Obat untuk Rindu

Kepada Tuan, Nona sudah menuliskan banyak tulisan rindu. Seperti yang kalian tahu, tak satu pun terbalas. Tuan terlalu tegar dengan tidaknya, dan Nona terlalu dalam dengan harapnya.

Sebenarnya Nona mengerti, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dipaksakan. Salah satunya arah hati. Tapi, bahkan sekadar mengaburkan wajah Tuan dalam ingatan pun, Nona tak bisa.

Melupakan itu pekerjaan yang paling sulit. Pada satu waktu Nona memutuskan tidak menyebut, menulis, melihat gambar, atau mendengar suara Tuan. Namun, Nona gagal.

Kali lain, Nona mencoba merelakan ketidakmampuannya memiliki Tuan dengan bercerita. Ratusan kalimat sudah Nona ciptakan. Itu pun, gagal.

Sampai sekarang Nona masih berlatih melupakan.
Melupakan dengan membiarkannya hadir.
Melupakan dengan merasakan sakit.
Melupakan dengan mengingat satu, dua, puluhan penolakan.
Melupakan dengan menyadari, kadang yang paling diinginkan adalah hal yang tidak bisa didapatkan.

Nona menuliskan semuanya untuk Tuan. Cinta, perih, sayang, sakit hati, ingin, hasrat, ingatan, harapan, juga dendam. Walaupun, setiap kali menuliskan rindu, akan ada yang berbisik pada Nona.

“Obat rindu adalah bertemu,” kata mereka.

Sayangnya, pertemuan antara Nona dan Tuan hanya mungkin terjadi dalam tulisan.

NONA-TUAN-NONA-TUAN.

Kenyataannya begitu susah.
Nona sudah menyembah.
Tuan punya keputusan tak mau patah.

/ode rindu nomor lima ribu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *