Ngopi di Banda Aceh Coffee Festival 2016

Pekan kemarin adalah kunjungan saya ke Aceh yang ketigakalinya. Kali pertama, saya mampir bersama teman satu organisasi mapala untuk ikut lomba susur hutan. Kali kedua kunjungan masih bersama teman-teman mapala, tapi bukan untuk senang-senang melainkan menyalurkan bantuan logistik pasca tsunami melanda. Tsunami. Sembari mengetik ini saya teringat pemandangan yang memilukan, orang sakit, gempa susulan, tenda darurat. Ahh..  🙁

Cukup sudah cerita sedih, sekarang saya mau cerita soal Banda Aceh Coffee Festival 2016 yang digelar di Blang Padang, Banda Aceh, 10-12 Mei 2016 kemarin. Festival kopi ini merupakan salah satu agenda rutin tahunan dari pemerintah daerah. Jika sebelumnya Festival Kopi dihelat terpisah, tahun ini, di waktu dan tempat yang sama, sekaligus dilangsungkan juga Festival Kuliner Aceh.

Kopi, makanan enak, pertunjukan musik. Selama 3 hari, warga Banda Aceh berduyun meramaikan Blang Padang hingga tengah malam.

festival kopi 1

Tiga hari penuh, mulut saya dimanjakan dengan sensasi asam dan pahit Kopi Arabika Gayo, yang jadi juara pertama tingkat nasional dalam acara lelang kopi oleh Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) di Bali, 10 Oktober 2010 lalu.

Ada ilmu baru yang saya dapatkan di festival. Meski namanya sama-sama Arabika Gayo, tetapi rasa dan varietas kopi yang dihasilkan bisa berbeda. Jenisnya bisa puluhan! Untuk membuktikannya, saat mencicipi kopi gayo di festival kemarin, saya dan dua teman lain memilih kopi dengan varian dan rasa yang berbeda di booth Kaffa Kopi.

kopi aceh

festival kopi 2
kopi pilihan saya, Arabika Gayo Premium kode A2,

metode v60 v60

Kopi pilihan kami diseduh dengan metode V60. Disebut V60 karena kertas seduh untuk pelapisnya berbentuk kerucut dan kemiringan gelas seduhnya 60 derajat.

Satu hal yang saya pahami saat di Aceh, ngopi di kota serambi mekah itu bukan perkara gaya-gayaan. Ngopi adalah tradisi, dikenalkan sejak dini. Seorang teman bilang anaknya sudah mulai mencicipi kopi di umur 2 tahun. Luar biasa!

salah satu booth di Festival Kopi
salah satu dari 25 booth di Banda Aceh Coffee Festival 2016
aneka kopi gayo yang sudah diberi label
aneka kopi gayo yang sudah diberi label

Bicara soal penyeduhan kopi, saya melihat metode penyeduhan kopi gaya lama alias kopi saring sangat diminati di sini. Meski begitu, gaya seduh kopi dengan berbagai macam gaya seperti French press, V60 dripper, Filter, Espresso, Syphon, Aeropress, dan Moka juga cukup digemari.

coffee maker

Tidak hanya gaya seduhan, gaya gongseng (roasting) kopinya pun bisa berbeda.

biji kopi

Teman saya, Fonda, yang cukup lama belajar soal kopi dan boothnya ikut mejeng di Festival Kopi, bilang, meskipun menggunakan biji kopi yang sama, cara roasting dan seduh akan memengaruhi rasa. Mana yang lebih baik, tergantung selera. 😀

Kalau saya, sedang senang-senangnya menikmati kopi dingin alias Cold Brew dan Cold Drip. Kamu suka kopinya bagaimana?

cold brew

/salam kopi gayo!

NB: Ini tulisan pertama dari rangkaian tulisan soal Aceh.

6 thoughts on “Ngopi di Banda Aceh Coffee Festival 2016”

  1. Kemarin aku mencoba kopi Gayo di Anomali Coffee, entah kenapa aku suka. Biasanya nggak pernah mau karena aneh di bibir. Kemarin, benar2 habis secangkir. Jadi ketagihan, tapi mbuh apakah di semua tempat bakal menghasilkan sensasi yang sama

  2. Baru mampir nih. 😀 Huaa kemarin itu aku kelewatan ngopi-ngopi karena bekerja di hotel. Btw, kopi Acehmu masih ada kah? Semoga kita bisa trip bareng lagi Reee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *