Nostalgia Mapala

Saya kenal gunung-gunungan waktu kuliah, waktu es-em-a saya ini semacam anak baik yang kerjanya sekolah, les, sesekali ikut ekstrakurikuler, sesekali main sama temen. Anak rumahan banget pokoknya.

Nah, pas kuliah dan jauuuhh dari rumah, saya mulai kepikir buat ikut segala macem, salah satunya daftar ke Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (KOMPAS). Pilihan yang membahagiakan, karena saya dapat temen baik yang cukup banyak, meski ga dapet pacar sih ya. 😀

Pengalaman mendaki gunung saya dapatkan setelah gabung ke KOMPAS. Lucunya, saya naik gunung bukan karena ada kegiatan KOMPAS karena toh mereka lebih seneng susur hutan dengan peta dan kompas ketimbang naik gunung yang ada jalurnya. Anw, saya naik ke Gunung Sibayak dan Sinabung dengan teman satu kos/satu fakultas.

Pengalaman naik gunung terakhir saya itu ada di tahun 2003an, bareng Indah, pacarnya, dan satu cowo yang rencananya mau dijodohkan ke saya, tapi ternyata setelah perjalanan panjang naik gunung dia ga tertarik sama saya, jadi naik dan turun gunung saya tetap jomblo. Oke, skip bagian ini.

Intinya, udah lamaaa banget saya ga naik gunung. Sejak pindah ke Jakarta buat kerja dan nyari jodoh, saya jadi sok sibuk, kenalan baru, kerjaan baru, ritual pindah kos, begitu aja terus berulang, sampai tiba-tiba udah 13 tahun kemudian.

Saya agak-agak kaget sebenernya, segitu cepat waktu berjalan sebelum saya sempet mewujudkan banyak rencana, salah satunya itu naik gunung 3 S (Slamet, Sindoro, Sumbing). Mau mulai lagi kok saya keder, takut, badan ga pernah dibawa susah sekian lama, kalau kata orang sekarang, L E M A H.

Karena cukup paham kalau naik gunung itu kegiatan yang berisiko tinggi, saya memutuskan untuk siap-siap, salah satunya dengan olahraga. Sempet ikut gym 6 bulan tapi ga nerusin karena mayan modalnya, sisanya palingan saya ikut lari-lari lucu.

Kalau lagi ga mau lari, saya usahakan jalan kaki yang banyak. Sebisa mungkin saya jalan kaki ke mana-mana kalau lokasinya masih terjangkau, kalau bawaan ga berat-berat amat, plus kalau cuaca mendukung. Halah, alasannya banyak amat, yak! 😀

Ya, intinya gitu, kemarin sempet ikutan trail run juga, sempet naik tebing parang via ferrata juga, demi fisik yang lebih strong, supaya kuat naik gunung lagi.

Trail Running di Gunung Cisadon
tebing parang via ferrata

Balik lagi soal mapala. Selama dua tahun aktif di KOMPAS, saya belajar beberapa hal, semisal:

  1. Jangan remeh sama gunung/hutan/tebing dll. Tiap lokasi punya karakteristik masing-masing, kenali sebelumnya.
  2. Jangan abaikan kondisi fisik (ini berkaitan dengan postingan saya berikutnya, tungguin yaaa)
  3. Persiapkan perjalanan beberapa hari sebelumnya. Mepet-mepet memang asyik, tapi kalo ada barang ketinggalan ribet, kak.
  4. Latihan fisik sebelum berangkat itu wajib!
  5. Ngobrol dulu sama teman seperjalanan. Kalau kita punya kekurangan diinfokan, supaya bisa saling menutupi.
  6. dan lain-lain

Oh iya, karena masih nyambung, saya mau komentar dikit soal isu MAPALA UII itu. Setiap organisasi pasti punya acara penyambutan untuk anggota baru, untuk mapala, bentuknya pendadaran. Dulu kami juga lewat fase itu, hampir seminggu kalau ga salah ingat. Materinya cukup padat, ada susur hutan, tali-temali, ada survival juga.

Survival ini yang paling berat, kami dilepas cuma berbekal beberapa barang, yang saya ingat itu, ponco (jas hujan), matras, tali, sedikit potongan sendal jepit, sedikit garam, parang (golok),  ada beberapa barang penting lain, tapi saya lupa. Salah satu teman grup saya itu namanya Remondias. Beliau ini, sejak 2002 saya nyatakan sah dilepas di hutan sendirian. Kalau saya memilih puasa sepanjang survival (tentu aja ini menyalahi esensi kegiatan survival itu sendiri), beliau memilih makan apa aja yang kelihatannya bisa dimakan.

Memori paling jelas itu waktu beliau memecahkan batang kayu tua dengan parang, trus menangkapi binatang-binatang putih yang menempel di dalamnya. Tentu saja bukan untuk dipelihara, tapi untuk dimakan.

Saya? Uhm, nggak, saya masih kenyang. 😐

teman-teman satu angkatan di KOMPAS

Tapi, semengerikan apapun kegiatan mapala, seingat saya ga pernah ada satu pun diantara kami yang kena hukuman fisik secara langsung. Hukuman tentu saja ada, tapi bentuknya hukuman olah tubuh semacam push up dan skot jump. Cape sih, tapi kecuali luka-luka macam kena sabetan pohon duri, digigit pacet, atau blister parah di kaki, ga ada cedera lain yang saya dapat sepanjang kegiatan.

Mapala yang saya kenal cukup santun, anaknya baik-baik. Keras tapi penyayang. Lelah tapi bikin kangen. Capek tapi bahagia. Kalau sampai ada kekerasan, pastinya ada yang salah. 🙂

Udah-udah, segitu aja nostalgia soal mapalanya. Tadinya tuh, saya sekalian mau cerita soal pengalaman naik gunung (lagi) setelah 13 tahun cuti. Tapi kayanya bakal kepanjangan, jadi saya ceritain di postingan setelah ini aja, yaa. 🙂

/salam gunung-gunungan

8 thoughts on “Nostalgia Mapala”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *