratis

Saya kenal yang namanya mudik sejak pertama kali meninggalkan rumah di tahun 2001. Waktu itu kuliahnya di Medan, Sumatera Utara, dan selalu pulang ke rumah orang tua di Lampung setiap libur Lebaran. Ga pernah absen.

Mudiknya selalu dengan bus, karena ongkos pesawat terlalu mahal buat saya plus ga ada penerbangan langsung dari Medan ke Lampung. Kalaupun memaksakan diri naik pesawat, saya harus bayar tiket dua kali, Medan-Jakarta dan Jakarta – Lampung. Manalah tega minta uangnya ke orangtua, kan!

Karena saya bersuku Batak Karo, dan  karena mamak dan ayah cukup kental kesukuannya, waktu cari bus mereka selalu berpesan, “Naik Medan Jaya aja, orang Karo semua sopir dan kernetnya, biar aman. Nanti kalau udah naik, langsung bilang kalau Santi (nama panggilan di rumah) orang Karo juga, biar dijaga sama mereka.”

Hehehe.

Mereka ternyata khawatir juga saya kenapa-kenapa di jalan. Jadi saya disuruh menitipkan diri pada pak supir dan kernet. Sebagai anak yang patuh, tentu saja kalau ada waktu dan kesempatan, saya jadi ngobrol dengan pak sopir/kernet, biar aman di jalan. Sesekali, karena saya jalan sendirian, dan mungkin kelihatan kesepian, pak sopir ngajakin saya makan di mejanya bareng-bareng. 😀

Medan-Lampung itu jauh, makan waktu 36-48 jam perjalanan darat, termasuk istirahat 3 kali sehari. Istirahat pagi yang paling kilat, cuma cukup untuk buang air/mandi cepat, dan beli makanan bungkus. Istirahat siang dan malam cukup lama, sempat mandi yang bener, makan di meja, plus santai-santai minum teh susu.

Petualangan dengan bus ini selesai di tahun 2005 karena per 2006 saya lulus dan pindah ke Jakarta. Awalnya, saya pikir, pindah ke Jakarta akan melegakan. Jakarta – Lampung cuma delapan jam perjalanan darat + laut. Artinya, perjalanan menuju rumah orang tua cukup pendek, ga perlu ganti baju, ga perlu mandi di rumah makan.

Ternyata saya salah, dong! Di sini barulah saya mengerti esensi mudik yang sebenarnya. Kalau di Medan saya cukup santai pesan tiket bus, rame, tapi selalu dapet tiket. Nah, kalau di Jakarta, saya harus berjuang habis-habisan karena mesti antri tiket dari jam 2 pagi di gambir padahal loketnya baru buka jam 7-8 pagi.

Kebayang kan? Mas-mas dan mbak-mbak cantik pake baju kantoran, ngantri sambil duduk beralas koran, sahur pake bekal dari rumah, melamun sambil berharap loket buka lebih cepat, yang harapannya sia-sia, karena tentu saja loket akan buka tepat waktu. Setelah antrian panjang, beli tiket, cuci muka, pengantre lalu berpisah, naik metro mini ke kantor masing-masing. Ini yang namanya perjuangan demi mudik. *iket kepala

Anw, sampai sekarang saya masih menyesalkan sistem pembelian tiket Damri, kenapa ya mereka ga bikin ticketing online untuk memudahkan. Jadi antrinya cukup di laptop aja, ga perlu nongkrongin Gambir dari pagi buta. Oh iya, kalau ga kebagian tiket Damri, ada jalan lain menuju Lampung, selengkapnya bisa cek di link ini, ya.

Kalau pulang di arus mudik, waktu yang dihabiskan tentu saja beda dengan waktu normal. Terparah saya menghabiskan waktu 20 jam perjalanan, normalnya delapan jam, untuk mencapai Lampung. Mesti siap lahir, batin, dan duit jajan yang banyak! 😀

Tapi, gimanapun, saya masih cukup bersyukur bisa pulang, ketemu orang tua, yang makin ke sini frekuensi ketemunya makin jarang. Tuntutan hidup dan segala macam cicilan ini sungguh menciptakan jarak dari kampung. Maaf ya Mak, sabar sebentar, beberapa hari lagi kita jumpa. 🙁

Hubungan saya dengan Lebaran dan mudik ini semacam love and hate collide. Suka banget bisa ketemu orang tua, kakak, adek, keponakan. Tapi jalan ke sananya itu cukup banyak menguras tenaga, waktu, dan biaya. Kalau bisa memilih saya lebih suka ketemu mereka di waktu lain, dengan situasi jalanan yang lebih lengang, juga harga tiket dan waktu tempuh normal.

Tentu saja ga boleh mengeluh, ya. Bersyukurlah kita yang punya dana buat mudik. Karena banyak banget orang yang pingin ketemu keluarganya. Pingin banget, tapi beneran ga ada dana buat mudik. Kita bisa setahun sekali pulang, mereka perlu waktu lebih lama untuk nabung tiketnya. 🙁

Setelah ada uang beli tiket, masih ada risiko lain yang membayang, sempit-sempitan di jalan, banyak juga yang terpaksa berdiri di bus karena ga kebagian tempat duduk. Tapi, biar begitu, tetap aja semangat mau pulang karena sudah terbayang wajah-wajah yang bikin rindu kampung halaman.

Buat orang-orang yang ga kebagian tiket, walaupun dananya ada, masih ada jalan untuk pulang, yaitu dengan memanfaatkan agenda mudik gratis dari perusahaan.  PT Sido Muncul, perusahaan jamu ternama yang pusatnya di Ungaran, Jawa Tengah, adalah salah satu perusahaan yang konsisten selama 28 tahun mengadakan kegiatan mudik gratis.

diberangkatin sama Pak Djarot!

Pak Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul kemarin bilang, awalnya mudik gratis ini diadakan tahun 1991 untuk membantu para pedagang jamu agar lebih mudah mudiknya. Waktu itu ada 17 bus yang disewa untuk mengangkut 1200 pedagang jamu.

Kemarin, Sabtu 17 Juni, di pelepasan mudik gratis ke-28 kalinya, total pemudik yang diangkut jadi 15.000 orang dengan 260 bus! Tujuannya ke tujuh kota, yaitu Cirebon, Kuningan, Tegal, Banjarnegara, Solo, Wonogiri, dan Jogjakarta. Jumlah itu, iya jumlah pemudik yang banyak itu, katanya berkurang dari tahun lalu, karena kondisi ekonomi pedagang jamu membaik dan makin banyak perusahaan yang menyelenggarakan mudik gratis. ^^

Dengan bus, artinya lewat jalan darat, dan ada potensi kena macet. Semoga semua pemudiknya sehat-sehat sampai di tujuan, yaaa. Aminnn..

Sekalian deh, ini ada tip dari saya buat teman-teman yang mau menjajal mudik lewat jalan darat. Tip ini disarikan dari pengalaman mudik dengan kendaraan pribadi, rute Jakarta-Medan tahun lalu. Semoga bermanfaat.

  1. Bawa stok air yang cukup di kendaraan. Jangan sampai kehausan dan dehidrasi.
  2. Istirahat jika lelah. Tak perlu memaksakan diri, tanggal Lebaran ga akan maju kok.
  3. Makan yang cukup, kurangi nasi putihnya karena berpotensi bikin ngantuk.
  4. Selalu pastikan bensin terisi. Isi penuh ketika sudah kosong setengah. Meskipun sekarang udah banyak pom bensin, tapi berjaga-jaga ga ada salahnya.
  5. Bawa obat-obatan kaya antimo untuk jaga-jaga (saya bawa dua, antimo anak dan dewasa), minyak angin aromaterapi, plus Tolak Angin dan Tolak Linu sachetan Sido Muncul.
  6. Pastiin kondisi kendaraan prima. Cek di bengkel kalau perlu, daripada nebak-nebak eh terus ada kerusakan di jalan.
  7. Bawa koleksi musik, buku bacaan, cemilan favorit.
  8. Berdoa supaya diberi keselamatan di perjalanan.

Segitu aja dari saya. Semoga teman-teman yang akan mudik bersenang-senang dan diberikan kesehatan sampai tiba lagi di rumah masing-masing, ya.

Selamat Lebaran. ^^

/salam mudik

8 thoughts on “Rezeki Mudik Gratis”

  1. Loh ternyata orang Lampung ya haha.

    Aku ngebayangin itu antre dari jam 2 pagi, luar biasa perjuangannya. Kalau sekarang udah lebih mudah, pesawat dan kereta bisa beli online (walau kalo ke Lampung ya mesti naik bus ya).

    Selamat mudik! Sido Muncul ini emang keren, udah dari tahun kapan kasih mudik gratis. Lope!

    1. Iyaaa, sesama orang Sumatera mari kita salaman dulu, kakak…
      Hooh, ke Lampung bisa sih naik pesawat sekarang, lebih cepat sampainya, ga sampe sejam. Sampe rumah orang tua, dijamin parfum masih kecium. hahahha

    1. Mudiknya deket ya, enak dong ga perlu cari tiket dan akomodasi. Iyaa, itu Sido Muncul bae ya, seneng liat pemudik yang bisa mudik ga pake bayar. Selamat lebaran ya, Mba. Mohon maaf lahir batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *